Author Pov.
"Azyla!!"
Azyla terkejut mendengar suara perempuan yang tak asing baginya. Ia menghembuskan nafasnya sebelum berbalik melihat sumber teriakan itu.
"Dasar jalang!! Apa yang kau lakukan?? Hah?!! Apa kau menggoda pak Wildan hingga ia begitu membela mu!!?? Aku sungguh membenci dirimu yang menjijikan ini!!! " Pekik Sharly sambil menarik rambut Azyla hingga terlepas dari kunciran nya.
" Akhh... Saa.. Kithh.. Aahhh." Ringisan Azyla yang membuat tangan Sharly semakin gencar menarik rambutnya.
"Kau tau? Aku di DO karna mu!! Kau yang menjadi alasan kenapa aku di keluarkan langsung oleh pemilik kampus ini! Dasar jalang penggoda!! Kau sengaja kan menggoda pak Wildan dengan tubuhmu ini??!! Lalu kau membujuknya untuk mengeluarkan aku dari kampus ini kan? Dasar jalang! Wanita murahan."
Azyla hanya bisa menanggis menahan sakit di kepala dan hatinya yang karna hinaan Sharly. Sungguh, apa yang Sharly katakan itu tidak lah benar. Azyla tidak pernah sekalipun menggoda seorang pria, apa lagi itu dosennya. Dan apa tadi? Sharly di DO? ia bahkan tak tau apapun akan hal itu.
"Tidak Sharly.. Hiks.. Aku tidak me..melakukan hal yang kau tuduhkan. Hiks.. Sama sekali tidak hiks.." Lirih Azyla.
"Dasar pembohong. Ternyata selain jalang, kau juga seorang pembohong. Aku semakin membenci dirimu!" Sharly melayangkan kakinya di perut Azyla dengan keras hingga gadis itu kehilangan kesadarannya.
Seketika Sharly panik. Amarah gadis itu berganti menjadi takut dan gelisah. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk lari dan meninggalkan Azyla yang tergelatak tak berdaya itu sendirian.
Sendirian, tak ada siapa pun di Taman belakang gedung kampus ini. Entah bagaimana nasib Azyla yang tak sadarkan diri itu. Semoga akan datang seseorang untuk membantu gadis malang itu.
Tak berapa lama, Tuhan mendatangkan seseorang untuk menolong Azyla. Pria itu berlari dengan kencang menuju Azyla. Lisannya terus mengumpat dan menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga gadis nya dengan baik. Yaa, pria itu adalah Wildan.
Wildan segera menggendong tubuh mungil Azyla menuju mobilnya dan segera pergi menuju rumah sakit.
•|•
"Bagaimana keadaan nya dok? Apa dia baik - baik saja?" Dokter itu hanya tersenyum simpul melihat wajah Wildan yang begitu panik.
"Tidak ada masalah yang serius. Nona Azyla hanya kelelahan dan sedikit syok. Ia hanya membutuhkan istirahat yang cukup. Untuk lebam dibagian perutnya itu tidak apa - apa, sekitar 7 sampai 10 hari lagi mungkin akan hilang. Atau mungkin bisa lebih cepat." Ujar dokter perempuan itu dengan sopan.
Wildan mulai tenang mendengar ucapan dokter itu. Namun, ia masih belum puas jika Azyla belum sadar.
"Baiklah dok, terima kasih." Ujar Wildan yang masih menatap wanitanya dengan iba.
"Sama - sama. Jika ada keadaan darurat anda bisa panggil saya. Saya permisi dulu." Dokter itu keluar bersama dengan dua orang perawat di belakangnya.
Wildan mengepalkan tangannya karna marah. Kali ini Wildan tak akan segan - segan memberikan balasan pada seseorang yang sudah menjadi penyebab Azyla masuk rumah sakit seperti ini.
Dari kondisi yang ia lihat, Wildan yakin jika Azyla pingsan karna ada seseorang yang melakukan kekerasan pada wanitanya.
Wildan akan memikirkan balasan untuk orang itu nanti, yang kini menjadi penguasa diotaknya adalah Azyla yang masih belum sadarkan diri. Ini sudah setengah jam sejak dokter meninggalkan ia sendiri dikamar inap itu. Tapi Azyla masih saja menutup matanya dan membuat Wildan semakin khawatir.
Wildan meraih tangan mungil Azyla yang terasa dingin itu. Pria itu menggenggam tangan Azyla dengan erat, juga mengecup punggung tangannya beberapa kali.
Wildan tak lagi memikirkan apa yang ia sembunyikan selama ini. Ia bahkan tak perduli dengan apa yang Azyla pikirkan setelah melihatnya khawatir seperti orang gila.
Tiga puluh menit telah berlalu dan kini Azyla mulai menunjukan tanda - tanda bila gadis itu akan segera sadar. Jari - jari tangan Azyla bergerak dan matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Azyla.. Kamu sudah sadar?" Tanya Wildan sambil mengelus pelipis Azyla dengan lembut. Wildan juga menekan tombol darurat disamping ranjang yang Azyla tempati.
"Pak Wildan? Saya dimana? Akhh.. Infus? Saya di_"
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Kamu itu baru saja sadar. Sebentar lagi dokter akan datang memeriksa keadaanmu."
Azyla hanya diam. Gadis itu sibuk mengamati ruangan sekelilingnya yang tampak sangat bersih dengan warna putih. Tak lama dari itu, akhirnya dokter tiba dan memeriksa kembali keadaan tubuhnya yang terasa begitu lemah.
Tbc...
--------------------------------------------------------------------------------
Sharly ny jahat banget yaa.... :(
Kira - kira Sharly masih ada gak yaa setelah di DO? Ayo tebak...
Kasih jawaban kalian di kolom komentar yaa.... :))
Instagram : @rentidwi.a
4.10.2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)