SA 🍃 // 49

945 28 2
                                        

Happy Reading all 💕
.

.

.

.

.

Pagi ini, Azyla sudah diperolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Ia senang karena sudah dinyatakan sehat oleh dokter, namun juga sedih mengingat ia harus kembali ke rumah dimana ia harus menerima dirinya yang diperlakukan layaknya pembantu dan di pukul tanpa tau kesalahannya.

Azyla mengehela nafas berat seraya memasukan beberapa potong pakaian kedalam tas yang ukurannya tidak terlalu besar. Ia harus kuat menghadapi cobaan ini demi anaknya. Walaupun Wildan enggan mengakui keberadaan anak ini, setidaknya masih ada dirinya dan sang kakak, Jack yang sangat menyayangi dan perduli pada anaknya.

Bagi Azyla, anaknya adalah segalanya, nafasnya, bahagianya, dan hidupnya. Maka dari itu ia harus kuat menghadapi semua cobaan yang datang meskipun itu sebesar Neptunus. Azyla harus kuat dan tabah demi anaknya. Hanya anaknya yang kini menjadi penyemangat hidupnya.

"Baiklah sayang, jika ayahmu tidak mau mengakui mu sebagai anak kandungnya tak apa, biar Bunda yang memberikan segala bentuk kasih sayang padamu. Kamu harus kuat ya sayang, demi Bunda. Dan Bunda pun juga akan berusaha untuk kuat demi kamu." Azyla mengelus perutnya dengan sayang. Wanita itu tersenyum getir memikirkan hal buruk apa yang menyambutnya di rumah nanti.

Wanita yang tengah hamil itu berjalan dengan langkah santai keluar dari rumah sakit. Tangannya menjinjing tas yang berisikan pakaiannya. Ia berjalan terus hingga sampai di halte. Tak perlu menunggu lama, akhirnya taksi pun berhenti didepannya. Azyla masuk kedalam taksi itu dan menyebutkan alamat rumahnya.

Dan sinilah Azyla sekarang. Wanita itu berdiri tegap didepan rumahnya. Beberapa kali Azyla mengehela nafas sebelum ia melangkah masuk kedalam rumah itu.

"Nyonya? Anda sudah sehat? Alhamdulillah anda sudah pulang. Maaf kemarin kami tidak datang ke rumah sakit saat anda dirawat. Saat kami ingin pergi, Tuan melarang kami semua, dan ya seperti yang anda tau, kami tidak bisa membantah perintah tuan." Ujar sang pria berseragam putih dan celana hitam itu pada Azyla.

"Tidak masalah pak, alhamdulillah saya baik - baik saja. Terimakasih sudah berniat menjenguk saya kemarin. Sekarang saya sudah sehat, bagaimana dengan bapak sendiri? Apa kabar?" Jawab Azyla dengan ramah. Sikap ramah wanita itu tidak pernah luntur walau bagaimanapun. Itulah yang membuat semua pekerja di rumah Wildan itu menyukai Azyla.

"Alhamdulillah baik. Terimakasih sudah menanyakan kabar saya nyonya." Pak Ardi yang merupakan satpam dirumah itupun terkekeh.

"Apa Tuan Wildan ada di rumah?"

"Ada Nyah. Tuan ada didalam, tapi si anu, nona Ellena sepertinya sedang keluar." Azyla mengangguk mengerti. Ia rasa ia harus memanfaatkan waktu dimana tidak ada Ellena disamping Wildan untuk bicara dengan laki - laki itu.

"Baiklah pak, kalau begitu saya masuk dulu. Selamat bekerja." Azyla tersenyum ramah lalu mulai melangkah masuk kedalam rumahnya.

Netra wanita itu sibuk mencari keberadaan Wildan. Ia manaiki satu persatu anak tangga hingga sampai dilantai dua rumah itu. Dimana terdapat kamar utama dan ruang kerja milik pria yang masih menjadi suaminya.

Azyla membuka pintu kamar yang biasa ditempati Wildan, namun saat pintu itu terbuka, ia tak menemukan Wildan disana. Kamar itu kosong dengan tempat tidur yang rapih. Wanita itu kembali melangkah menuju ruangan kerja suaminya. Ia yakin jika Wildan ada disana.

'tokk tokk tokk'

"Masuklah!" Suara berat milik seorang pria terdengar dari dalam ruangan itu. Azyla mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya untuk membuka pintu kayu itu dan masuk kedalamnya.

"Sudah sembuh?" Wildan berkata tanpa mengalihkan perhatian nya dari laptop yang ada dihadapannya.

"Ya, dokter bilang aku sudah sembuh. Aku ingin bicara dengan mu mengenai suatu hal. Ini penting."

"Tentang apa? Apa ini mengenai perselingkuhan mu dengan pria bajingan itu? Jika ya, maka aku tidak tertarik membahas ayah dari anak haram itu. Itu kisah yang menjijikkan untuk didengar." Kata Wildan masih dengan nada bicara yang tajam menusuk.

"Tolong lah jangan seperti ini. Aku tidak pernah berselingkuh dibelakangmu. Anak ini bukan anak haram, dia anakmu. Kumohon dengarkan aku, dan percayalah padaku. Tidak pernah sekalipun aku menghinatimu. Tidak pernah. Selama delapan bulan pernikahan kita, aku selalu setia menjaga hatiku untukmu karena aku tau, yang berhak atas diriku saat ini hanya kau, suamiku."

"Oh Tuhan. Aku bahkan muak mendengar perkataan mu itu. Aku tidak percaya padamu. Kenapa kau berbohong padaku?! Apa bajingan itu tidak mau bertanggung jawab atas anak haram itu?! Makanya kau mengatakan jika itu adalah anakku?! Kau ingin aku yang bertanggung jawab dan menjadi ayah nya!? Aku tidak sudi walaupun hanya didalam mimpi." Bentak Wildan.

Azyla terduduk sambil menangis. Kepalanya menggeleng kuat untuk membantah semua tuduhan Wildan terhadap dirinya.

"Tidak sayang, itu semua tidak benar. Tolong percaya padaku. Anak ini milikmu, aku ini hanya milikmu. Tidak pernah ada satupun pria lain yang menyentuhku selain kau. Hanya kau pria yang menyentuhku selama ini. Kenapa kau bisa menuduhku berselingkuh? Dari mana datangnya kabar sialan itu?" Azyla menangis terisak.

Wildan berjalan mendekati Azyla yang masih duduk diatas lantai sambil menangis. "Jack. Salah satu orang ku melaporkan jika saat aku di Kanada, kau pergi ke rumah musuh sialan ku itu. Apa yang kau lakukan disana jalang? Kau bahkan tidak meminta izin padaku saat itu. Apa itu yang disebut dengan kau menganggap ku sebagai suamimu?"

"Demi Tuhan Wildan, Jack dan aku tidak melakukan hubungan terlarang seperti yang kau katakan. Aku dan dia bersaudara. Kami terpisah saat masih kecil, dan aku datang ke rumahnya itu hanya untuk mengklarifikasi apakah benar kami ini saudara atau tidak. Aku tidak menghinatimu, walau hanya niat sekalipun tidak pernah. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri."

Wildan terkekeh geli, wajahnya semakin menyeramkan. "Oh sayangku, itu cerita yang sangat menyedihkan. Tapi kau perlu tau bahwa aku tidak bodoh untuk percaya pada alasan seperti itu. Kalau begitu, bisa saja aku mengatakan jika aku dan Ellena sebenarnya juga bersaudara. Ya, kami juga saudara yang terpisah saat kecil."

"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu? Aku tidak membohongimu, aku dan Jack benar - benar saudara kandung. Saat kecil kami mengalami kec_"

"Diam!! Aku tidak butuh mendengarkan cerita bodoh yang kau karang itu. Aku tidak perduli dan aku tidak percaya. Selamanya kau hanyalah seorang penghianat yang tak tau diri." Setiap kata yang keluar dari mulut Wildan terasa sangat tajam menusuk hatinya.

Pria itu berjongkok untuk menyamakan tinggi dirinya dengan Azyla. Tangan besarnya menghapus air mata wanita itu, merapikan rambutnya yang berantakan. "Entah mengapa, semakin hari kau terlihat semakin menggairahkan. Kau ingat bukan? tugas seorang istri adalah melayani suaminya. Maka dari itu, aku ingin kau melayaniku sekarang. Aku lelah berdebat, aku ingin kau memuaskan ku dengan tubuh mu ini." Ujar Wildan sambil menarik tubuh Azyla agar berdiri.

Pria itu membimbing Azyla mendekat ke meja kerjanya. Azyla sedikit memberontak, sejujurnya ia tidak rela tubuhnya disentuh oleh Wildan disaat seperti ini, ia merasa seperti jalang.

"Nikmati dan jangan memberontak. kau tau aku bisa saja melenyapkan anak didalam perutmu itu." Lagi - lagi Azyla menangis. Ia pasrah. Tidak lagi berani memberontak walaupun hanya sedikit.

Ia menerima semua sentuhan Wildan dengan berderai air mata. Wildan tidak lagi memberikan sentuhan yang lembut, ia memperlakukan Azyla seperti binatang. Menyetubuhi nya dengan kasar. Seperti yang sudah pernah ia terima dari pria itu sebelumnya.

•|•









TBC.
.
.
.
19 Desember 19
.
.
.
Gimna Nih? Wildan gak percaya Azyla jujur padahal. :(
.
.
Ada yang mau hujat Wildan?
.
.
.
.
.
See u next 🖤🖤

Bad Life [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang