"Hei kawan. Sudah lama tak jumpa." Wildan tersenyum sebelum menjawab sapaan Jack.
"Kabar ku baik. Bahkan sangat baik. Bagaimana dengan dirimu sendiri?" Wildan menjawab sapaan Jack dengan tenang.
"Tentu saja aku selalu dalam keadaan baik. Dan siapa gadis cantik ini?"
"Ah.. Ini Azyla. Dia adalah calon istriku. Azyla, ini Jack, dia teman ku sejak sekolah menengah pertama." Tak tahu kenapa, sejak berada di tengah pesta, Azyla tak mambantah perkataan Wildan yang lagi - lagi mengatakan pada semua orang, bahwa dirinya adalah calon istri pria itu.
"Jack." Jack mengulurkan tangannya pada Azyla.
Azyla sempat melihat Wildan sekilas, sebelum ia menerima jabatan tangan dari Jack.
"Azyla."
Entah kenapa, Azyla merasa risih saat Jack tersenyum padanya. Azyla merasa ada yang aneh dari senyum Jack. Azyla hanya tersenyum kecil untuk membalas senyuman Jack. Gadis itu segera menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jack.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Yang pasti secepatnya. Kami pun tidak sabar lagi untuk hal itu." Jack hanya mengangguk kecil. Matanya belum melepaskan pandangan dari Azyla.
"Jangan lupa untuk mengantarkan undangan pernikahan kalian padaku."
"Tentu. Aku tak mungkin melupakanmu."
"Baiklah, silahkan kalian nikmati pestanya. Aku harus memyambut tamu yang lain. Lain kali kita harus ngobrol lebih banyak."
Jack segera berlalu meninggalkan Azyla dan Wildan. Pria itu sempat berbalik badan untuk melihat Azyla. Seulas senyum tipis terukir sempurna pada wajah tampannya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak tak bersemangat setelah bertemu dengan Jack. Ada apa?"
"Tidak. saya baik - baik saja. Tidak ada masalah apapun."
"Kau yakin sudah mengatakan yang sebenarnya?"
Azyla mengangguk singkat. Gadis itu merasa Jack bukanlah orang asing baginya. Ia seperti mengenal Jack. Tapi siapa? Dan dimana ia pernah bertemu dengan Jack?
"Baiklah. Ku rasa kita harus pulang. Aku tidak yakin dengan kondisimu yang seperti ini. Lagi pula, aku sudah bosan dengan pesta ini." Tanpa menunggu jawaban Azyla, Wildan segera mengaitkan tangan pada jemari lentik milik Azyla. Pria itu membawa Azyla berjalan keluar dari tempat pesta berlangsung.
"Tuan Wildan!"
Wildan menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik tanpa melepaskan kaitan tangannya dengan Azyla.
"Ada apa?"
"Maaf, bisakah anda ikut kami sebentar?" Ujar pria berkepala plontos itu.
"Kemana dan untuk apa??"
"Tuan Jack ingin menemui anda secara pribadi di ruangannya."
Wildan tampak menimbang. Ia berpikir bahwa tak akan terjadi apapun jika ia meninggalkan Azyla di sini sejenak. Dan lagi, ia pun penasaran dengan hal apa yang ingin Jack bicarakan padanya. Terlebih lagi pria itu memintanya untuk bicara secara pribadi.
"Zyla, tunggulah disini sebentar. Jangan pergi kemana pun sampai aku kembali. Aku tidak akan lama."
"Iy.. Iyaa." Wildan mengelus kepala Azyla dengan lembut. Pria itu segera mengikuti langkah pria berkepala plontos itu hingga masuk pada satu ruangan besar yang mewah.
Sementara di tempat lain, Azyla yang baru di tinggal beberapa menit saja oleh Wildan, sudah hampir mati karna bosan. Ia ingin berbicara, tapi tidak tahu dengan siapa. Tidak ada satu pun yang ia kenal. Hingga tepukan ringan dibahunya membuatnya tersadar.
"Kau sendirian?" Tanya seorang wanita berambut coklat yang tampak sangat cantik dengan gaun pesta nya.
"Tidak, aku sedang menunggu seseorang. Bagaimana denganmu? Apa kau sendirian?" Azyla balik bertanya. Dalam hati, ia cukup bersyukur dengan kedatangan wanita itu.
Ia mendapatkan teman ngobrol selama menunggu Wildan kembali dari urusannya.
"Yaa, aku kemari mewakili ayahku. Dan kini, aku tengah mencari pemilik pesta yang tak kunjung ku temukan sedari tadi. Padahal, aku sudah sangat jenuh akan pesta ini."
"Hmm, aku pun begitu. Aku pun sudah cukup jenuh dengan pesta ini. Aku sudah sangat merindukan kasur. Tubuhku terasa lelah."
"Hahaha.. Benar sekali. Kurasa kasur adalah tempat yang paling bisa membuat rindu. Ngomong - ngomong, siapa namamu? Aku Alika. Panggil saja Ika." Wanita itu mengulurkan tangannya.
"Aku Azyla. Terserah padamu mau memanggil ku dengan apa." Azyla menerima jabatan tangan Ika dengan senang hati.
"Baiklah Azyla. Sepertinya aku harus kembali mencari pemilik pesta agar aku bisa segera pulang. Lain kali, kita harus bertemu lagi. Ini kartu namaku, tampaknya kau adalah seorang teman yang baik." Ika pergi meninggalkan Azyla yang kembali sendiri. Tapi setidaknya, ia mendapatkan teman baru. Dan Azyla cukup senang dengan itu.
Ia tersenyum menatap kartu nama itu. Dilain waktu, ia akan menghubungi Ika agar mereka bisa bertemu.
"Ayo kita pulang." Azyla tekejut setengah mati saat tiba - tiba Wildan datang sambil menarik tangannya. Pria itu berjalan dengan cepat tanpa memikirkan Azyla yang sulit mengimbangi langkahnya.
"Pak, astaga awh..." Azyla terjatuh karna tidak bisa mengimbangi diri.
"Astaga. Maafkan aku. Apa kaki mu terluka? Maaf." Wildan segera berlutut di hadapan Azyla. Pria itu membuka sepatu Azyla dan mendapati bahwa kaki gadisnya lecet dan sedikit mengeluarkan darah.
"Maafkan aku."
Tanpa meminta izin, Wildan menggendong Azyla menuju mobilnya. Azyla yang merasakan kakinya semakin berdenyut hanya diam saat Wildan membawanya menuju mobil.
.
.
.
Tbc..
11 maret 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomantizmFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)