BL 🍃 // 004

1.8K 63 0
                                        

Setelah mata kuliah pertamanya selesai, Azyla melangkahkan kakinya menuju kantin. Gadis itu berjalan seorang diri sambil sesekali menunduk. Hati dan telinganya seolah sudah kebal menerima cibiran dari setiap orang yang ia lalui. Sejujurnya, Azyla ingin sekali menutup mulut semua orang yang mencibirnya itu. Namun apa daya? Tangannya hanya ada dua, dan Azyla lebih memilih menggunakan tangannya untuk menutup kedua telinganya. Berlaku pura-pura tidak tahu sepertinya lebih baik daripada ia harus meladeni mereka satu - persatu.

Setibanya di kantin, Azyla segera mencari tempat duduk usai memesan semangkuk bakso dan segelas es teh manis sebagai menu makan siangnya. Biasanya gadis itu selalu membawa bakal yang ia masak sendiri dan menghabiskan makan siangnya di dalam kelas. Tapi untuk hari ini, Azyla sengaja tidak membawa bekalnya. Ia penasaran dengan rasa makanan yang dijual dikantin kampusnya ini. Karena memang, selama Azyla berkuliah di kampus mahal ini, ia tidak pernah membeli makanan kantin demi menghemat pengeluarannya.

Saat sedang sibuk menikmati makan siangnya, Azyla dikagetkan dengan kehadiran Sharly yang tiba - tiba memukul meja tempatnya makan dengan karas. Meskipun ia sudah tau apa yang akan dilakukan gadis itu beserta kedua temannya, Azyla tetap berdo'a dalam hati agar tidak terjadi hal buruk. Ya, siapa tahu saja do'a nya kali ini akan langsung di kabulkan oleh Tuhan.

"DASAR WANITA BODOH! KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MALU TADI PAGI! KAU TAU JALANG?! BANYAK PASANG MATA YANG MENYAKSIKAN AKU DI PERMALUKAN OLEH PAK WILDAN KARNA IA MEMBELAMU!! DASAR SIALAN!" Pekik Sharly sambil menjambak rambut Azyla dengan kasar. Sungguh amarah yang tidak jelas. Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia perbuat sendiri.

"Akkhh.. Ma..mafkan aku Sharly, aku sungguh minta maaf.. Akhh.. sakith. Tolong lepaskan tanganmu dari rambutku, ini benar - benar sakit." Azyla merintih menahan sakit di kepalanya ketika Sharly semakin kuat menarik rambutnya. Sungguh, Azyla merasa jika sebentar lagi, seluruh kulit kepalanya akan segera lepas.

"DASAR JALANG!! Seharusnya tadi kau mengakui kesalahanmu di depan pak Wildan! Bukannya hanya diam memperhatikan!" Ujar Sharly lalu menghempaskan tubuh mungil Azyla dilantai. Tak puas hanya dengan menjambak, Sharly meraih gelas bening berisi jus yang entah siapa pemiliknya itu, lalu menumpahkannya tepat diatas kepala Azyla.

"Rasakan itu, sialan. Kau memang pantas mendapatkannya." Desis Sharly. Azyla menangis tertahan sambil mengusap kepalanya yang di basahi oleh jus itu. Kulit kepalanya juga masih terasa perih akibat jambakan keras yang diterimanya.

"Ayo teman - teman, kita pergi. Aku sudah cukup puas membalasnya." Sinis Sharly lalu pergi bersama kedua temannya.

Ada banyak orang yang berbisik membicarakan Azyla. Ada pula yang tega menertawakan kondisi Azyla saat ini. Tapi gadis itu tak perduli, ia segera bangkit lalu berlari tanpa tujuan. Gadis itu terus menyeka air matanya sambil berlari dan mengabaikan semua pasang mata yang melihatnya dengan tatapan jijik. Azyla terus mengayunkan kakinya hingga akhirnya gadis itu tiba di depan gudang yang berada di belakang kampus. Azyla duduk lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang yang kotor. Ia bisa bebas menangis sekeras-kerasnya disini tanpa khawatir akan ada yang melihat karena kondisi tempatnya yang sepi.

Tak lama kemudian, Sepang kaki berbalut pantofel berwarna hitam berdiri dihadapannya. Azyla pun langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dari si pemilik kaki.

"Pak Wildan?" Lirih Azyla.

"Dasar gadis bodoh. Ayo bangun!" Ujar Wildan lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Azyla berdiri. Azyla pun langsung menyambut baik uluran tangan Wildan.

"Kenapa menangis disini?" Tanya Wildan. Alih-alih menjawab, gadis itu malah menutup rapat mulutnya. Wildan menghela nafasnya lalu menarik tangan Azyla untuk mengikuti langkahnya.

Bad Life [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang