Follow dulu sebelum baca.
Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN"
.
.
"Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam.
"Tapi sampai kapanp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
.
.
Azyla dengan air mata yang masih membasahi pipinya menarik beberapa keranjang berisi pakaiannya menuju gudang yang terletak di bagian belakang rumah. Ruangan itu penuh dengan debu, entah sudah berapa lama gudang itu tidak pernah dibersihkan. Kini dengan sangat terpaksa ia harus menempati gudang itu sebagai tempat nya untuk tidur. Perlahan ia mulai membersihkan gudang itu. Ia membereskan gudang itu sebersih mungkin agar cukup layak untuk ia tempati.
Tubuhnya terasa begitu lelah setelah melalui tiga jam penuh untuk membersihkan gudang itu. Ia membentang satu kasur tipis yang tersimpan di gudang itu dan duduk diatasnya. Tubuhnya bersandar pada dinding yang warna catnya sudah kusam. Perutnya sedikit sakit. Mungkin karena ia melakukan pekerjaan yang cukup berat. Ia pernah membaca artikel tentang kehamilan. Ia sana tertulis bahwa wanita yang sedang hamil tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat, itu bisa saja membahayakan kesehatan janin. Dan mungkin, rasa sakit di perutnya saat ini adalah efek dari apa yang ia kerjakan.
Azyla mengehela nafas beratnya untuk kesekian kali. Ia berdiri lalu berjalan menuju dapur. Tenggorokan nya terasa kering, ia butuh segelas air untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Kau sudah selesai membersihkan gudang itu? Sebaiknya kau bereskan kamar ku, tak lama lagi kekasihku akan tiba. Kau yang harus membereskan semua barang - barangnya dan menata nya dengan rapi di kamar itu." Ujar Wildan dengan santai.
"Apa kau tidak memikirkan perasaan ku saat menyuruhku untuk melakukan hal itu? Aku ini istrimu. Tidak seharusnya kau membawa wanita lain untuk tinggal di rumah kita." Azyla menatap nanar kearah Wildan. Namun pria itu seolah tak memperdulikan tatapan yang diberikan istrinya itu.
"Jangan banyak bicara. Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jika kau membantah, maka aku tidak akan segan untuk membuat bayi mu lahir lebih cepat." Wildan meninggal Azyla dengan keadaan hati yang hancur. Ancaman pria itu membuatnya takut dan tak bisa apa-apa selain mengikuti perintah suaminya.
Bagaimana mungkin seorang istri rela membersihkan kamar yang biasa ia tempati bersama suaminya untuk di tempati oleh seorang wanita yang diakui suaminya sebagai kekasihnya? Istri mana yang rela jika kekasih suaminya tinggal satu atap bersama mereka? Maka akan hancurlah hati Azyla jika harus melihat kekasih Wildan setiap hari di rumah ini.
Azyla tidak tau kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Wildan memperlakukan nya seperti ini. Pria itu bahkan tidak mau mengakui anak yang ada didalam kandungan nya saat ini. Mendengar tuduhkan keji itu saja sudah membuat hati Azyla hancur berkeping - keping. Bagaimana jika ia melihat kemesraan suaminya dengan kekasihnya? Bisa - bisa Azyla menangis tanpa henti setiap malam.
Dengan langkah gontai, Azyla berjalan menuju kamar Wildan. Dengan berat hati ia membersihkan kamar itu. Kamar yang menjadi saksi bagaimana perlakuan manis Wildan padanya setiap malam sebelum mereka tidur. Mengingat hal itu kembali membuat air matanya jatuh. Entah karna perubahan hormon yang membuatnya menjadi sangat mudah menangis atau memang keadaan yang membuatnya menangis tanpa henti.
•|•
Malam pun tiba. Seorang wanita dengan pakaian ketat masuk kedalam rumah mewah yang ditempati oleh sepasang suami istri. Wanita yang tak lain adalah Ellena itu berjalan masuk sambil menaikkan dagunya dengan sombong. Di belakangnya ada seorang pria yang membawakan kopernya masuk.
"Kau sudah tiba rupanya. Tunggu, aku akan memanggil wanita itu untuk melayanimu." Ujar Wildan yang berdiri di anak tangga terendah.
"Azyla!! Kemari kau!" Pekik Wildan. Suara pria itu menggema di seluruh penjuru ruangan rumah itu membuat Azyla bergerak dengan tergesa-gesa menghampiri suaminya.
"Ellena? Kau_"
"Dia kekasihku. Bawa barang - barangnya kekamar lalu bereskan. Tapi sebelum itu, buatkan aku dan dia teh hangat. Ayo sayang, kita tunggu di ruang keluarga saja." Dengan bangga Ellena bergelayut manja sambil memeluk lengan kokoh milik Wildan lalu mengecup bibir pria itu.
Kedua anak manusia itu meninggalkan Azyla yang masih terpaku ditempatnya. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya kesadaran Azyla kembali. Wanita itu menghela nafasnya lalu membawa koper besar milik Ellena masuk kekamar suaminya. Air matanya tidak berhenti selama ia membereskan seluruh barang bawaan Ellena. Hatinya hancur melihat Wildan bersama wanita lain.
Cintanya pada pria itu sudah sangat besar. Ia sudah menyerahkan seluruh hatinya untuk suaminya itu. Tapi apa sekarang? Pria yang teramat ia cintai itu malah menghancurkan hatinya tanpa berpikir. Rasanya, ia sama sekali tidak melakukan kesalahan hingga membuat suaminya murka sebesar ini.
"Jika sudah selesai, siapkan aku air hangat. Aku ingin mandi. Tubuhku terasa gerah." Azyla tersentak mendengar suara Ellena yang terdengar angkuh.
"Kau bisa melakukan nya sendiri. Kenapa harus meminta aku yang melakukan nya?" Jawab Azyla.
"Kau membantah? Hei jalang, saat ini kau itu hanyalah sampah yang sudah tidak diinginkan oleh Wildan. Maka dari itu jangan sekali-kali kau membantah perintah ku yang kini adalah kekasihnya. Lakukan saja apa yang aku suruh, tutup mulutmu dan lakukan semua perintahku." Ellena tanpa rasa iba menjambak rambut panjang Azyla. Wanita itu menyeret Azyla hingga didepan pintu kamar mandi.
"Siapkan semua kebutuhkan ku. Jangan sampai ada yang terlupa." Ellena menghempaskan tubuh Azyla hingga membentur pintu kamar mandi lalu ia meninggalkan Azyla yang menangis tertahan.
Kenapa harus seberat ini cobaan yang ia jalani? Kenapa harus melalui orang yang sangat dicintainya? Sungguh ia lebih rela jika dibully oleh Sharly dan kedua temannya dibandingkan harus melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain tepat didepan matanya. Ditambah lagi ia harus melayani seluruh kebutuhan wanita itu. Itu semakin membuat hati nya hancur tak berbentuk.