"Perlahan..
Rasa ini mulai tumbuh.
Hati mulai merasa nyaman dan jiwa pun mulai terasa tenang kala dua raga tengah bersama.
Saling bercanda yang memimbulkan tawa bahagia.
Mungkinkah ini awal untuk bahagia setelah lama menderita?"
•|•
Wildan tersenyum menatap langit pagi yang begitu cerah. Sama seperti hatinya yang sangat cerah pagi ini. Pria berparas bak dewa itu meregangkan semua otot tubuhnya seraya menikmati semilir angin pagi yang terasa segar.
Tak lupa dengan seulas senyuman manis yang belum hilang sejak matanya terbuka. Pria itu masih teringat dengan kejadian semalam, hatinya terasa begitu bahagia mengingat Azyla yang membalas ciuman nya. Meskipun dengan cara yang sangat kaku, hal itu mampu membuat Wildan terbang ke langit ketujuh.
Puas menikmati angin pagi dari balkon kamarnya, Wildan lekas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Pagi ini memang tidak ada jadwal kampus, tapi ia harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan penting.
Selesai dengan seluruh kegiatannya, kini Wildan tampak begitu rapi dengan berbalutkan pakaian formal nya. Rambut yang ia sisir dengan rapi pun menambah kadar ketampanannya. Wildan menyemprotkan parfum nya pada beberapa titik di tubuhnya. Dirasa cukup, pria itu segera keluar dari kamarnya untuk menuju dapur.
Ia yakin, Azyla akan menghindarinya. Pria itu tahu bahwa Azyla akan merasa malu karna kejadian semalam. Karna seperti itu lah para wanita kebanyakan. Wildan tak lagi heran karna hal itu.
Setibanya Wildan di dapur, netra nya tak melihat Azyla sama sekali. Yang ia lihat hanyalah sepiring sarapan dengan satu kertas kecil yang tertempel pada gelas berisikan susu yang biasa Wildan konsumsi saat pagi.
'Sarapan lah terlebih dahulu sebelum pergi bekerja, aku pergi duluan tuan pemaksa :)'
Wildan tersenyum membaca pesan singkat yang Azyla tulis. Ia tak ingin menghabiskan waktu lebih banyak, Wildan lekas menghabiskan sarapan yang Azyla buatkan untuknya.
Dan untuk pagi ini, Wildan memaklumi Azyla yang pergi lebih dulu dari nya, dan ia tak akan marah pada gadis itu seketika ia pulang nanti. Wildan tahu bahwa ini adalah caranya untuk menghindar karna ciuman itu.
•|•
"Pak, sepertinya kita harus pergi ke Dubai selama beberapa hari. Ada masalah yang cukup serius pada cabang perusahaan kita disana." Ujar Ellena seraya memberikan beberapa dokumen penting tentang laporan perusahaan di Dubai.
Wildan membaca seluruh isi dokumen itu dengan serius. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa tinggi ketika sedang serius bekerja.
"Baiklah, besok kita akan pergi ke Dubai. Jadi untuk hari ini, persiapkan semua keperluan yang harus dibawa. Dan bawa beberapa orang staf lain untuk ikut bersama kita." Ujar Wildan tanpa melihat Ellena. Wanita itu sempat berdecak kesal karna Wildan selalu mengabaikan dirinya.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Ellena pergi dari ruangan Wildan.
Wanita itu tampak kesal karna Wildan tak sedikitpun melihat padanya. Padahal, ia telah menggunakan baju yang sangat ketat untuk menggoda Wildan. Namun sayangnya, Wildan sama sekali tidak tergoda melihat tubuhnya, dan itu benar - benar membuat Ellena semakin bertekad untuk mendapatkan Wildan.
•|•
Siang pun tiba, Wildan yang tahu bahwa Azyla akan segera pulang pun sengaja mengemudikan mobilnya menuju kampus untuk menjemput gadisnya.
Pria itu akan memberi tahu Azyla bila ia akan pergi ke Dubai esok. Sebenarnya ia ingin membawa Azyla agar ikut dengannya, namun setelah mengingat Azyla yang telah di ujung semester pun jadi tak tega. Ia tak ingin Azyla tertertinggal begitu banyak materi karna terlalu banyak meliburkan diri karna nya.
Belum sampai Wildan di universitas miliknya, matanya telah melihat gadis yang ia cintai tengah berdiri di halte dekat kampus itu. Kedua sudut bibirnya terangkat kala melihat wajah Azyla.
Wildan memberhentikan mobilnya tepat di depan Azyla. Pria itu dapat melihat dengan jelas wajah terkejut Azyla ketika melihat mobilnya tiba.
"Naiklah, ayo kita pulang." Ujar Wildan seraya keluar dari mobilnya. Pria itu berjalan menuju pintu kursi penumpang, ia berniat membukakan pintu untuk Azyla masuk.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau masih bekerja dikantor?" Tanya Azyla yang masih dengan wajah bingung nya.
"Aku disini karna ingin menjemput calon istriku yang sudah pulang kuliah, dan lebih baik kita cepat pulang. Kurasa tak lama lagi akan turun hujan." Ujar Wildan seraya tu mengamati langit yang mulai menggelap.
"Ba.. Baiklah." Azyla masuk kedalam mobil Wildan tanpa memperbanyak pertanyaan. Gadis itu masih gugup dan malu karna insident ciuman semalam.
"Kamu ingin sesuatu? Mau pizza? Ayo kita beli sesuatu untuk nanti."
"Nanti? Memangnya kita akan melakukan hal apa?"
"Aku ingin menonton film bersama mu. Jadi kurasa akan lebih baik dengan sedikit cemilan untuk menemani agar tidak bosan."
Senyuman manis Azyla terbit kala mendengar ucapan Wildan. Gadis itu mulai merasakan sesuatu yang aneh ketika bersama Wildan. Seperti ada getaran - getaran listrik ketika pandangan mereka bertemu.
Ia perlahan mulai merasa nyaman akan perlakuan pria itu. Perlakuan Wildan yang begitu lembut selalu berhasil membuat hatinya berbunga - bunga.
•|•
Tbc...
-----___---_----__=_=-=_=----------------______=======___-------++-__=_-=-=_=--++++-++++++____27 juni 2019. ----------++------+------ _--------______________----=-=--=_---------======--
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
Roman d'amourFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)