BL 🍃// 019

891 33 1
                                        

"Hei! Kamu Azyla kan?" Azyla mengangguk kecil sambil membenarkan kacamatanya.

" Kamu dipanggil sama pak Wildan di ruangannya. Beliau minta kamu segera datang ke ruangannya." Ujar gadis itu.

"Baiklah, terima kasih untuk informasi nya."

Gadis yang ada di hadapan Azyla itu hanya mengangguk singkat lalu pergi melanjutkan langkahnya.

"Ada apa lagi dia ingin menemuiku? Tidak cukup kah bertemu di rumah saja? Huhh~ dasar tuan menyebalkan." Kesal Azyla. Dengan malas, Azyla melangkahkan kakinya menuju ruangan Wildan.

Gadis itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Setelah mendengar jawaban dari si pemilik ruangan, baru lah ia masuk kedalam ruangan itu.

"Ada yang menyampaikan pada saya, katanya anda ingin bertemu dengan saya. Ada apa pak?"

"Duduk lah terlebih dahulu. Aku harus mengambil sesuatu."

Azyla duduk di kursi yang di sediakan untuk tamu. Sambil menunggu Wildan kembali, gadis itu melihat setiap sudut ruangan mewah itu dengan kagum.

Azyla kembali membenarkan duduknya kala melihat Wildan kembali dengan satu kotak hitam yang di hiasi oleh pita putih.

Wildan membuka kotak itu dan meletakannya di hadapan Azyla. Pria itu berdiri sambil bersandar pada meja kerjanya.

"Ini, kamu harus gunakan ini nanti malam. Karna, aku akan membawamu bertemu dengan ibu ku. Kita akan membicarakan perihal pernikahan kita dengan ibu ku. Dan satu lagi, jangan gunakan bahasa formal. Gunakan lah 'aku-kamu', karna kita ini adalah pasangan kekasih yang akan menikah." Wildan berucap dengan senyuman diwajahnya.

"Maaf, tapi saya menolak. Sudah puluhan bahkan ratusan kali saya menolak untuk menikah dengan anda. Tapi, kenapa anda terus saja memaksa saya? Dan lagi, saya ingatkan kepada anda, tuan Wildana Gillbert yang terhormat. Kita bukanlah sepasang kekasih. Hubungan yang ada diantara kita hanyalah sebatas dosen dan mahasiswi." Azyla bangkit dari tempatnya duduk. Gadis itu berniat pergi tanpa permisi.

Belum sampai ia menyentuh gagang pintu, tangannya lebih dulu ditarik oleh Wildan dan tubuhnya di kunci oleh pria itu. Wildan mengunci pintu ruangan itu dan memasukan kunci nya kedalam saku celananya.

Nafas Azyla tercekat karna berada pada posisi yang sangat dekat dengan Wildan. Jantung gadis itu seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Matanya seakan lupa untuk berkedip karna sibuk menatap manik mata Wildan.

Azyla semakin tak bisa bernafas karna Wildan yang kian mendekat kan wajahnya. Pria itu menyatukan dahi mereka. Membuat Azyla menutup kedua matanya.

"Berikan aku alasan, kenapa kamu menolak menikah dengan ku. Aku mencintaimu dengan tulus. Tak ada lagi yang perlu kamu ragukan diriku. Aku bisa menghidupi mu. Aku pria yang mapan, wajahku sudah sangat tampan. Bahkan banyak wanita yang menggilai diriku. Lalu kenapa kamu malah menolak diriku?" Ujar Wildan berbisik.

Azyla diam. Gadis itu sama sekali tak mendengar bisikan Wildan. Ia sibuk menetralkan detak jantungnya yang semakin kencang.

"Kenapa sayang? Kenapa kamu hanya diam? Apa jantung mu berdegub kencang? Kamu gugup? Bukankah itu salah satu pertanda bahwa kamu mulai memiliki perasaan untukku? Ayo lah sayang, jangan terus menyangkal perasaan mu sendiri."

"Say.. Saya... Saya tidak memiliki perasaan apapun untuk anda. Sama sekali tidak ada." Jawab Azyla dengan gugup.

"Benarkah? Kurasa perasaanmu perlu di bukti kan."

Tanpa permisi, Wildan melumat bibir Azyla. Gadis itu terdiam karna terkejut. Pikiran dan tubuhnya bertolak belakang. Pikirannya sibuk memberontak agar Azyla mendorong tubuh Wildan. Namun, tubuhnya seolah tak ingin Wildan berhenti, tubuhnya benar - benar menikmati lumatan demi lumatan lembut yang Wildan berikan.

Selang beberapa detik, Wildan mengakhiri ciuman itu, pria itu dan Azyla lekas menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru - paru mereka. Wildan tersenyum layaknya iblis mengingat Azyla yang sama sekali tidak menolak sentuhan nya.

Pria itu berbalik mengambil kotak hitam itu dan kembali memberikannya pada Azyla.

"Tidak ada lagi bantahan. Bawa ini dan segera keluar dari ruangan ini. Jika kamu lebih lama berada disini, aku tidak bisa menjamin apakah aku masih bisa menahan hasrat ini atau tidak." Azyla hanya diam sambil memegangi kotak yang Wildan berikan.

Ia pun masih dalam kondisi tak sadar saat Wildan membukakan pintu ruangan itu dan mendorong nya keluar dengan lembut. Azyla terdiam layaknya orang bodoh didepan pintu ruangan Wildan.

Sementara Wildan, pria itu tengah duduk di kursi kerjanya sambil tersenyum bahagia. Ia tahu, tahu bahwa ia baru saja mengambil firstkiss gadisnya. Ia senang bukan main karna berhasil menjadi pria pertama untuk Azyla. Dan dalam hati, ia akan memastikan bahwa dirinya jugalah yang akan menjadi pria terakhir untuk Azyla.

•|•

Malam pun tiba. Azyla menggunakan gaun yang Wildan berikan tanpa sedikitpun rasa kesal di hatinya. Saat ini, ia tengah merasa gugup karna ingin bertemu dengan ibu dari pria menyebalkan itu. Ia takut melakukan kesalahan yang membuat Wildan malu membawanya kehadapan nyonya besar Gillbert.

Tokk.. Tokk.. Tokkk..

Azyla kembali memastikan bahwa dirinya sudah sangat rapi sebelum membukakan pintu. Dirasa cukup, Azyla segera membukakan pintu kamarnya dan mendapati Wildan yang sudah rapi dengan setelan formal nya. Pria itu tampak begitu tampan. Azyla bahkan sampai terpanah melihat kharisma yang keluar dari Wildan.

"Kamu cantik. Bahkan sangat cantik. Tapi, bisakah kamu melepaskan kacamata ini? Apa ini minus?"

"Umhh.. Tidak. Ini hanya kacamata baca. Tunggu sebentar, saya letakan ini diatas meja." Wildan tersenyum menatap gadisnya yang begitu cantik di dalam balutan dress indah itu.

"Su.. Sudah." Azyla masih saja gugup saat berdekatakan dengan Wildan.

Gadis itu masih teringat akan kejadian tadi siang. Dimana Wildan mencium bibir nya tanpa permisi dan yang membuat dirinya merasa aneh sendiri adalah, kenapa sampai saat ini, ia tidak marah karna Wildan mencuri ciuman pertama nya. Dan malah mengikuti pria itu untuk bertemu dengan ibu nya.

"Ayo, aku yakin. Mommy pasti akan menyukai mu. Kau benar - benar menantu yang mommy inginkan. Sekaligus calon istri yang sangat aku dambakan." Ujar Wildan yang membuat rona merah menjalar dipipi Azyla.

"Untuk kali ini, Aku tak ingin kehilangan lagi. Aku tak ingin Azyla menjadi milik orang lain. Jika dengan memaksa bisa membuatku mendapatkannya, maka hal itu lah yang akan terus ku lakukan sampai aku benar - benar mendapatkan wanita ku ini." Batin Wildan.

•|•


Tbc.

----------------------_-_-_-_-_-_-_---_-_---------------_-_-_---_______------______---__-----------------------------------------------------------------_-_-_----------_-------___-__-_--------_-_---_-_---_------------____----_-------

Bad Life [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang