Follow dulu sebelum baca.
Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN"
.
.
"Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam.
"Tapi sampai kapanp...
Pagi ini, Azyla kembali menemukan setangkai mawar merah tergeletak didepan pintu rumahnya. Azyla tersenyum lembut lalu mengambil mawar itu dan membawanya masuk kedalam rumah. Azyla menggabungkan mawar segar itu bersama mawar lainnya yang sudah layu di dalam vas putih berukuran sedang. Azyla memang selalu menyimpan semua mawar yang ia dapat setiap hari hingga mawar - mawar itu layu dengan sendirinya.
Jika di tanyakan siapa pengirimnya, maka Azyla akan menjawab bahwa dirinya tidak tau. Memang benar, Azyla sama sekali tidak tau siapa pengirim mawar misterius ini. Ia bukanlah seorang artis yang memiliki banyak penggemar, ia juga bukan seorang gadis populer yang diinginkan banyak pria, jadi rasanya tidak mungkin jika ia memiliki seorang pengagum rahasia bukan? Yang Azyla tau pasti hanya hal ini telah berlangsung sekitar dua tahun lamanya. Sungguh, Azyla pun sangat penasaran sekali pada orang yang terlalu rajin meletakan mawar itu di depan rumahnya setiap hari. Saking rajinnya si pengirim, mawar itu bahkan sudah ada didepan rumahnya sebelum fajar naik ke langit.
Karena rasa penasaran yang sangat menggebu, Azyla pernah berniat untuk memergoki si pengirim mawar dengan cara menunggui dan mengintip dari jendela rumahnya. Tapi sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada Azyla saat itu. Azyla gagal karena kecerobohannya sendiri, ia tertidur di samping jendela dan ketika ia terbangun, mawar itu sudah berada didepan pintu. Azyla kesal bukan main. Ia bahkan merutuki dirinya sendiri tanpa henti.
Hah! Sudahlah.
Tidak mau menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memikirkan si pengirim mawar misterius itu, Azyla segera menarik diri dari lamunan. Dari pada memikirkan hal yang hanya menyakiti otaknya, lebih baik Azyla segera berangkat ke kampus sebelum terlambat.
•|•
Setibanya di kampus, Azyla berjalan tenang dengan kepala yang sedikit menunduk menyusuri koridor yang cukup ramai ini. Dengan sabar ia menulikan telinganya dan membutakan matanya untuk mengabaikan semua cibiran dan tatapan sinis orang - orang yang ditujukan padanya. Tujuan Azyla kini adalah ruang kelasnya. Ia ingin segera tiba disana. Setidaknya jika Azyla sudah tiba di dalam ruangan itu, ia bisa memusatkan seluruh perhatiannya pada isi buku tebal yang dibawanya saat ini.
Bugh..
Seorang wanita menabrak keras tubuh Azyla hingga gadis itu terhuyung kebelakang dan membuat semua bukunya jatuh berserakan dilantai. Alih - alih meminta maaf, wanita itu malah memasang wajah sangarnya pada Azyla.
"Hei!! Kalau jalan itu lihatnya kedepan, jangan ke lantai! Dasar bodoh!!" Bentak wanita dengan baju yang ketat dan sexy itu pada Azyla yang tengah sibuk mengumpulkan buku - bukunya yang berserakan.
"Ma..maaf. aku tidak sengaja." Ujar Azyla yang sedikit tergagap. Wanita yang menabrak Azyla pun lekas pergi dengan gayanya yang angkuh. Sikap sombongnya itu menunjukkan seolah dunia adalah miliknya.
Azyla segera bangkit dan berjalan dengan cepat menuju kelasnya. Jika di ulang dan dilihat secara detail mengenai kejadian beberapa saat yang lalu, Azyla tidak bersalah sedikitpun dalam kasus tabrakan itu. Wanita angkuh yang tidak diketahui namanya itu memang sengaja menabrak Azyla dengan tujuan untuk mengusili Azyla didepan banyak orang. Sebab mereka semua -para pembully itu- merasa senang dengan semua penindasan yang mereka lakukan kepada Azyla. Mereka merasa seperti ada kepuasan tersendiri ketika melakukan kekerasan, membentak, dan merendahkan gadis itu. Mereka merasa jika diri mereka lebih baik, dan Drajat hidupnya lebih tinggi dibanding Azyla. Sebab itulah mereka senang sekali melakukan penindasan terhadap gadis miskin seperti Azyla.
Meskipun begitu, Azyla tidak memprotes tindakan kasar mereka. Ia tahu jika ini salah. Azyla juga tau jika seharusnya ia melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya. Tapi apalah daya jika dirinya tidak bisa melakukan apa - apa. Karena kelemahannya ini, Azyla selalu meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya. Sejujurnya Azyla memang takut pada mereka semua, tapi ia juga tak ingin terjadi keributan yang berkepanjangan jika dirinya memaksa untuk melawan. Bersabar dan mengalah adalah pilihan terbaik baginya saat ini. Lagi pula, ia juga harus paham akan status sosialnya yang hanya menengah kebawah. Ia tidak bisa berbuat banyak karena di zaman sekarang ini, keadilan hanya berpihak kepada orang-orang yang memiliki uang serta kekuasaan. Jika terjadi masalah, Azyla jamin jika ia tidak akan bisa menang melawan orang-orang yang punya setumpuk uang serta kekuasaan itu. Bisa - bisa, beasiswanya di cabut karena masalah seperti itu.
Setibanya di kelas, Azyla segera duduk di salah satu kursi dan mulai menyibukkan diri dengan membaca buku tebal yang ia bawa. Paling tidak, ia sudah bisa sedikit memahami materi yang akan di bahas oleh dosennya nanti.
Brak!!
"Heh cupu!"
Azyla terlonjak kaget ketika seseorang tiba-tiba memukul mejanya dengan keras. Gadis itu mendongak untuk melihat siapa pelaku yang memukul mejanya itu. Ternyata wanita itu Sharly, salah satu mahasiswi yang selama ini paling gencar membully nya di kampus ini.
"Cepat pergi belikan aku minuman di kantin. Aku haus." Ujarnya sambil meletakan selembar uang lima puluh ribuan dihadapan Azyla.
Azyla melirik arlojinya, kurang dari lima menit lagi, dosennya akan tiba di kelas ini. Azyla menghela nafas pendek lalu menjawab dengan ragu, "Maaf, tapi sebentar lagi Pak Wildan akan segera datang. Jadi bisakah nanti saja aku membelikannya untukmu?" Ujar Azyla pelan.
Sharly tampak tidak suka dengan jawaban Azyla. Emosi nya langsung naik begitu mendengar gadis berkacamata itu menolak perintahnya. "Aku hausnya sekarang!! Jadi pergi sekarang juga dan belikan aku minuman!!!" Pekik Sharly emosi. Azyla menutup matanya ketika Sharly berteriak tepat didepan wajahnya.
Belum sempat Azyla menyahuti pekikan Sharly, suara tegas seorang pria lebih dulu terdengar. "Pergilah membelinya sendiri jika anda haus, nona. Saya lihat kaki anda masih sehat untuk digunakan berjalan."
Mendengar itu, Sharly pun segera berbalik dan netranya langsung mendapati Wildan, sang dosen killer telah berdiri dengan gagah didepan kelas sambil melayangkan tatapan tajam padanya. Sharly segera menundukkan kepalanya karena takut. Nyalinya yang tadi berapi - api seketika padam saat melihat tatapan tajam dari Wildan.
"Saya sangat tidak suka dengan cara berbicara anda. Terlalu keras dan kasar untuk seorang wanita. Memeritah seseorang dengan cara Memaksa itu bukan lah hal terpuji yang patut di contoh. Jadi bisa untuk tidak di ulangi, nona Sharly?" Setiap kata yang keluar dari mulut Wildan terdengar sangat tegas dan tenang. Membuat Sharly yang tadinya tegap berani seketika langsung gemetar usai mendengar rentetan kalimat yang di keluarkan dosennya itu.
"Ba..baik Pak. Maafkan saya, tidak akan saya ulangi." Ujar Sharly dan segera kembali ke tempat duduknya.
Azyla menghela nafas lega ketika Sharly telah kembali ketempat duduknya. Setidaknya, untuk beberapa jam kedepan ia aman dari bullyan gadis itu.
"Baiklah semuanya, mari kita lanjutkan pembahasan kita kemarin."