"Pak, saya pergi ke kampus dengan Bus saja."
"Tidak, kamu harus pergi denganku."
"Tapi pak,, saya bisa sendiri. Saya bukan lagi anak kecil yang perlu di jaga kemana pun." Bantah Azyla.
"Tetap saja tidak. Saat ini situasi kamu itu sedang tidak aman."
"Astaga.. Pak, saya bisa jaga diri. Lagi pula, ini hanya ke kampus. Tidak akan terjadi apapun."
"Kenapa kamu suka sekali membantah hmm? Saya bilang tidak ya tidak. Sudah, ambil tas mu dan kita pergi sekarang." Putus Wildan.
"Dasar pemaksa." Rutuk Azyla seraya menyandang tasnya.
Gadis itu mengikuti Wildan menuju mobilnya. Sejujurnya, ia sangat kesal pada Wildan yang selalu saja memaksakan apa yang ia kehendaki padanya. Padahal, Azyla hanya ingin menghindari resiko di bully. Ia tak ingin ada mahasiswi kampusnya yang melihat ketika ia sedang bersama Wildan. Jika sampai itu terjadi, maka tamat lah Azyla. Gadis itu akan semakin di bully dan di cap sebagai gadis penggoda. Ditambah lagi dengan kasus Sharly yang di keluarkan karna membully dirinya. Bisa - bisa pemandangan dirinya keluar dari mobil Wildan malah semakin membenarkan opini para gadis - gadis penggosip itu.
Belum ada setengah perjalanan, Azyla sibuk meminta Wildan untuk menurunkannya didepan halte bus yang ada di dekat kampus nya. gadis itu ingin berjalan saja menuju kampus. Ia tak ingin menambah masalah, karna semua masalah yang ada saja sudah cukup membuat kepalanya pusing.
"Kenapa aku harus menurunkanmu disana? Aku tidak ingin dikatai pengecut yang menurunkan gadis di tengah jalan."
"Pak,, tidak akan ada yang berkata seperti itu. Lagipula, ini adalah permintaan saya. Turun kan saja saya di depan halte. Biarkan saya berjalan menuju kampus. Lagipula jarak halte itu tidak terlalu jauh dari kampus."
"Kau itu tuli yaa? Aku tidak akan menurunkanmu disana. Terlalu berbahaya kau tahu." Wildan tetap pada keinginannya untuk tidak memberhentikan mobilnya kecuali dihalaman parkir kampusnya.
"Bapak selalu mengatakan bahaya. Bahaya apa yang mengancam saya, pak?? Bisa anda jelaskan pada saya? Oh.. Astaga,, saya bisa depresi jika terus begini."
" Jangan depresi, kamu tidak boleh depresi. Aku tidak ingin memiliki istri yang mental nya terganggu."
Azyla memutar bola matanya jengah. Gadis itu tak lagi berniat mengeluarkan suara ketika paham jika Wildan akan memebahas tentang pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.
"Kita akan menikah berberapa bulan lagi. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri, segala persiapan yang lain menjadi tanggung jawab ku. Dan satu minggu lagi aku akan membawa bertemu dengan ibuku. Setelah ibuku kembali dari Paris."
"No!! Saya tidak mau. Perlu berapa kali saya katakan, bahwa saya tidak ingin menikah dengan anda, pak. Tolong jangan terus memaksa saya. Anda benar - benar menyebalkan." Kesal Azyla.
"Aku tidak perlu persetujuanmu. Yang terpenting adalah kamu harus menjadi istriku. Karna hanya aku yang boleh memiliki mu."
Tak sedikitpun pandangan Wildan beralih dari titik fokus nya. Pria itu tetap fokus melihat jalan dan mengabaikan ocehan Azyla yang terus menolak untuk menikah dengannya.
"Kau akan mencintaiku. Lihat saja nanti." Batin Wildan tertawa riang.
"Pak. Anda dengar saya tidak?"
"Tidak ada hal penting yang harus saya dengarkan dari ocehan mu itu. Itu hanya membuat telinga ku sakit."
Azyla mendengus kesal. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Dalam hati, ia masih mengumpati Wildan yang selalu berlaku seenaknya. Selang beberapa menit, mobil mewah itu berhenti.
"Ayo turun, apa kamu akan terus duduk di mobil ini?"
Azyla hanya diam sambil melepaskan seatbelt nya. Gadis itu keluar dengan wajah kesalnya. Hal itu membuat Wildan terkekeh. Menurutnya, wajah kesal Azyla terlihat sangat lucu.
"Kau akan mencintaiku Azyla, akan ku pasti kan itu."
•|•
"Jadi benar yang Sharly katakan yaa, kau itu hanya seorang jalang yang menggoda para pria. Aku tak menyangka jika kau bisa menggoda pak Wildan, apa yang kau berikan padanya? Sampai - sampai kau bisa terus bersama pak Wildan?" Ujar Evelyn yang tiba - tiba muncul di hadapan Azyla.
Azyla hanya menghela nafas, ia sudah menduga bahwa dengan Sharly yang di DO, akan memimbulkan banyak masalah untuknya.
"Kenapa hanya diam? Apa mulutmu itu sudah tidak lagi berfungsi?" Suara Angel terdengar menyeramkan ditelinga Azyla.
Gadis itu hanya diam sambil menunduk. Entah kenapa, ia berharap Wildan yang datang menyelamatkannya dari dua gadis didepan nya ini.
"Kurasa dia lebih suka bicara ditempat yang lebih sepi Eve. Ayo kita bawa dia ketaman belakang." Evelyn yang mendengar perkataan Angel dengan senang hati menarik rambut Azyla menuju gudang yang ada di taman belakang kampus.
Azyla terus meringis dan memberontak. Gadis itu tak henti - hentinya meminta pada kedua gadis kejam itu untuk melepaskan dirinya. Azyla juga tak henti menjelaskan bahwa diri tidak tau apapun mengenai Sharly yang di DO.
Namun, dengan hati yang telah di balut oleh amarah dan benci, kedua gadis itu tak menghiraukan tangisan dan penjelasan Azyla. Mereka terus menarik Azyla dengan kasar melewati lorong sepi hingga sampai di gudang kampus. Gudang kotor yang di penuhi oleh debu.
"Masuk lah jalang. Kami harus memberi mu pelajaran agar tidak menjadi wanita nakal."
Evelyn membukakan pintu agar Angel dapat dengan mudah menarik Azyla masuk kedalam gudang itu.
•|•
TBC 💕🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
Roman d'amourFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)