Follow dulu sebelum baca.
Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN"
.
.
"Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam.
"Tapi sampai kapanp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•|•
Saat keluar dari ruangan Wildan, jantung Azyla kembali berdegup kencang. Matanya dengan tajam melihat sekeliling. Takut - takut jika ada yang melihatnya keluar dari ruangan Wildan. Azyla dapat bernafas untuk sesaat setelah melihat meja sekretaris Wildan masih kosong. Ellena belum kembali dari kepergiannya. Azyla berjalan santai menuju lift khusus karyawan yang tadi ia gunakan.
Selama didalam lift, senyumnya mengembang sempurna. Ia benar-benar merasakan kebahagiaan selama dua bulan pernikahan nya ini. Wildan selalu manis seperti biasa. Dari hari ke hari, perlakuan Wildan padanya membuatnya semakin mencintai lelaki tampan itu.
Dentingan suara lift terbuka membuat kesadaran Azyla kembali. Wanita itu bergegas melangkah menuju ruangan tempatnya bekerja.
"Eh Zyla. Kamu baru kembali? Kenapa lama sekali? Mbak Nita menunggumu didalam." Ujar salah satu staf yang juga bekerja di devisi marketing.
"Ah maaf mbak. Tadi saya ada sedikit keperluan mendadak." Jawab Azyla asal.
"Ah begitu. Baiklah, mbak pergi dulu ya, kamu udah di tunggu tuh."
"Iya mbak." Azyla tersenyum canggung dan membiarkan wanita yang bekerja satu devisi dengan nya itu pergi.
Azyla pun melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan untuk menemui Nita. Salah satu karyawan pintar dan memiliki kualitas kerja yang sangat baik. Nita salah satu insipirasi bagi Azyla.
"Maaf Mbak Nita. Mbak cari saya?"
"Ah iya Zyl. Ini ada beberapa file isinya laporan dan proposal, mbak minta bantuan kamu untuk cek ulang ya. Soalnya mbak masih punya kerjaan lain yang deadline nya udah dekat." Nita memberikan flashdisk berwarna hitam itu pada Azyla.
"Baik mbak. Saya kerjakan secepatnya."
"Oke Zyl, Terima kasih ya, semangat kerja." Nita menepuk pelan pundak Azyla dengan maksud memberikan semangat pada wanita itu.
"Sama sama Mbak."
•|•
"Kamu gak makan siang, Zyl?" Wanita berambut pendek bernama Janet menghampiri meja tempat Azyla bekerja.
"Eh Mbak Janet. Tanggung mbak kalau saya tinggal. Ini tinggal sedikit lagi."
"Jangan begitu, Zyl. Bekerja boleh tapi jangan berlebihan. Udah tinggal dulu, ikut makan siang sama aku yuk." Azyla mengalah saat suara memalukan terdengar dari perutnya.
"Tuh perut kamu bunyi. Tandanya kamu lapar. Udah ayo makan siang dulu."
Azyla pun berdiri lalu mengikuti langkah Janet menuju kantin kantor. Sepanjang langkah mereka, Janet banyak sekali memulai percakapan. Azyla senang dengan semua orang yang ada di devisi nya. Semuanya ramah dan mudah berbaur. Ia senang bisa merasakan memiliki teman.
"Zyla.."
"Iya mbak?"
"Tuh kamu lihat deh kesana. Ada pak Wildan makan di kantin kantor kita sama pak Anton."
"Ah iya Mbak."
"Ini kejadian langkah tau."
"Kenapa bisa begitu mbak? Bukankah itu hanya hal yang biasa?"
"Mana bisa hal seperti itu dibilang biasa. Nih kalau kamu mau tau ya, Pak Wildan itu tidak pernah makan di kantin kantor kita ini. Beliau selalu makan siang diluar. Tapi hari ini berbeda, berliau bersama pak Anton makan di kantin kantor kita." Jelas Janet.
"Masa sih mbak? Berarti selama ini, ini pertama kalinya pak Wildan makan di sini?" Janet mengangguk lalu mencuri pandang melihat kearah Wildan yang duduk berhadapan tak jauh dari mereka.
"Zyl, ini perasaan mbak aja atau emang pak Wildan dari tadi liatin kita?" Bisik Janet seraya melirik kearah Wildan.
"Ah masa sih Mbak? Aku gak ngerasa kalo pak Wildan liatin kita." Jawab Azyla ikut melirik Wildan.
"Ah lupakan saja lah. Ayo cepat habiskan makanan mu. Mbak Gea tadi bilang mau ada yang dibicarain sama semua anggota devisi kita." Azyla pun mengangguk patuh lalu segera menghabiskan makanan yang ada didepannya.
Usai menghabiskan makanannya dan membeli beberapa cemilan, Azyla dan Janet kembali ke ruang kerjan mereka. Ruangan itu sudah mulai ramai yang berkumpul. Kurang dari lima menit lagi Gea selaku kepala Devisi akan mengadakan rapat dadakan dengan semua anggotanya. Azyla pun di minta tetap ikut rapat walau ia hanya karyawan magang. Sebagian besar anggota Devisi marketing itu suka dengan kerja Azyla yang baik. Bahkan cara kerjanya sudah sangat baik untuk tingkatan anak magang. Jika seperti ini, sudah dapat dipastikan Azyla bisa memperoleh nilai yang bagus sesuai keinginan nya.
"Baiklah semua. Karna ini pertemuan dadakan, jadi kita adakan di ruang 1 Devisi marketing ini saja ya. Saya selaku kepala Devisi ini ingin memberi apresiasi yang besar atas kerja kalian yang sangat baik. CEO kita bangga terhadap Devisi kita yang telah mendapatkan pencapaian yang sangat menakjubkan. Oleh karena itu, Tuan Wildan memberikan kita bonus yang cukup besar. Tepuk tangan dulu untuk hasil kerja kita bersama." Seru Gea dengan semangat.
Semua anggota bertepuk tangan dengan gembira. Mereka tak menyangka jika kerja keras mereka semua menghasilkan hasil yang baik. Tak terkecuali Azyla, ia pun ikut senang melihat anggota yang lain senang.
"Semuanya mendapat bonus. Tidak terkecuali Azyla. Selamat Azyla, setelah kamu selesai magang, Mbak akan mencairkan bonus untukmu karena kerja mu selama magang di Devisi ini sangatlah baik. Kami semua bangga padamu. Ayo tepuk tangan untuk anak magang terbaik kita." Semua anggota kembali bertepuk tangan dengan meriah.
Azyla bahagia sekali berada bersama Devisi ini. Semua anggota terasa sangat menerima kehadiran Azyla. Azyla nyaman sekali selama magang disini.
•|•
TBC 💕💕
Holaaa gaizz...
Sorry ya aku baru update Skrng. Kmren Kmren sibuk banget soalnya. Gak sempet pegang Wattpad.