"Kau masuk tanpa izin lagi?" Ketus Wildan tanpa membuka matanya yang sengaja ia tutup.
"Ah haruskah aku mengulang?"
Mata Wildan segera terbuka dan senyuman manis langsung terbit diwajah nya ketika mendengar suara Azyla. Pria itu segera berdiri lalu memeluk tubuh kecil istrinya.
"Tidak perlu. Ku pikir tadi Ellena yang masuk tanpa mengetuk pintu."
"Wajahmu tampak begitu lelah. Sudah, ayo duduk." Azyla melepaskan pelukan suaminya lalu melangkah mendekati sofa yang tersedia di pojok ruangan.
Wildan pun mengikuti langkah Azyla untuk duduk di sofa yang ada di ujung ruangan. "Ingin makan sekarang?" Tanya Azyla.
Wildan mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Ia memejamkan matanya sesaat. Ia baru teringat jika ia harus memberi tau istirnya tentang perjalanan bisnisnya ke Luar negeri.
"Sayang, besok aku harus keluar negri. Ada masalah pada perusahaan minyak bumi milikku yang ada di Kanada. Aku ingin mengajakmu, tapi mengingat kau harus segera menyelesaikan skripsi mu dengan dosen pembimbing mu maka aku putuskan untuk kau tinggalkan saja. Apa tidak apa?" Papar Wildan.
"Tak apa. Lagipula, jika kau mengajakku pun, aku akan menolak. Karna skripsi ku sudah tinggal sedikit lagi, tak lama lagi aku akan sidang dan wisuda."
"Semoga istriku mendapat nilai yang sangat bagus dan aku akan memberikan hadiah apapun yang kau inginkan."
"Tidak perlu hadiah apapun, aku hanya ingin kau tetap setia dan percaya padaku."
Wildan tersenyum lalu mulai menyantap makanan yang Azyla bawakan untuknya. Sepasang suami istri itu saling bercanda tawa. Kebahagiaan menyelimuti kebersamaan mereka. Dalam hati, Azyla berdo'a agar pernikahan nya akan terus berjalan seperti ini. Walau ia tau jika disetiap hubungan selalu ada badai yang menunggu untuk mengguncang. Tapi sebisa mungkin, ia akan mempertahankan hubungan mereka dengan rasa saling percaya.
Detik demi detik berlalu. Azyla pun pamit pada Wildan untuk pergi ke kampusnya. Wanita itu pergi dan Wildan kembali menjalankan aktivitasnya bekerja.
•|•
Setibanya di kampus, Azyla tersenyum sembari terus melangkah. Langkah kakinya membawa dirinya sampai didepan ruangan dosen pembimbing skripsinya. Azyla masuk usai diberikan izin oleh sang pemilik ruangan. Dengan sopan ia masuk dan mulai memperlihatkan hasil yang ia kerjakan selama berbeda waktu ini.
Lelaki yang berumur sekitar dua puluh tahun diatasnya itu tampak membaca dengan serius. Ia membolak-balik halaman tanpa ekspresi. Membuat Azyla sulit menebak apa yang pria itu rasakan saat membaca skripsi nya. Usai menunggu cukup lama, akhirnya pria itu menutup lembaran skripsi milik Azyla.
"Ini sudah cukup. Hanya perlu di cetak ulang dan minggu depan kamu sudah bisa ikut sidang." Ujar pria paruh baya itu lalu mengembalikan lembaran kertas milik Azyla.
Azyla senang bukan main, ia pun sudah lelah untuk merevisi skripsinya itu. Banyak sekali kesalahan - kesalahan yang ada di skripsinya itu. Tapi rasa lelahnya berubah menjadi kebahagiaan saat dosen pembimbingnya mengatakan ia sudah siap untuk ikut sidang. Wanita itu mengucapkan syukur berkali - kali didalam hatinya.
"Alhamdulillah, terima kasih pak. Segera saya cetak ulang dan berikan kepada Anda. Terimakasih atas bimbingan nya pak." Ujar Azyla lalu keluar dari ruangan itu dengan rasa bahagia yang membuncah.
"Alhamdulillah, akhirnya skripsi ini selesai. Aku bahagia sekali."
Azyla ingin sekali melompat - lompat saking senangnya. Tapi mengingat kondisi yang ramai saat ini membuatnya berpikir kembali untuk melakukan hal itu.
"Nona Azyla?" Panggil seseorang yang sama sekali tidak Azyla kenali.
Raut wajah wanita itu pun langsung berubah. Alisnya bertaut karna bingung, "Ya? Maaf anda siapa?"
"Saya salah satu orang yang bekerja dengan tuan Jack. Tuan Jack meminta saya mengantarkan ini pada anda." Pria itu mengulurkan sebuah amplop berwarna coklat. Azyla menerima amplop itu dengan ragu. Ia tak tau apa isinya, tapi wajah kaku pria didepannya ini membuatnya harus waspada.
"Apa ini?"
"Buka dan lihatlah. Hubungi kami jika anda sudah selesai membaca dan berpikir." Pria itu lantas pergi usai menyelesaikan kalimatnya.
Azyla memasukan amplop itu kedalam tasnya. Ia pikir akan membaca nya nanti jika urusannya sudah selesai.
•|•
.
.
.
.
.
.
TBC 💕💕💕💕💕
17 November 19
.
.
.
.
.
Kira - kira apa nih yang ad di dalam amplop itu?
Ad yang tau? Komen yaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)