BL 🍃 // 028

756 31 0
                                        

Azyla memasang wajah cemberut sejak Wildan menjalankan mobilnya dari restoran tempat mereka makan hingga tiba di kantor nya Wildan.

"Sayang.. Berhentilah memasang wajah cemberut seperti itu. Ini hanya kantor tempat ku bekerja, bukan tempat berbahaya seperti kandang buaya." Ujar Wildan membujuk Azyla yang masih kesal terhadap nya.

"Hei... Tersenyum Azyla." Sambung Wildan.

"Aku tidak suka dengan sifat pemaksa mu. Kau tau? Itu sungguh menyebalkan." Sahut Azyla.

"Baiklah, aku minta maaf untuk itu."

"Tidak dimaafkan."

"Ayolah sayang. Jangan seperti ini. Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku? Katakanlah."

"Tidak perlu." Ujar Azyla seraya mengalihkan wajahnya. Gadis itu masih kesal akan masalah tadi.

"Baiklah jika seperti itu." Wildan menarik lembut dagu Azyla agar melihat kearahnya. Wildan menatap mata teduh Azyla dengan penuh cinta. Pria itu seolah menghipnotis Azyla dengan tatapan matanya.

"Sejujurnya, aku sudah sangat merindukan ini. Aku menginginkan nya sekarang." Ujar Wildan.

Pria tampan itu menyatukan bibirnya dengan bibir Azyla. Azyla hanya diam, gadis iti terkejut dengan apa yang Wildan lakukan. Perlahan, Wildan mulai menuntun Azyla untuk membalas ciuman nya. Pria itu dapat tersenyum senang saat merasakan bibir Azyla yang perlahan-lahan bergerak mengikuti irama bibirnya. Dan melalui lembut itu, Wildan menyalurkan seluruh rasa cintanya pada Azyla. Pria itu benar melakukannya dengan penuh kasih sayang.

Tokk tokkkk

Suara ketukan pintu membuat Wildan terpaksa mengentikan ciuman mereka. Ia tersenyum melihat Azyla yang segera menundukkan kepalanya.

"Masuk!"

Usai memberikan izin untuk seseorang di luar sana masuk, terbukalah pintu besar itu. Menampilkan seorang wanita yang selalu menggunakan pakaian kurang bahan. Wajahnya tampak seperti orang kesal.

"Ada apa Ellena?"

"Umh.. Ini ada beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani tuan."

"Baiklah. Letakan semuanya di atas meja."

"Baiklah tuan. Saya permisi." Ellena segera keluar dari ruangan Wildan usai meletakan berkas yang ia bawa.

"Aku harus melanjutkan pekerjaan ku. Kau diam saja disini. Jika ingin sesuatu, katakan saja." Ujar Wildan seraya mengecup dahi Azyla dengan lembut.

•|•

"Nona, makan malam telah siap. Saya ingin pamit pulang dulu." Ujar Meli.

"Oh.. Baiklah meli. Terimakasih untuk hari ini. Tapi, kau pulang dengan apa?"

"Dengan bis kota nona."

"Hati - hati Meli."

"Baik nona. Saya permisi dulu."

Azyla tersenyum seraya mengangguk pelan. Setelah itu, Azyla lekas memanggil Wildan untuk makan malam bersama. Perlahan tapi pasti, Azyla melangkah menuju kamar Wildan.

Tokk.. tokkkk....

"Meli telah menyiapkan makan malam. Ayo makan."

"Pergi lah duluan ke meja makan. Aku masih ada sedikit urusan." Azyla lekas meninggalkan pintu kamar Wildan usai mendengar perintah Wildan.

Gadis itu berjalan sambil tersenyum. Pikirannya melayang membayangkan hal yang terjadi tadi siang saat di kantor Wildan. Pria itu selalu melakukan semua hal dengan lembut jika bersama Azyla. Meskipun terkadang Wildan kerap memaksa Azyla agar mengikuti keinginannya, namun Wildan tak pernah kasar. Pria itu begitu mencintai Azyla, sehingga ia tak mampu untuk melakukan hal kasar terhadap Azyla.

Setibanya di meja makan, Azyla menuangkan air putih ke dalam gelas, gadis itu meletakkan nya disamping piring untuk Wildan. Ia menyiapkan apa yang diperlukan oleh Wildan. Wildan tiba tepat saat Azyla selesai menyiapkan yang ia butuhkan.

"Selamat malam sayangku..." Sapa Wildan seraya mencium pelipis Azyla dengan lembut.

"Dasar pencuri." Umpat Azyla.

"Pencuri???"

"Ya! Kau itu pencuri. Selalu saja mencuri untuk menciumku." Jawab Azyla seraya duduk ditempat duduknya.

"Hahaha.... Mencium mu adalah suatu hobi baru bagiku. Jadi kau terima saja jika aku akan selalu mencium mu."

"Terserah kau sajalah. Ayo cepat makan."

Wildan hanya tersenyum melihat wajah Azyla yang sedikit kesal. Menurutnya, Azyla tampak begitu menggemaskan dengan wajah kesalnya.

•|•

"Azyla..."

"Hmm?" Jawab Azyla tanpa mengalihkannya perhatiannya dari layar ponsel.

"Azyla...." Ulang Wildan

"Hmmm??"

Karna kesal, Wildan merampas ponsel milik Azyla. Pria itu menyembunyikannya di balik tubuhnya.

"Heiii... Apa yang kau lakukan? Kembali ponselku."

"Tidak sebelum kau mendengarkan aku bicara."

"Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan?"

Wildan tersenyum. Pria langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan. "Cara bicaramu pada ku sudah berubah. Apa perasaan mu juga sudah berubah padaku? Kau mulai mencintaiku?" Ujar Wildan lalu memberikan benda pipih itu pada pemiliknya.

"Tak perlu menjawab pertanyaanku. Cukup kau renungkan dan cari jawabannya untuk dirimu sendiri. Tidur lah. Besok kau harus kuliah bukan? Selamat malam bidadari ku." Wildan mengecup dahi Azyla sebelum ia pergi ke kamarnya.

"Tanpa ku sadari, ternyata hati ini mulai mengukir nama mu dan memberikannya posisi tertinggi di hati ini." Batin Azyla bermonolog.

•|•











TBC...

Bad Life [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang