Wildan duduk dengan perasaan yang tidak tenang. Pria itu kini tengah mencoba meredam amarahnya dan memikirkan suatu cara untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Jack.
Flashback.
"Akhirnya kau tiba. Duduk lah dulu." Ujar Jack saat Wildan baru memasuki ruangan mewah itu.
"Langsung saja pada intinya. Aku tidak ingin membuat Azyla menunggu terlalu lama."
Jack terkekeh, pria itu lekas menjawab, "Baiklah. Ternyata kau ini tidak sabaran sekali. Kalau begitu dengarkan aku baik - baik, aku ingin Azyla. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, jika kau setuju untuk memberikan Azyla padaku."
Seketika amarah dalam diri Wildan naik. Pria itu hampir lepas kontrol saat mendengar ucapan Jack.
"Kau pikir aku ini gila? Jangan mimpi kau untuk bisa bersama dengan Azyla. Wanita itu milikku. Hanya milikku." Jawab Wildan.
"Ayolah Wil. Bukankah kita ini teman lama? Kau bisa mencari wanita lain. Biarkan Azyla bersama ku. Akan ku berikan apapun yang kau mau."
"Tidak ada apapun yang cukup untuk membandingi Azyla. Sekalipun kau berikan semua hartamu padaku. Baiklah, kurasa tidak ada lagi yang perlu di bicara kan. Sebaiknya aku permisi. Azyla sudah terlalu lama menunggu ku."
Belum sampai langkah Wildan mencapai pintu, lagi - lagi ucapan Jack membuat amarah Wildan semakin ingin pecah.
"Bagaimana pun caranya, Azyla harus jadi milikku. Meskipun aku harus membunuhmu. Aku tak masalah dengan itu."
Wildan mengabaikan perkataan Jack. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya dengan amarah yang begitu besar.
Flashback and.
"Bagaimana pun caranya, Azyla tidak boleh bertemu dengan Jack lagi. Azyla hanya milikku. Gadis itu hanya boleh menikah denganku." Desis Wildan.
•|•
Pagi telah tiba. Matahari kembali menjalankan tugas nya untuk menerangi bumi. Begitu pun dengan Azyla, gadis itu pun kini tengah di sibukan oleh kegiatan yang biasa ia lakukan. Tampaknya Azyla sudah mulai nyaman berada di rumah Wildan. Terbukti dari gadis itu yang sudah tidak lagi memberontak ingin pulang. Ia juga terlihat akrab dengan seluruh sudut rumah ini, terutama dapur.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Wildan yang baru saja tiba.
"Tidak kah anda lihat jika saya sedang memasak?" Azyla menjawab tanpa membalikan tubuhnya.
"Aku tahu, tapi apakah kau benar - benar memasak dengan bahan makanan yang baik? Kau tidak mencampurkan racun pada masakan itu bukan? Aku tidak mau berakhir keracunan karna memakan masakanmu."
"Terima kasih telah memberikan ide yang bagus. Awalnya saya melakukan ini semua dengan senang hati. Tapi karna anda telah mengatakan hal seperti itu, sekarang saya jadi tertarik untuk meracuni anda."
Wildan terkekeh sambil melangkah mendekat Azyla. Pria itu lantas membalas ucapan Azyla, "Bagaimana bisa seorang yang biasanya hanya diam lalu tiba - tiba menjadi pemberani seperti ini? Hmm? Kau begitu berani berbicara padaku, tapi kau tidak memiliki keberanian untuk melawan semua orang yang membully mu."
"Bukan seperti itu, saya hanya.. hanya tidak ingin membuat keributan dikampus. Saya cukup sadar diri akan siapa saya jika ingin melawan mereka semua yang pada faktanya adalah orang kaya. Saya masih ingin kuliah hingga wisuda." Jawab Azyla lalu tertunduk lesu.
"Maksudmu, Kau takut karna kebanyakan teman mu itu adalah anak orang kaya sedangkan kau tidak? Kau takut dikeluarkan dari kampus karna kekuasaan yang mereka miliki begitu? Lalu bagaimana dengan ku? Aku pemilik kampus itu jika kau lupa, aku bisa saja mengeluarkan mu sekarang juga karna telah berniat meracuni ku."
Azyla terdiam. Gadis itu mematikan kompornya lalu berbalik menatap Wildan.
"Anda tidak benar - benar akan melakukan hal itu bukan? Maafkan saya, saya hanya bercanda soal itu." Azyla menunduk usai mengucapkan permintaan maaf nya. Ia takut sekali jika Wildan benar - benar akan mengeluarkannya.
"Entahlah, bagaimana jika kau melakukan sesuatu untukku baru aku akan memaafkanmu."
" Kemarin juga seperti itu, tapi anda malah meminta saya untuk menikah dengan anda. Lalu kali ini apa lagi?" Ujar Azyla yang tidak bersemangat.
"Kali ini tidak akan aneh dan buruk. Bahkan ini demi keselamatanmu. Lagi pula menikah denganku bukanlah suatu hal yang buruk, ada banyak diluar sana wanita yang ingin berada diposisimu."
"Terserah anda sajalah. Apa yang harus saya lakukan?"
"Jangan pernah menerima tawaran apapun dari Jack. Jauhi pria itu Hanya itu. Tidak sulit kan?"
"Tapi kenapa? Kenapa saya harus melakukan hal itu?"
"Ikuti saja gadis manis. Jangan banyak bertanya. Sudahlah, apa sarapan yang kau buat sudah selesai? Bisa kita menyantapnya sekarang? Aku lapar."
"Bisa, tapi bisakah anda menggunakan baju terlebih dahulu? Saya sedikit tidak nyaman melihat tubuh anda tanpa baju seperti itu."
Wildan sepontan memegangi perutnya yang rata. Pria itu tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Baiklah. Siapkan lah dulu, aku akan kekamar untuk mengambil baju."
Azyla hanya mengangguk dan membiarkan Wildan pergi ke kamarnya. Gadis itu menyiapkan sarapannya dengan rapi.
•|•
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)