BL 🍃 // 010

1.5K 53 2
                                        

"Miss me honey?"

Tubuh Wildan seolah membeku ketika mendengar suara perempuan yang duduk di kursi kebesarannya. Semua amarahnya memusat pada satu titik. Tangannya terkepal kuat menahan seluruh emosinya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Ujar Wildan dengan nada dingin nan menusuk.

Wanita itu berjalan mendekati Wildan. Ia berdiri sangat dekat dengan Wildan.

"Tentu saja untuk menemui kekasihku. Menemui pria tercinta ku. Bagaimana kabar mu selama ini sayang? Aku begitu merindukanmu." Ujar wanita itu sambil membelai dada bidang Wildan dengan tangan lentik nya.

"Jauhkan tanganmu dari tubuhku. Aku sangat tidak sudi jika tangan kotor mu itu menyentuh tubuhku. Rasanya sangat menjijikan." Wildan mengehempaskan tangan wanita itu dengan kasar.

Bukannya sedih atau marah akibat perlakuan Wildan padanya, wanita itu malah tertawa dengan keras sambil memegangi perutnya. Wildan menatap wanita itu dengan jijik. Ia melewati wanita itu dan duduk di kursinya.

"Kau masih marah padaku hmm? Ayolah sayang,, ini sudah sepuluh tahun lebih sejak kejadian itu. Aku bahkan sudah meminta maaf ribuan kali padamu. Apa kau masih belum memaafkanku hmm?" Kata wanita itu sambil duduk diatas meja kerja Wildan.

"Menyingkirlah. Aku tidak perduli akan masa lalu. Yang ku inginkan sekarang adalah kau lenyap dari hadapanku."

Wanita itu hanya tersenyum miring mendengar ucapan Wildan yang cukup membuat sakit di hatinya.

"Apa karna wanita miskin itu kau jadi seperti ini?"

"Siapa yang kau maksud?"

"Siapa lagi kalau bukan gadis yang masih kuliah itu. Aku lupa namanya, tapi aku ingat dengan jelas wajahnya."

Wildan menatap tajam wanita itu. Lalu berkata, "Jangan kau ganggu dia."

Wanita itu tertawa hambar. "Kau menyukai gadis bodoh itu? Apa ini lelucon? Ayolah Wildan, apa lebih nya gadis itu dibanding aku? Aku bisa memberikan apapun untukmu, bahkan aku juga bisa menghangatkan ranjangmu sayang. Berfikirlah dengan jernih Wildan."

Kepala Wildan semakin panas akibat menahan amarah. Dan kini, pria itu tak lagi bisa menahan rasa marah nya itu. Wildan menarik tangan wanita itu dengan kasar dan menyeret wanita itu keluar dari ruangannya.

"Pergi kau jalang. Jangan pernah kau ganggu aku atau pun Azyla. Jika sampai hal bodoh seperti ini terulang, maka aku tidak akan segan - segan untuk membunuhnu. Ingat itu." Wildan mengehempaskan tubuh wanita itu hingga jatuh ke lantai.

Wildan kembali ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan sangat keras.

Pria itu segera menghubungi seseorang untuk membantunya menjaga Azyla. Saat ini beberapa pekerjaan kantor nya sangat tidak bisa di tinggalkan.

"Kirimkan beberapa pengawal untuk berjaga - jaga di depan rumah Azyla. Jaga wanita ku dengan baik, jika sampai suatu hal buruk terjadi, maka kau akan tahu akibatnya." Wildan segera menutup telponnya tanpa mendengarkan jawaban dari yang di hubunginya.

"Shittt!!!! Kenapa jalang itu harus kembali!! Dasar wanita sialan!!!!" Pekik Wildan.


•|•


Azyla menatap bingung keluar jendela. Gadis itu merasa takut membuat suatu kesalahan yang mengakibatkan adanya banyak orang berpakaian serba hitam didepan rumah kumuh nya ini.

"Ada apa ini? Kenapa ada banyak sekali orang didepan rumahku. Seingatku, tidak ada masalah yang ku timbulkan hari ini selain menolak dosen gila itu. Apa sebaiknya aku bertanya saja? Yaa kurasa itu lebih baik."

Azyla segera mengenakan sweater nya dan mengikat rambutnya. Gadis itu membuka pintu rumahnya secara perlahan. Ia bahkan terkejut saat tiba - tiba salah seorang pria berpakaian serba hitam itu muncul saat pintunya terbuka.

"Astaga! Huuhh.. Anda mengagetkan saya tuan." Azyla mengelus dadanya sambil beberapa kali mengehela nafas.

"Kenapa anda keluar nona? Sebaiknya anda berdiam diri di dalam rumah sampai tuan besar tiba." Azyla menyengit bingung.

"Tuan besar? Siapa yang anda maksud?"

"Tuan Gillbert nona. Calon suami anda."

Mata Azyla membulat mendengar kata calon suami. Gadis itu langsung menangkap bahwa Gillbert yang di maksud adalah Wildan. Entah kenapa, gadis itu menjadi kesal seketika.

"Kenapa dia melakukan ini? Maksud ku, kenapa dia meminta kalian untuk berjaga didepan rumahku? Memangnya apa yang akan terjadi?" Tanya Azyla memburu.

"Karna ada suatu hal yang mengancam keselamatan anda nona, karena tuan sangat mencintai anda, Tuan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anda. Jadi saran saya untuk saat ini, lebih baik anda masuk dan istirahat lah nona. Jika ada sesuatu yang di perlukan, anda bisa meminta kami untuk melakukannya." Ujar pria itu yang di akhiri dengan senyuman tipis.

Azyla menghela nafas berat dan masuk mengikuti perkataan pria itu. Gadis itu memikirkan hal apa yang mengcamnya. Apakah seberbahaya itu sampai Wildan harus memerintahkan lebih dari Sepuluh orang untuk berjaga di depan rumahnya?

Astaga... Pria itu memang membuat Azyla pusing seharian ini.













TBC......





-------------------------------------------------------------------------------------------------







10.01.2019

Bad Life [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang