Siang ini, semua pegawai dibidang marketing disibukan dengan pekerjaan masing-masing. Jari tangan Azyla dengan lincah menari diatas keyboard. Matanya yang dihiasi dengan kacamata tebal pun terfokus pada layar komputer yang menyala. Azyla benar - benar serius dalam melakukan pekerjaan magang nya. Ia bertekad ingin lulus dengan nilai yang cumlaude. Setidaknya, jika tidak ada orang tua yang harus dibanggakan nya, ada Wildan, sang suami yang akan bangga padanya.
"Zyla! Heii.."
"Eh mbak Gea? Ada apa ya?"
"Kamu fokus sekali kerjanya." Ujar Gea sambil tersenyum.
"Iya mbak, laporan yang ini sudah hampir selesai. Hanya tinggal dua puluh persen lagi. Mbak kenapa manggil saya?"
"Ini, aku mau minta tolong sama kamu, tolong antarkan laporan ini ke ruang CEO ya. Aku harus keluar menemui klien." Gea menyerahkan sejumlah kertas yang dijilid menjadi satu.
"Ini diantarnya kapan mbak?"
"Sekarang Zyl, soalnya Pak Wildan minta nya sebelum jam makan siang."
Azyla mengangguk tanda mengerti. "Baiklah mbak, kalau begitu aku antar sekarang."
"Terimakasih ya Zyla. Mbak pergi dulu."
Gea pun meninggalkan Azyla yang masih merapikan mejanya. Entah mengapa jantungnya berdebar kencang saat melangkah menuju ruangan Wildan. Semakin dekat langkahnya dengan ruangan Wildan, semakin kencang pula jantungnya berdebar.
Azyla heran melihat meja sekretaris Wildan kosong. Tanpa banyak pikir, wanita yang menggunakan rok hitam dibawah lutut itu langsung mengetuk pintu besar milik Wildan.
Tokk... tokk..
Azyla langsung membuka pintu ruangan itu. Kosong. Azyla pun heran melihat ruangan itu kosong. Tidak ada Wildan yang duduk di kursi kebesaran nya. Laptop milik pria itu tampak menyala. Azyla berpikir jika mungkin saja Wildan sedang di toilet. Wanita itu memilih untuk meletakan laporan itu di meja Wildan. Tapi saat ia berbalik badan, pintu toilet terbuka. Menampilkan Wildan dengan wajah yang sedikit kaget.
"Sayang?? Sedang apa disini?" Wildan segera mendekati istrinya.
"Saya hanya mengantarkan ini, tuan. Mbak Gea, kepala devisi saya meminta saya untuk memberikan ini kepada anda. Ini laporannya." Ujar Azyla formal.
"Sayang, tidak perlu bersikap formal seperti itu padaku. Kita hanya berdua disini." Wildan memeluk pinggang ramping istrinya.
"Tapi kita sedang di kantor. Harus bersikap profesional."
"Profesiolnal hanya didepan karyawan ku yang lain. Jika sedang berduaan seperti ini, tidak masalah jika kita ingin melakukan apapun. Termasuk berlatih membuat bayi."
"Astaga! Tidak. Jangan sekarang. Kita masih di kantor. Bagaimana jika kita ketauan? Bagaimana jika nanti sekretaris mu tiba - tiba masuk dan melihat kegiatan kita?"
"Aku punya satu ruangan lagi disini. Kita bisa gunakan itu. Ayolah sayang, tidak baik menolak suami." Wildan dengan senyum iblisnya mulai menciumi leher jenjang istrinya dengan sensual.
"Astaga, ada - ada saja mau mu." Akhirnya Azyla pasrah saat Wildan menggendong tubuhnya menuju satu ruangan berukuran standar yang ada didalam ruang kerja pria itu.
•|•
"Sayang, tunggu aku di halte yang berada di ujung jalan ya. Aku ingin makan siang bersama mu." Bisik Wildan yang masih memeluk tubuh setengah telanjang Azyla.
"Aku lelah, dan kau malah menyuruhku berjalan jauh. Tidak, makan saja di kantin kantor."
"Astaga istriku. Aku ingin makan berdua bersama mu. Ayolah sayang, jika kau tidak ingin berjalan, maka langsung saja naik ke mobilku."
"Dan membiarkan semua orang melihat kita? Oh tentu saja tidak."
"Ayolah sayang. Biarkan saja mereka melihat kita. Jika mereka bertanya, kau berikan saja alasan yang sekiranya bisa membuat mereka percaya."
"Tidak. Nanti malam saja kita makan bersama. Di rumah atau dimana pun yang kau inginkan."
"Baiklah." Wildan menunjukan wajah memelas nya untuk mengubah keputusan Azyla.
"Wajah mu tidak akan merubah apapun. Sudahlah, lebih baik aku membenarkan pakaian ku dan kembali ke ruang kerja." Azyla melepaskan pelukan suaminya di perutnya. Wanita itu terkekeh geli melihat Wildan yang merajuk diatas ranjang kecil itu.
"Baiklah suamiku. Aku kembali dulu. Nanti malam kita makan bersama." Azyla mengecup pipi Wildan.
"Apa hanya makan malam?"
"Ah baiklah. Kita akan melakukan apapun yang kau inginkan nanti malam. Jangan cemberut seperti itu, aku tidak ingin ada wanita lain yang melihat wajah lucu suamiku ini." Wildan seketika tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya.
"Baiklah kalau begitu aku setuju."
"Sampai jumpai nanti." Azyla bergegas keluar setelah memastikan penampilannya rapi.
•|•
TBC 💕💕💕
.
.
.
7 November 19
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)