SA 🍃// 043

839 22 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.

.

.

.

.

.

Wildan berjalan dengan kacamata hitam yang bertengger gagah diwajahnya. Setelan formal yang ia kenakan semakin menambah wibawanya dan membuat wanita manapun yang melihatnya terpaku. Dibelakang ada Ellena dan satu orang yang membawakan koper miliknya dan Ellena.

Wanita yang dengan terang - terangan memamerkan tubuh indahnya melalui pakaian seksi itu berjalan cepat mengimbangi langkah Wildan yang sudah lumayan jauh didepannya. Ellena menunjukkan wajah kesalnya karena Wildan membiarkan nya berjalan dibelakang.

"Kau berjalan terlalu cepat. Tidak bisakah kau menungguku? Aku tidak bisa melangkah sebesar langkahmu." Gerutu Ellena sambil mengerucutkan bibirnya.

Wildan hanya diam dan tak menanggapi ocehan Ellena yang masih menggerutu sepanjang langkahnya menuju mobil. Setibanya didepan mobil yang menjemput kedatangan Wildan dan Ellena, keduanya segera masuk kedalam mobil itu.

"Mulai hari ini, kau tinggal dengan ku di rumah itu." Ujar Wildan tanpa melihat wajah kaget yang Ellena tunjukkan.

"Apa? Kau bercanda?"

"Tidak, aku serius. Kau tinggal bersamaku di rumah itu."

"Bagaimana dengan istrimu? Apa dia tidak akan_"

"Biarkan saja. Tidak usah pedulikan dia. Rumah itu milikku, dan hanya aku yang berhak membuat keputusan." Ujar Wildan. Rahang pria itu mengeras. Menunjukan jika ia sedang menahan amarah yang ada didalam dirinya saat ini.

Ellena pun diam dan tidak lagi membantah. Dalam hati ia terus saja tertawa bahagia. Setelah sekian lama ia berusaha mendapatkan Wildan, akhirnya saat yang paling ia tunggu pun tiba. Tepatnya beberapa hari setelah mereka tiba di Kanada. Wildan tampak sangat kalut malam itu, dan disaat itulah ia langsung mengambil kesempatan untuk menggoda Wildan. Siapa sangka jika Wildan menerima kehadirannya dengan baik saat itu? Ellena dengan senang hati menghibur Wildan yang sedang kalut dengan masalah yang ia pun tidak tau apa itu. Bahkan, saat ia ikut masuk kedalam kamar hotel pria itupun, Wildan tidak memprotes dan membiarkan Ellena tidur di ranjang yang sama dengannya. Merasa Wildan menerima semua perlakuan yang ia berikan, Ellena pun semakin gencar menggoda Wildan dan terus menempel pada Wildan seperti lintah.

"Kau bereskan barang apapun yang ingin kau bawa ke rumahku. Nanti malam, aku akan mengirimkan seorang supir untuk menjemput mu." Ujar Wildan tepat saat kendaraan beroda empat itu berhenti bergerak.

"Baiklah. Sampai jumpa nanti malam sayangku." Ellena mengecup pipi Wildan dengan mesra. Wanita itu bahkan mengabaikan pria yang bertugas sebagai supir didepan.

Mobil itu kembali melaju saat Ellena sudah keluar. Didalamnya, Wildan duduk termenung, pria tampan itu hanya diam menatap kearah luar jendela mobil. Wajahnya dengan jelas menunjukkan bahwa ia sedang marah, semakin dekat dengan rumahnya, maka semakin besar pula rasa marah yang ada didalam dirinya.

Tangan Wildan terkepal. Wajah tampannya berubah menjadi menyeramkan. Kini ia sudah tiba di rumahnya. Dimana ada Azyla yang setia menunggunya pulang. Wildan pun melangkah masuk kedalam rumah itu dengan wajah yang masih menunjukkan kemarahan.

"Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberi kabar padaku?" Ujar Azyla yang langsung mendekati Wildan. Azyla sedikit heran melihat wajah Wildan yang tidak bersahabat. Entah apa yang terjadi sehingga suaminya itu tampak begitu kesal.

"Aku lelah. Jangan ganggu aku." Wildan mengabaikan Azyla. Pria itu langsung menaiki tangga menuju lantai kedua rumah itu.

Azyla mengikuti Wildan dari belakang, langkah wanita itu sedikit tergesa - gesa. "Kau butuh sesuatu? Apa kau lapar? Ingin ku siapkan makanan?" Tanya Azyla yang masih berusaha mengejar Wildan.

"Kau itu sudah tuli atau apa? Aku bilang jangan ganggu aku!! Aku lelah, dasar tidak berguna." Bentak Wildan yang membuat Azyla bungkam seribu bahasa.

"Pergilah, jangan masuk lagi ke kamar ini sebelum aku bangun." Azyla pun bergegas keluar dari kamar itu dengan air mata yang sudah berlinang dipelupuk matanya.




.

.

.

.

.

.

.

.
TBC 💕💕💕
.
.
.
.
.
.
.
7 Desember 19

Bad Life [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang