"Mom, aku dan Azyla pamit pulang dulu." Wildan pamit seraya mencium pipi ibunya dengan sayang.
"Terima kasih untuk semuanya Mom. Mommy baik sekali." Ujar Azyla yang tersenyum manis menatap Aletta.
"Kau harus rajin kemari Zyla. Mommy akan sangat merindukan mu. Kau teman berbincang yang menyenangkan." Azyla mengangguk kecil sambil mencium tangan Aletta dengan sopan.
"Kami pergi Mom. Jangan terlalu lelah di rumah. Jika bosan, pergi lah kerumah aunty Hanna atau kemana pun yang membuat mommy senang."
"Tentu. Hati - hati lah saat mengemudi Wil. Mommy tidak ingin Azyla lecet walau sedikit." Wildan mengangguk. Kedua insan itu memasuki mobil dan segera pergi menuju kampus.
Dalam mobil, Azyla hanya diam. Gadis itu masih merasa begitu canggung karna ciuman yang Wildan berikan. Dua kali, dua kali Azyla terlena akan sentuhan Wildan. Hal itu membuatnya sangat malu menghadapi Wildan.
"Azyla.." Wildan memanggil Azyla. Pria itu mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa begitu kaku saat ini.
"Ada apa?"
"Bagaimana tidur mu semalam? Apa kamar tamu itu nyaman untukmu?"
"Yaa, cukup nyaman."
"Bagaimana dengan bajunya? Kau suka?"
"Ya, warna nya bagus."
"Kenapa kau seperti ini? Ada apa? Apa kau marah padaku? Sepertinya aku tidak berbuat kesalahan padamu." Ujar Wildan yang bingung dengan sikap Azyla yang terkesan mengacuhkan dirinya.
"Tidak berbuat kesalahan? Apa dia pikir dengan dua kali mencium bibir ku itu bukanlah suatu kesalahan? Astaga... Kenapa pria ini bodoh sekali." Batin Azyla bermonolog.
"Tidak ada. Tidak terjadi apapun."
Wildan memilih diam usai mendengar ucapan Azyla. Gadis itu semakin mengacuhkan dirinya dengan mengalihkan pandangan. Wildan mempercepat lalu mobilnya menuju kampus. Pria itu kesal karna Azyla mengacuhkan dirinya. Entah dimana letak kesalahan yang ia perbuat, Wildan pun tidak tahu.
"Terima kasih." Ujar Azyla yang segera keluar dari mobil meninggalkan Wildan yang masih terheran - heran dengan sikapnya.
"Astaga.. Ada apa dengan gadis itu. Kenapa pagi ini dia begitu menyebalkan." Gumam Wildan.
•|•
"Azyla.."
Gadis itu hanya diam tanpa berniat untuk berbalik melihat Wildan di belakang nya. Pria itu tampak kacau karna sikap Azyla yang acuh akan dirinya selama dua hari ini. Mulutnya bahkan hampir mengeluarkan busa karna meminta maaf pada Azyla.
"Ada apa dengan mu sayang? Kenapa kamu hanya diam? Kamu tau? Aku begitu merindukan suara indahmu. Ayo lah Zyla.. Jangan diam seperti ini. Kau bisa meneriaki ku jika kau mau, tolong jangan diam seperti ini." Bujuk Wildan.
Azyla membereskan peralatan masaknya dan menyajikan makanan diatas piring dengan rapi. Gadis itu masih diam mengabaikan Wildan yang semakin bingung.
"Bicara lah Azyla. Katakan apa yang salah ku. Jangan terus seperti ini." Ujar Wildan yang mulai frustasi.
"Makan lah pak." Azyla duduk selayaknya nyonya.
Dengan rasa kesal yang menggunung, Wildan menarik kursi Azyla. Pria itu menatap mata Azyla yang tampak terkejut akan kelakuan nya.
"Apa yang bapak inginkan?" Ujar Azyla dengan volume suara yang kecil. Gadis itu seperti berbisik.
"Yang aku inginkan? Kau yakin bertanya seperti itu?" Azyla mengangguk dengan ragu. Gadis itu kini telah tenggelam begitu dalam pada mata biru milik Wildan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)