"Ayo Eve, kurasa ini sudah cukup untuk membuat tawa Sharly kembali. Ayo kita biarkan dia beristirahat." Angel menyimpan ponsel hitam nya didalam saku celananya.
Kedua gadis itu keluar dari gudang tua yang dipenuhi debu. Keduanya tampak puas dan bahagia usai menyiksa dan memotret wajah merah Azyla akibat perlakuan kasar mereka.
Sementara Azyla, gadis itu sekuat tenaga menahan tangis nya. Ia tak ingin air matanya jatuh sia - sia hanya karna pembullyan ini. Azyla bangkit dari duduknya dan mulai membenarkan rambutnya yang berantakan.
Dengan menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, Azyla berjalan menuju toilet wanita. Namun, sekuat apapun ia menahan cairan bening itu agar tidak keluar, nyatanya cairan itu berhasil lolos dan membasahi pipinya yang masih memerah akibat tamparan dari kedua sahabat Sharly.
"Kenapa aku selalu tidak bisa melawan. Kenapa aku bodoh sekali! Kenapa aku selalu saja tidak memiliki keberanian untuk melawan mereka?! Aku bodoh!!" Teriak Azyla di akhir kalimat nya sambil menarik rambutnya sendiri.
•|•
"Azyla, ada apa dengan wajahmu? Kau tampak sangat kacau. Jika sedang sakit atau ada sesuatu yang buruk, kau bisa izin untuk pulang." Ujar Khana, salah satu dosen muda yang juga berusaha mendekati Wildan.
"Ah Miss Khana, tidak apa. Saya baik - baik saja."
"Apa maksudmu dengan baik - baik saja? Wajahmu tampak sangat berantakan. Pipi mu memerah seperti habis ditampar. Kondisimu ini sangat tidak baik, kenapa tidak pulang saja?" Azyla tersenyum tulus, gadis itu tak menyangka jika masih ada orang yang perduli padanya, selain Wildan tentunya.
"Tak apa Miss, saya merasa tidak enak jika harus meninggalkan mata kuliah pagi ini. Lagipula, wajah saya juga tidak kenapa - napa. Saya hanya tidak sengaja memakan sesuatu yang menyebabkan alergi saya kambuh. Tapi ini sama sekali tidak menganggu." Bohong Azyla.
"Kau ini keras kepala sekali. Baiklah kalau begitu, semoga kau cepat sembuh. Ku harap kau tidak lagi ceroboh seperti ini." Khana tersenyum manis sebelum melanjutkan langkahnya.
Azyla pun ikut melanjutkan langkahnya menuju kelas. Dengan sedikit menunduk, Azyla berjalan menyusuri lorong yang mulai ramai ini. Jantungnya berdetak kencang saat melihat seorang pria berbadan tegap berjalan mendekat kearahnya.
•|•
Azyla mendaratkan bokongnya pada kursi yang ada di taman belakang kampus. Meskipun di tempat ini adalah saksi terjadinya banyak adegan pembullyan terhadap dirinya, tapi Azyla tak pernah bosan dan benci untuk datang ke tempat ini.
Taman ini sepi, membuat dirinya merasa nyaman untuk sekedar beristirahat. Ia kerap merenung untuk memikirkan banyak masalah hidupnya di tempat itu. Taman ini sudah seperti sahabat baginya.
Kini, Azyla tengah duduk dengan sebotol air mineral dan sebungkus roti coklat. Semenjak tinggal di rumah Wildan, gadis itu tak lagi pernah membawa bakal.
Matanya menatap kosong ke arah depan, entah apa yang gadis itu pikirkan. Bahkan, ia sampai tak sadar bila Wildan telah duduk disamping dengan dua box makan siang.
"Ada masalah apa lagi ini? Hei.. Azyla.."
"Ah, ya. Sejak kapan anda di sini pak?"
"Sejak tadi. Bahkan kamu tidak sadar jika aku telah disini membawakan makan siang untuk calon istri ku."
Azyla hanya diam. Wildan yang melihat reaksi Azyla pun sedikit bingung. Ia merasa aneh akan perubahan Azyla yang biasanya akan membantah jika di katakan sebagai calon istrinya.
Selang beberapa detik, Wildan baru tersadar akan mata Azyla yang bengkak dan wajahnya yang sedikit memerah. Bukan karna menanggis, namun lebih seperti di tampar. Pria itu yakin sekali bahwa hari ini ada yang membully Azyla lagi.
Darah nya mendidih, ia marah. Bahkan sangat marah. Ia tak suka jika gadisnya terus di perlakuan seperti ini. Diperlakukan layaknya bintang yang tak memiliki harga.
Dan Wildan juga kesal pada Azyla yang hanya diam saat dk perlakukan buruk seperti itu. Seharusnya, gadis itu melawan saat diperlakukan buruk oleh para pembully.
"Kenapa kamu selalu diam dan menerima semua perlakuan mereka? Kamu tahu? Selama ini aku berusaha menjaga mu semampuku. Walau itu semua ku lakukan dari jauh. Tapi kenapa? Kenapa kamu malah tidak menjaga dirimu? Kenapa kamu tak pernah melawan ketika mereka berlaku kasar padamu Azyla!!? Kenapa??!!" Wildan berteriak karna tak lagi sanggup menahan emosinya.
Azyla diam. Gadis itu tak tahu apa yang harus ia katakan pada Wildan. Pria itu, Azyla melihat semuanya. Melihat ketulusan dan kesedihan yang bercampur dimata Wildan.
"Saya.. Saya.." Azyla tak sanggup menjawab.
"Kau tau? Setiap kali ku lihat dirimu seperti ini, hati ku terasa sakit dan emosi ku selalu naik. Kenapa kau tidak melawan sayang? Kenapa kau biarkan mereka menyetuhmu?" Suara Wildan kembali melembut. Pria itu kembali duduk disamping Azyla.
Ia membelai pipi Azyla dengan lembut. Melihat mata Azyla yang mulai berair, Wildan menarik gadis itu kedalam dekapan nya.
"Menanggis lah, Lepaskan semua sesak di dada mu. Setelah ini, kau tidak lagi boleh menanggis karna di bully." Dengan sayang Wildan membelai surai Azyla yang terasa halus ditangannya.
•|•
TBC 💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life [REVISI]
RomanceFollow dulu sebelum baca. Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN" . . "Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam. "Tapi sampai kapanp...
![Bad Life [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/153900703-64-k605869.jpg)