Seminggu telah berlalu. Hari Senin sudah berganti Senin lagi. Rencana demi rencana sudah disusun rapih oleh Arsha untuk mengungkapkan seseorang dibalik peristiwa buruk yang dialami Anya beberapa minggu lalu.
"Jadi...... gimana setelah ini?" Tanya Anya pada Arsha yang sedang duduk santai di kursi yang ada di hadapannya.
"Tenang aja.. gue ngomong, kalian tinggal lakuin" kata Arsha kelewat santai.
Plethakkk
"Aww!! Sakit bego" Anya menjitak kepala Arsha.
"Ya gue tau. Semua ini itu lo yang buat. Lo yang tau apa yang ada di pikiran lo. Tapi kita juga pengen tau apa rencananya.. bukan gini... aja" kata Anya mulai emosi.
"Gitu deh Arsha kalo udah santai bisa kelewat santai" sahut Hans.
"Yang beneran dong Sha. Gue udah gak tahan pengen ngajar tuh muka tiga orang" sahut Sheni sambil mengepalkan tangannya.
"Yaudah. Kita ke kantin dulu aja. Makan dulu" kata Arsha.
"Oke siap!!" Kata Anya dan Sheni barengan sambil beranjak duduk.
Mereka semua berjalan keluar kelas kecuali Kana dan Arsha.
Kana mendekat ke arah Arsha.
Kana mengangkat dagunya.
"Awas aja kalo lo sampai gagal kali ini. Inget, lo udah gagal lindungin Anya. Jadi, lo kali ini gak boleh gagal. Gue bakal jauhin lo sama Anya kalo sampek lo buat dia sakit. Inget juga, karena lo dia bisa celaka seperti itu. Kalo sampek Anya tau perasaan lo yang sebenarnya, lo harus sabar apa keputusannya. Gue gak mau Anya sakit hati. Ngerti lo!!" Kata Kana mengancam.
Nyali Arsha menciut seketika ketika jiwa Kana sudah berubah keibu ibuan.
"Iya.. gue bakal jaga amanah lo" kata Arsha.
Kana berjalan keluar kelas diikuti Arsha dibelakangnya.
"Btw abang gue, Fania, Frida sama Destra kok jarang kumpul ngapa ya?" Tanya Anya pada Sheni.
" gak tau" jawab Sheni.
"Mereka berempat kan dapat tugas. Sebulan penuh ini mereka bakal dibimbing buat lomba setelah ujian minggu depan" sahut Hans.
"Beneran Hans?" Tanya Edgar.
Hans mengangguk.
Kana datang dari belakang dan merangkul bahu kedua temannya itu.
"Kana ngagetin" Anya kesal.
"Yekk.. lo kaget.. gue gak" ledek Sheni sambil menjulurkan lidahnya.
Anya melirik sinis.
"Udah.. jangan ribut mulu" kata Kana sambil mengusap dua kepala orang di sampingnya.
Mereka berenam sudah sampai di kantin. Mereka duduk di tempat yang sudah menjadi markas bagi Arsha dan kawan kawannya yang menghabiskan waktu di kantin. Di meja paling pojok kantin.
Anya duduk di sebelah kanan Kana dan di sebrangnya ada Arsha. Di sebelah kirinya ada Hans.
"Ekhem" dehem Anya.
Mereka menoleh ke Anya.
Tiga orang dihadapannya menahan tawa.
"Kenapa sih?" Tanya Kana bingung.
Hans merangkul bahu Anya.
Arsha tidak suka dengan pelakuan Hans. Tapi dia tahan.
"Haii... kenalin.. ini anak aku.. dan di kanannya aku itu istri aku" kata Hans lantang sambil mengusap kepala Anya.
"Iya papa" kata Anya meniru suara Anak kecil.
Mulut Kana menganga. Sedangkan seisi kantin menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh. Namunnn...
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL ABOUT US
Fiksi RemajaDisaat kita saling membenci, kita merasakan getaran yang berbeda. Disaat kita saling mencintai, kita merasakan hal yang berbeda. Dari kesimpulan tersebut, bisa dikatakan bahwa benci dan cinta itu hanya beda tipis. Mungkin sama dengan apa yang dialam...
