Gadis itu terdiam di dalam kamarnya. Baju pengantin itu sudah dimasukan ke dalam lemari. Dia menatap jam dinding yang terus berputar.
Tubuhnya terasa sakit sekali setelah menjalani prosesi pernikahan. Kakinya melangkah turun dari atas ranjang dan menghampiri Chandra yang sedang duduk di atas sofa.
"Kita tidak saling suka bukan?" ucap Chandra tanpa menoleh pada Netty.
"Tidak juga," balas Netty kemudian duduk di sampingnya.
"Aku tidak memintamu duduk." Chandra mengambil ponsel dari saku celananya. "Menjauh dariku, atau aku melakukan sesuatu dengan benda ini."
Netty berdiri dan menatap Chandra. Kedua tangannya saling menguatkan, sama seperti hati dan pikirannya.
"Maaf soal semalam." Nada suaranya terdengar menurun. Netty merasa gugup berhadapan dengan Chandra.
"Ya," jawab Chandra sambil memainkan ponselnya. Dia tidak sekalipun menatap wajah Netty.
Kejadian kemarin malam membuat hatinya terluka. Tepat pada saat malam pertama. Chandra tidak berniat melakukan itu, tetapi Netty malah membuat nafsunya bertambah.
"Hem, kenapa masih berdiri di sini? Pergi dari hadapanku dan buatkan kopi. Tapi jangan terlalu manis, aku tidak menyukainya."
Netty bergegas untuk melakukan apa yang Chandra perintahkan. Dia menemui seorang wanita yang sedang sibuk memasak. Kakinya melangkah perlahan. Nafasnya ditarik dan dihembuskan pelan. Dia menatap wanita itu, merasa takut karena belum berinteraksi dengan pembantu di dalam rumah.
"Hallo madam," ucapnya getir.
Wanita itu berbalik dan membenarkan ikatan celemeknya. Dia menatap Netty penuh perhatian. Wanita itu tahu, bahwa setiap wanita yang dipersunting oleh keluarga Vanhoustoun tidak akan merasakan kebahagiaan.
"Iya nyonya, ada apa kau menemuiku?"
Netty tertawa kecil. "Jangan panggil aku nona, panggil saja namaku."
"Namamu? Maaf, bisa tolong perkenalkan dirimu?"
"Tentu, aku Netty Gyndalofes. Kau boleh memanggilku Betty."
"Oh.... Aku Ivanya, sekarang kenapa kau menemuiku?"
"Chandra memintaku untuk membuatkan dia kopi, kau bisa membantuku?"
Ivanya mematikan kompor dan kembali menatap Netty. Wajah yang cantik itu seakan hilang ketika Netty menjadi ragu. Ivanya sangat tidak menyukai keadaan ini. Vanhoustoun selalu berprilaku buruk pada wanita.
"Tentu saja Netty." Iavanya mengikat rambutnya dengan karet. "Kemarilah!"
Netty mendekat pada Ivanya. Dia menatap Ivanya yang memberi perlakuan baik padanya, tidak seperti Chandra. Sikap Chandra padanya sangat buruk. Bahkan semalam dia mengabaikannya.
"Pegang ini!" Ivanya memberinya sebuah saringan kecil. "Saring bubuk kopinya kemudian setelah itu masukan air panas ke dalam gelas. Sementara itu aku akan memasak."
Netty tersenyum manis padanya. Dia melakukan apa yang Ivanya katakan. Bubuk kopi hitam itu masuk melalui lubang saringan yang kecil. Netty kemudian memasukam air panas ke dalam gelas itu dan menyimpan kembali semuanya ke tempatnya.
"Sudah selesai madam," katanya sembari menunjukan gelas yang sudah diisi air yang bercampur dengan bubuk kopi.
"Sekarang bawa kopi itu, jangan buat tuan marah," bisik Ivanya mengiringi perjalan Netty.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PSYCHOPATH
Mystère / ThrillerKehausan dalam dirinya untuk membunuh semakin tidak normal ketika bertemu dengan pria dingin dan juga bengis. ---------------------=[PSYCHO]=--------------------- 🚫TIDAK DIPERUNTUKAN UNTUK MANUSIA PENGIDAP PHOBIA DARAH DLL. 🚫TIDAK DIPERBOLEHKAN U...
