Follow dulu sebelum baca.
Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN"
.
.
"Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam.
"Tapi sampai kapanp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
.
Matahari mulai menampakkan dirinya sebagai tanda jika malam telah berakhir. Tapi tidak dengan penderitaan yang Azyla alami. Selama tiga bulan lebih sejak kepulangan Wildan dari Kanada dengan membawa Ellena tinggal di rumah mereka, Azyla terus menerima perlakuan buruk. Baik Wildan maupun Ellena tak jarang mengasari tubuhnya. Menghancurkan hatinya dengan perkataan mereka yang begitu kejam.
Dan saat ini, wanita yang sedang hamil muda itu harus bertahan di tengah kedinginan malam tanpa sehelai pun selimut yang menutupi tubuhnya. Bibirnya pucat dengan suhu tubuh yang mulai naik. Matanya masih terpejam tapi mulutnya sudah ribut meracau. Wanita itu terlihat semakin menyedihkan dengan pakaian lusuh yang membalut dirinya. Kedua tangannya memeluk perutnya yang masih datar. Seperti sedang melindungi anaknya dari bahaya yang mengancam.
Brakkk
Azyla tersentak saat mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa. Hal itu langsung menambahkan rasa nyeri yang sedari tadi sudah bersemayam di kepalanya. Tenaganya seolah habis dan ia tak bisa bergerak walau hanya untuk duduk. Tubuhnya benar-benar terasa lemas tak berdaya.
Di bibir pintu berdirilah seorang wanita yang masih menggunakan jubah tidurnya yang tipis. Wanita itu menunjukan wajah garangnya sembari meletakan kedua tangannya di pinggang. Ia mulai mendekati Azyla yang masih terbaring lemas. Kaki nya Bergerak santai mendorong tubuh Azyla yang awalnya berada dalam posisi miring kini menjadi terlentang.
"Hei wanita murahan, bangun lah. Siapkan sarapan untukku dan kekasihku. Kami berdua butuh tenaga untuk bekerja dan bercinta." Ujar Ellena sambil menendang pelan tubuh Azyla.
Azyla hanya diam, bibirnya kelu tak mampu menjawab. Tapi pendengaran nya masih berfungsi sangat baik, hingga ia dapat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ellena dengan sangat jelas. Sudah empat hari ia sakit dan hari ini adalah yang terparah. Selama ini, ia tak diberikan makan dengan layak. Ellena memberinya makanan seolah ia adalah binatang. Wanita itu memberikan nya nasi putih yang dicampur dengan air yang mungkin berasal dari keran. Azyla terpaksa memakan makanan tak layak itu mengingat ada kehidupan yang butuh asupan didalam perutnya.
"Hei jalang, kenapa hanya diam? Cepat bangun dan siapkan kebutuhkan ku. Jangan hanya tidur disini. Cepat bangun!!" Ellena yang mulai kesal pun berteriak. Kakinya melayang dengan ringan menyentuh lengan atas Azyla. Membuat si pemilik tangan meringis.
"Dasar murahan. Kau benar-benar menyusahkan." Ellena menginjak telapak tangan Azyla yang terbentang lemas sebelum ia keluar dari gudang yang kini menjadi kamar Azyla.
Ellena berjalan kembali menuju kamar tempatnya tidur bersama Wildan. Wanita itu menjadi sangat angkuh sejak kepindahannya ke rumah Wildan. Tak jarang ia berlaku seenaknya pada Meli yang tak lain adalah pelayan di rumah itu dan juga Azyla. Wanita itu seringkali bertindak kasar pada Azyla walaupun ia tau jika Azyla tengah hamil. Selama ia tinggal di rumah itu pula Azyla dilarang keras untuk menggunakan ponsel dan keluar rumah tanpa izin darinya atau Wildan.
"Dari mana kau?" Ellena dikagetkan dengan pertanyaan Wildan saat ia baru saja hendak memasuki kamar tidur mereka.
"Ah aku baru saja dari dapur, tenggorokan ku terasa kering, aku butuh air." Jawab Ellena.
"Wanita itu sudah menyiapkan sarapan untuk kita?"
"Belum, aku tidak melihatnya sama sekali di dapur. Mungkin ia masih tidur, aku tidak tau."
"Biar aku yang melihat nya di gudang itu." Wildan berdiri dan mulai berjalan menuju gudang yang kini menjadi kamar Azyla.
Setibanya di gudang itu, ia membuka pintu nya dengan pelan lalu tampak lah sesosok wanita yang terbaring lemah tak berdaya didepannya. Ia mendekati Azyla yang jaraknya hanya sekitar sepuluh kaki dari tempatnya berdiri. Wildan berjongkok untuk lalu menempelkan telapak tangannya didahi Azyla. Matanya membulat saat ia merasa kulitnya terasa hampir terbakar akibat panas yang dihasilkan dari tubuh Azyla.
Ia panik. Pikirannya tak tentu arah, ia langsung menggendong Azyla menuju garasi. Dengan keras ia berteriak memanggil supirnya agar segera menghidupkan mesin mobil. Seketika semua orang yang ada di rumah itu menjadi panik melihat keadaan Azyla yang sangat mengenaskan.
•|•
"Nyonya Azyla perlu dirawat secara intensif selama dua atau tiga hari. Suhu tubuhnya sangat tinggi, Nyonya Azyla pun kehilangan banyak cairan dan kekurangan vitamin. Sepertinya ia memiliki masalah pada pola makanan nya sehingga daya tahan tubuhnya menjadi sangat lemah. Tapi syukurlah, janinnya masih kuat didalam kandungan nya. Namun meskipun begitu, nyonya Azyla tetap harus menjaga pola makan dan istirahat yang cukup."
Wildan mengangguk tanda ia mengerti dengan semua yang dokter itu katakan. Dokter itu tersenyum lalu berkata, "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."
Wildan duduk di kursi yang tak jauh darinya. Matanya menatap Azyla yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tangannya pun dipasangi selang infus untuk memasukan cairan kedalam tubuhnya.
Setelah satu jam lebih ia mengamati Azyla tanpa melakukan apapun, akhirnya pria bertubuh jangkung itu berdiri dan keluar dari kamar inap Azyla.
. . . . TBC 💕💕💕 11 Desember 2019 .
.
. . . . Hai gaiz🖐️🖐️🖐️🖐️
.
.
.
Ada kata atau kalimat buat Ellena?
.
.
.
. See u gaiz 🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.