SA 🍃 // 047

984 32 1
                                        

Happy Reading all 💕💕

Happy Reading all 💕💕

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.

.

.

.

.

Mata wanita itu mulai terbuka secara perlahan. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang memenuhi ruangan itu. Setelah pandangannya terasa normal wanita itu mulai mengamati sekelilingnya. Ia langsung mengetahui tempatnya berada saat melihat tangannya yang dipasangkan infus. Tapi seketika hatinya mencelos mengingat ruangan itu kosong. Tidak ada Wildan yang menungguinya sadar, hal itu jelas membuat hatinya terasa perih. Jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali ditemani oleh Wildan disaat sakit seperti ini.

Pria itu masih bertahta dihatinya. Menempati posisi paling tinggi dan paling berkuasa di perasaannya. Walaupun sudah tiga bulan lebih Wildan mengacuhkannya ditambah dengan beberapa perlakuan kasar yang tidak manusiawi yang kerap ia terima, tetap saja hal itu tidak mampu mengurangi rasa cintanya kepada pria itu. Sesakit - sakitnya ia melihat Wildan dan Ellena bermesraan, tetap saja wanita itu tidak bisa membenci pria yang masih menyandang status sebagai suaminya itu.

Azyla hanya menutup mata dan menulikan pendengaran nya. Ia mencoba mengacuhkan hal itu walaupun pada akhirnya ia akan menangis di keheningan malam. Seorang diri tanpa ditemani siapapun kecuali kegelapan. Tak hanya sekali Wildan melayangkan pukulan ke tubuh lemah Azyla yang sudah jelas sedang hamil muda. Yang seharusnya tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu. Hingga saat ini pun, Wildan masih tidak mau mengakui bahwa anak yang tumbuh didalam kandungan Azyla itu adalah anaknya. Pria itu terus saja mengatai anak itu adalah anak haram hasil perselingkuhan Azyla dengan pria lain.

Berulang kali pria itu mengatakan hal yang sama dan berulang kali pula Azyla membatah hingga berakhir dengan pukulan keras diwajah Azyla. Jika di lihat dari luar, Azyla memang tampak baik - baik saja karena beberapa luka lebam nya sudah menghilang. Namun jika ditanyai soal bagaimana kondisi hatinya saat ini, maka ia akan menjawab jika hatinya sudah tak lagi berbentuk. Hatinya sudah hancur mendengar hinaan dari Wildan dan menyaksikan kemesraan pria itu dengan wanita lain tepat didepan mata kepalanya sendiri.

Tidak ada istri yang baik - baik saja melihat suaminya memeluk wanita lain dihadapannya dan tidak ada istri yang rela saat suaminya lebih mementingkan Wanita lain di bandingkan dirinya serta anak mereka. Tidak ada. Jika pun ada, mungkin hanya 1 di antara sekian sejuta wanita yang menyandang gelar istri di muka bumi ini.

Azyla menyentuh permukaan perutnya yang masih datar, ia teringat bahwa ia belum pernah mengecek kondisi kandungan sejak ia tau jika dirinya hamil melalui alat tes kehamilan itu. Ia berpikir untuk memeriksa kandungan nya sekarang saja. Jika sudah kembali ke rumah itu, ia tak tau kapan diperbolehkan keluar hanya untuk mengetahui kondisi kesehatan anaknya.

Bad Life [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang