Follow dulu sebelum baca.
Dan sedikit peringatan, "CERITA INI BELUM DI REVISI, JADI HARAP SEDIKIT MAKLUM JIKA ADA BAGIAN YANG BRANTAKAN"
.
.
"Jangan pernah sebut anak haram ini milikku." Desis Wildan dengan nada dingin dan tajam.
"Tapi sampai kapanp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Siang ini, Wildan di sibuk kan dengan beberapa laporan mengenai perusahaan cabangnya yang ada di luar negri. Perusahaan miliknya yang bergerak di bidang industri minyak mengalami beberapa masalah yang cukup serius. Hal itu cukup membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Ia melepaskan kacamata yang bertengger gagah diwajahnya, lalu ia memijat kepalanya yang terasa nyeri. Ia berharap agar istrinya segera datang agar rasa sakit kepalanya bisa sedikit terobati.
Ceklekk...
Ellena dengan penampilan yang seksi itu muncul dari balik pintu besar ruangan Wildan. Wildan tersentak kesal melihat Ellena yang masuk tanpa izin darinya.
"Maaf tuan, saya sudah memanggil tuan beberapa kali, karena tidak mendapatkan jawaban maka dari itu saya masuk. Maafkan kelancangan saya." Ujar Ellena sebelum Wildan sempat mengomelinya.
"Baiklah. Ada apa?"
"Saya ingin memberikan ini, berkas berkas yang harus anda tanda tangani." Ellena meletakkan berberapa jilid kertas diatas meja Wildan.
"Baiklah kalau begitu keluar lah. Kepalaku sedang sakit." Wildan berkata tanpa melihat kearah Ellena.
Bukannya segera keluar dari ruangan besar milik Wildan itu, Ellena malah berjalan mendekati Wildan. Jemari lentiknya dengan sangat ringan menyentuh kepala Wildan. Ia memberikan pijatan - pijatan dikepala Wildan. Wildan pun terkejut dengan apa yang sekretaris nya itu lakukan.
"Apa pijatan saya bisa mengurangi sakit kepala anda, Tuan?" Ujar Ellena sambil tersenyum.
Beberapa detik Wildan terdiam. Ia tampak menikmati pijatan demi pijatan dari tangan lentik Ellena. Namun segera ia tersadar jika hal yang sedang terjadi saat ini bukanlah hal baik jika diteruskan.
"Sudahlah Ellena. Keluarlah dari sini, saya ingin istirahat sendiri." Ujar Wildan dengan nada dingin khas dirinya.
"Ah, baiklah Tuan. Saya permisi." Ellena dengan senyum kemenangan diwajahnya keluar dari ruangan Wildan.
Saat membuka pintu, ia cukup kaget melihat Azyla berada tak jauh darinya. Wanita itu tersenyum kepada Ellena dengan maksud untuk menyapa sekretaris suaminya itu.
"Selamat siang Nyonya." Sapa Ellena dengan sopan. Seolah ia tak melakukan apapun.
"Selamat siang Ellena. Panggil aku Azyla saja, jangan nyonya." Ellena terkekeh manis mendengar protes dari Azyla.
"Ah Baiklah." Jawab Ellena.
'kau memang sebentar lagiakan berhenti menjadi Nyonya Gilbert. Dan aku yang akan menggantikan nya.' Ellena tertawa keras dalam hatinya.
"Baiklah Azyla. Ingin bertemu tuan? Masuklah, Tuan tampak kelelehan didalam." Azyla mengangguk lalu Ellena memberikan akses untuk Azyla masuk ke ruangan Wildan.
Ellena tersenyum bagai iblis. Di balik senyuman nya, ada suatu hal yang sedang ia rencanakan.
"Waktunya sedang berjalan Azyla, tunggulah saat bom itu meledak dan menghancurkan semua isi duniamu." Gumam Ellena lalu berjalan dengan angkuhnya menuju meja kerjanya.
•|•
. . . . .
TBC 💕💕💕 13 November 2019 . . . . . . Sorry ya part ini pendek. Aku usahain buat update lagi secepatnya.