Hujan masih mengguyur kota Welis. Beberapa tanaman bersenandung mengalunkan sebuah lagu kematian. Kematian untuk ajal yang akan menjemput seseorang. Betty melangkahkan kakinya menghampiri lemari es.
"Oh iya Netty, kau kenapa sudah pulang?" tanyanya sambil menuangkan minuman bersoda ke dalam gelas anggur.
"Di luar sana hujan, aku tidak ingin jika seragamku basah." Netty membuang muka untuk menghindari kakaknya.
"Oh itu alasannya. Jadi, sekarang berangkatlah sekolah. Untuk apa aku bekerja tetapi kau tidak memamfaatkannya dengan baik." Betty meneguk minuman soda-nya.
"Sekarang sudah jam 10 kak, aku sudah terlambat."
"Aku tidak peduli. Sekarang cepat pergi ke sekolah! Aku yakin, pihak sekolah akan mengizinkanmu masuk. Kau bisa saja beralasan untuk tidak terkena hukuman, aku sering melakukannya dulu."
Betty berjalan mendekati Netty yang sedang berdiri di dekat pintu. Dia mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya dan memberikan beberapa lembar uang untuk Netty.
"Hanya satu dolar?" ucap Netty ketus tetapi mengambil uang yang Betty sodorkan.
"Cukup untuk pulang-pergi." Betty meneguk minuman soda-nya. "Cepat pergi...." Betty mendorong Netty ke luar apartemen dan menutup pintu.
Nettu yang saat itu sedang terdesak berulang kaki memukul pintu namun Betty tidak membukanya. Dia pun menekan bel berulang kali dan membuat ruangan Betty ramai dengan suaranya. Tetapi apa yang dilakukannya hanyalah lelucon bagi Betty. Kakanya tidak membuka pintu atau menawarkan Netty untuk masuk. Netty menjadi sangat marah, dan sesuatu yang sangat asyik melintas di dalam benaknya.
Betty sedang duduk manis di balkon. Dia meneguk kembali minuman soda-nya. Hatinya merasa sedikit tenang karena suara bel tidak membuat ruangan itu menjadi berisik. Kedua matanya menatap jalanan yang cukup ramai, padahal sedang turun hujan.
Bola matanya menatap tajam pada seorang gadis yang sedang berlari menembus derasnya air hujan. Ya, itu Netty. Dia memperhatikan adiknya berlari dan tiba-tiba seorang pria mencekal lengannya.
Betty tidak tinggal diam. Dia menutup pintu balkonnya yang terbuka dan keluar dari dalam kamar sambil mengenakan mantel berbulu. Dia berjalan dengan sangat cepat. Menuruni tangga hingga sampai di lobi.
"Densai afre tature," ucap seorang pelayan menawarkan sebuah brosur pada Betty.
Betty meraih brosur itu dan berlari mengejar adiknya. Dia dapat melihat seorang pria sedang berbicara dengan adiknya. Betty tidak ingin kehilangan moment itu. Dia memperhatikan apa yang dilakukan pria itu pada adiknya. Sial! Mereka kembali.
Tidak peduli apa yang akan terjadi, Betty melangkahkan kakinya yang terasa berat karena air hujan. Dia menarik tangan Netty dan menjauh dari pria itu.
"Kenapa masih disini?" Betty membelakangi pria itu agar tidak mengetahui apa yang kakak dan adik itu bicarakan.
"Aku ditantang kak." Netty mengepalkan jari-jemarinya.
"Tantangan? Kau kenal pria itu?"
"Tidak. Tetapi yang aku tahu dia adalah seorang CEO di Ftramaon Manseehe."
"Aku akan melakukan tantangan itu untukmu."
"Jangan kak! Aku hanya ditantang untuk memainkan ular tangga. Kak, aku harus segera ke sekolah."
Betty menatap wajah pria itu yang terlihat begitu ceria. Bahkan pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Betty. Betty tersenyum, pria itu baik. Dia menyukainya.
"Aku akan memberikanmu tumpangan gratis." Betty kemudian menggerakan tangannya dan membuat sebuah taxi berhenti.
"Naiklah!"
Netty mengangguk kemudian masuk ke dalam dan duduk. Dia mengusap-usap seragamnya agar tetesan air pecah dan membuat seragamnya semakin basah. Dia melihat kakaknya yang sedang berbicara dengan driver taxi itu.
"Nanti malam kau datang ke kamarku. Ini kartu namaku, aku akan membayarnya."
Setelah Betty mengatakan itu, taxi pun berjalan. Perlahan wajah Betty menghilang dari balik kaca. Netty menarik nafas perlahan dan menikmati perjalanan.
"Turunkan aku," ucapnya tidak senang.
Netty melangkah ke luar dari dalam taxi dan berlari memasuki sebuah rumah minimalis yang sangat indah. Dia melepaskan sepatunya dan berdiri di teras, menunggu seseorang datang.
"Kau sudah sampai?" Gewend membuka pintu kemudian menghampiri Netty. "Kau nampak lelah, marilah masuk! Aku akan membuatmu senang."
Netty melangkah masuk disusul dengan Gewend yang mengikutinya. Dia kemudian duduk di atas sofa dan mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya untuk membuat seragam itu tidak terlihat basah.
"Aku membawakan sianida untukmu. Minumlah!" Gewend menyodorkan secangkir teh hangat.
"Sianida?" Netty meraihnya dan meminumnya sedikit. Enak.
Gewend duduk di sofa yang berbeda. Tangannya menyatu membuat uratnya yang terlipat menunjukan diri.
"Ya, seperti yang kau tahu. Aku disini adalah tuan rumah dan kau harus menuruti apa yang aku katakan. Bagaimana?"
"Oke, aku setuju. Tapi, boleh aku meminta baju ganti?"
Gewend berdiri dari sofa yang di dudukinya dan berjalan memasuki kamar tidur. Dia kemudian mengambil sebuah kaos berwarna hijau dan kembali menemui Netty.
"Pakailah!" Dia melempar baju itu ke atas meja dan duduk menatap Netty.
Netty tersenyum sambil mengambil kaos yang akan dia pakai. Netty segera pergi dari hadapan pria itu untuk mengganti seragamnya yang basah.
"Hallo!"
Seseorang membuka pintu tanpa menunjukan wajahnya. Dia menutup payung yang digunakannya, kemudian menunda payung itu di atas teras.
"Chandra?"
Gewend berdiri dari sofa yang ia duduki dan menemui pria bernama Chandra itu.
"Baru kali ini aku melihatmu menggunakan payung," ledek Gewend.
"Aku terpaksa menggunakannya."
Mereka berdua berlajan dan duduk di atas sofa, bertatapan dan mulai berbicara.
"Tasmu bagus juga, seperti wanita," Chandra membuka jaketnya dan ngantungkannya pada sandaran.
"Itu bukan milikku."
"Hemm..." Chandra tersenyum. "Ternyata diam-diam kau menyimpan wanita lain. Jika ayah tahu, maka dia akan marah."
"Dia bukan milikku."
Netty berjalan menghampiri mereka dan duduk disamping Chandra. Dia kembali meminum teh hangat yang disebut sianida itu dan menatap Chandra yang tidak pernah dia sadari kehadirannya.
"Kau siapa?" Chandra sedikit menjauh dari Netty.
"Aku Netty. Kenapa kau tiba-tiba ada disampingku?"
Chandra mengernyit tampak bingung dengan apa yang Netty bicarakan. Kedua matanya menatap Netty, wajah itu sangat mirip dengan seseorang yang pernah ditemuinya tempo lalu.
"Sepertinya aku pernah melihatmu," ucapnya ketika Netty menyimpan cangkir tehnya di atas meja.
"Kau salah orang Chandra. Dia bukan wanita itu," tukas Gewend membuat Netty terus meminum teh hangat itu.
"Tapi aku sangat yakin." Chandra merapatkan pahanya hingga menyentuh Netty. "Aku diperintahkan untuk membunuhmu."
Netty menatap Chandra. Wajah pria itu terlalu dekat dan membuatnya sedikit terganggu.
"Kau mau minum sianida? Enak sekali. Kau harus mencobanya."
Chandra menjauh dari Netty. Dia mengambil jaketnya dan berajalan menghampiri pintu. Dia pergi, mengenakan payung yang diberikan ayahnya. Tampak raut wajahnya yang seperti takut untuk maju. Ya, Chandra takut untuk membunuh Netty.
🕯️🕯️🕯️
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PSYCHOPATH
Mistério / SuspenseKehausan dalam dirinya untuk membunuh semakin tidak normal ketika bertemu dengan pria dingin dan juga bengis. ---------------------=[PSYCHO]=--------------------- 🚫TIDAK DIPERUNTUKAN UNTUK MANUSIA PENGIDAP PHOBIA DARAH DLL. 🚫TIDAK DIPERBOLEHKAN U...
