"Oh sayang ku... Akhirnya kamu pulang membawa calon menantu untuk mommy. Betapa bahagia nya aku.." Aletta sangat bahagia melihat Wildan pulang dengan membawa seorang gadis. Ditambah lagi anak nya sulungnya itu mengatakan bahwa gadis yang ia bawa adalah calon menantu nya.
"Ya.. Dia adalah gadis yang membuatku gila karna memikirkan nya beberapa tahun belakang ini." Ujar Wildan dengan matanya yang masih belum lepas dari Azyla.
"Ayo kita masuk. Tidak baik mengobrol seperti ini. Ayo cantik." Aletta tak melepaskan tangannya dari tubuh Azyla. Wanita paruh baya itu tampak sangat menyukai Azyla.
"Mom, aku ke ruang kerja ku dulu, kalian berdua mengobrol lah. Tanya kan apa yang ingin kau tahu dari wanita ku." Ujar Wildan seraya berjalan mendahului kedua wanita yang sangat ia cintai itu.
"Duduk lah nak, para maid tengah menyiapkan makan malam." Azyla hanya tersenyum menanggapi semua yang Aletta katakan.
Gadis itu benar-benar gugup saat ini. Meskipun Aletta tampak begitu menerima nya, tetap saja, Azyla masih gugup menghadapi wanita paruh baya itu.
"Berapa usia mu nak? Sepertinya kau jauh lebih muda dibanding kan anakku."
"Dua puluh tahun aunty. Usia saya dua puluh tahun." Jawab Azyla.
"Oh astaga.. Kau masih begitu muda. Apa Wildan memperlakukan mu dengan baik? Apa anakku itu membahagiakan mu selama hubungan kalian?"
"Ya.. Dia.. Dia cukup baik dalam segala hal. Saya rasa,, tidak ada lagi yang perlu di ragukan darinya." Azyla sedikit kaku saat menjawab pertanyaan Aletta.
Aletta tersenyum mendengar ucapan jawaban Azyla. Wanita paruh baya itu bahagia karna kini, Wildan telah mendapatkan cintanya yang baru. Ia sangat bersyukur karena anak lelaki nya itu telah terlepas dari dendam yang tumbuh sepuluh tahun yang lalu.
"Panggil aku Mommy sayang. Mulai malam ini, kau adalah anakku juga. Jangan panggil aku aunty. Oke?"
Azyla tersenyum. Ia cukup tenang karna Aletta tampak sangat menerima kehadiran dirinya.
"Ohya.. Apa Wildan sudah melamar mu, sayang?? "
Seketika lidah nya kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tau apakah ajakan menikah yang Wildan katakan padanya itu bisa disebut sebagai lamaran atau hanya perintah.
" Belum yaa? Astaga anak itu.. Biar mommy yang bicara padanya nanti."
"Jangan aunt-- Ahh... Maksudku mommy. Jangan mom, biar lah kalimat lamaran itu keluar sendiri dengan keinginannya, bukan karna paksaan."
"Tapi sayang.. Jika di biarkan seperti itu, anak itu akan sangat lama mengatakannya."
"Tak apa mom, aku akan menunggu nya mengatakan hal itu dengan sendiri nya. Dengan tulus dari hatinya."
"Baiklah. Jika memang seperti itu yang kau inginkan. Mommy harap, anak itu segera melamar mu. Agar kalian segera menikah dan mommy bisa segera memiliki cucu." Aletta terkekeh di ujung kalimat nya.
"Tampaknya kalian berdua sangat asik berbicara. Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Wildan yang melangkah menuruni anak tangga.
"Tidak ada. Ayo kita ke ruang makan. Sepertinya makan malam kita sudah selesai." Aletta berjalan mendahului Wildan dan Azyla.
"Apa yang Mommy tanya kan padamu?"
"Hanya tentang umur."
"Yakin hanya itu?"
"Umhh.. Yaa. Hanya itu."
"Kamu berbohong." Wildan berbisik seraya meletakan tangannya dipinggang Azyla. Pria itu menarik Azyla agar lebih dekat dengannya.
"Astaga.. Lepaskan pak. Malu jika Mommy melihat nya."
"Mommy?"
"Ada apa? Tidak boleh? Mommy yang memintaku memanggil nya dengan sebutan itu."
"Bukan seperti itu, aku hanya senang jika kamu memanggil ibuku dengan sebutan mommy. Kurasa, kira harus mempercepat pernikahan. Aku tak rela jika kamu pergi dengan pria lain."
"Melamar saja belum, bagaimana mau menikah." Gumam Azyla.
"Kamu bicara apa? Kenapa malah berbisik?"
"Tidak ada, aku tidak bicara apapun. Sudahlah, ayo cepat kita menyusul mommy. Tidak baik membiarkan orang tua menunggu terlalu lama." Azyla melepaskan tangan Wildan dari pinggang nya dan berjalan meninggalkan Wildan.
"Ada apa dengan gadis itu."
Wildan mengikuti Azyla menuju ruang makan. Pria itu tersenyum melihat gadisnya tampak begitu akrab dengan ibunya. Wildan sangat bersyukur akan hal itu.
"Ayo nak, Cepatlah. Setelah makan, mommy ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan Azyla."
"Baik mom, ayo kita makan."
Wildan duduk di kursinya. Mereka memulai makan malam itu dengan canda tawa. Dan Azyla tampak tak lagi canggung berada di dekat Aletta.
"Oh ya mom, tadi Darren menghubungi ku. Anak itu bilang akan pulang sekitar dua bulan lagi. Ia telah menghubungi mu tadi, tapi katanya ponsel mu tidak bisa di hubungi. Maka dari itu ia memberitau kan kabar itu padaku dam meminta aku menyampaikannya pada mommy."
"Benar kah? Astaga... Baiklah. Nanti kita hubungi dia. Mommy pun sudah begitu merindukan anak itu."
"Ah ya Zyla, kau perlu tahu bagaikan Wildan dan adiknya saat kecil. Setelah ini, mommy akan memperlihatkan padamu foto - foto masa kecil Wildan dan Darren. Kau tak akan menyesal setelah melihatnya. Wildan dan Darren begitu menggemaskan saat kecil." Lanjut Aletta.
Azyla tersenyum. Gadis itu tertarik akan tawaran Aletta yang tidak begitu buruk.
"Mom." Wildan memanggil ibunya dengan suara yang lembut.
"Yaa? Ada apa Wil?"
"Aku akan menikahi Azyla. Bagaimana menurutmu?"
Azyla diam. Gadis itu menunduk. Ia tak berani angkat suara untuk turut berbicara.
"Menikah? Dengan Azyla?"
"Yaa, ada apa? Mommy tidak menyetujui nya?"
"Tidak, bukan seperti itu. Mommy bahkan sangat setuju jika kau menikahi gadis seperti Azyla. Tapi... " Aletta meletakan sendok dan garpunya diatas piring dengan rapi. Wanita itu memegang tangan Azyla dan mengajak nya untuk berdiri.
Setelah ia dan Azyla berdiri dari duduknya, wanita paruh baya itu melanjutkan kalimat nya yang belum selesai. "Kau belum melamar Azyla, bagaimana kalian akan menikah jika kau tidak melamar Azyla? Setiap gadis ingin dilamar dengan cara yang romantis, jika kau menikah tanpa melamar nya lebih dulu, sama saja dengan memaksa. Ayo Zyl, kita keruang keluarga. Akan mommy perlihatkan padamu bagaimana Wildan dan adiknya saat kecil." Aletta menarik tangan Azyla agar mengikuti gerak langkahnya. Kedua wanita itu meninggalkan Wildan yang masih binggung dengan ucapan ibunya.
Tbc...
-------__------------__---------------__----------------------__-------___--------------__----_-__________-----------------____--------------__---------_------_____--------------__------------------____----___----_----__--_-____---------_----------_-________---------__________----__---__---__-----_-_-_----_----_____----_-_----___-------____----_-------_-------______--------___-----------
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)