SA 🍃 // 044

827 25 0
                                        

Happy Reading 💕💕🖤

Happy Reading 💕💕🖤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.

.

.

.

Azyla menangis disetiap langkahnya keluar dari kamar yang biasa ia tempati bersama Wildan, suaminya. Azyla benar-benar tidak mengerti mengapa sikap Wildan bisa sekasar itu padanya. Azyla benar-benar kaget, hatinya memaksa untuk memaklumi apa yang baru saja ia terima dari suaminya. Mungkin Wildan lelah dengan semua pekerjaannya, mungkin pria itu sedang pusing memikirkan pekerjaan nya yang sangat banyak. Itulah yang sedari tadi Azyla pikirkan untuk menenangkan hatinya yang sakit.

Namun air matanya masih saja jatuh walau ia sudah menghapusnya berkali - kali. Air matanya mengalir semakin deras bagikan sungai. Sekuat apapun ia mencoba berpikir positif, itu tidak bisa menutupi hatinya yang sakit. Azyla mengehela nafas berat nya untuk kesekian kalinya. Ia teringat akan benda kecil yang ia simpan didalam laci kamarnya. Azyla mencoba menahan air matanya yang hendak mengalir lagi dan segera bergerak menuju kamar yang di tempati Wildan.

Ia tersenyum melihat benda kecil itu, iti mengingatkan betapa bahagianya ia saat melihat dua garis lurus tergambar didalam benda kecil itu. Ya, itu adalah alat tes kehamilan yang ia gunakan beberapa hari yang lalu. Benda itu menyatakan jika Azyla positif hamil. Azyla girang bukan main saat mengetahui dirinya tengah berbadan dua. Ia berniat ingin mengajak Wildan kedokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Tangan lentiknya mengelus perutnya yang masih rata, bibirnya mengembangkan senyuman. Ia akan memberitahu kan hal ini pada Wildan usai makan malam nanti.

Azyla berharap saat Wildan terbangun nanti, pria lembut yang dicintainya kembali. Semoga saja perlakuan kasar tadi hanya reflek dari kelelahan pria itu usai melakukan perjalanan jauh.

"Rupanya kau sudah tidak bisa mendengar ucapan ku dengan baik." Azyla kaget saat mendengar suara bariton yang terdengar dingin dan mengintimidasi nya. Wanita itu berbalik, ia mendapati seorang pria yang tak lain adalah suaminya tengah berdiri tegap menatapnya tajam.

"Aku hanya_"

"Apa yang ada di tanganmu? Perlihatkan padaku."

Azyla melirik tangannya yang menggenggam alat tes kehamilan. "Ini, lihatlah. Kau pasti menyukainya." Azyla tetap tersenyum bahagia saat menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Wildan. Meski ini di luar rencananya, ia tetap bahagia memberi tau suaminya bahwa ia tengah mengandung anak pertama mereka.

"Aku hamil anak kita." Sambungnya.

"Ohya? Haruskah aku percaya jika itu adalah anakku? Aku selalu sibuk bekerja, bahkan aku pun tak jarang pergi meninggalkan mu sendiri. Bisa saja kau melakukan hal menjijikkan itu dengan pria lain, dan yang kau kandung saat ini bukanlah anakku."

Sontak perkataan Wildan itu membuat mata Azyla membulat sempurna. Amarah wanita itu naik. Tatapan kecewa ia layangkan untuk suaminya.

"Tega sekali kau berbicara seperti itu. Aku tidak pernah mengkhianati mu, ini anakmu. Anak kita. Aku berani bersumpah jika ini adalah anak kita. Tidak ada satupun pria yang menyentuh ku selain kau, suamiku." Ujar Azyla dengan air mata yang sudah tak sanggup lagi ia tahan. Ia kecewa bukan main mendengar perkataan Wildan yang sangat merendahkannya.

"Perlu ku beri tau padamu, jika maling tidak akan dengan senang hati mengakui perbuatannya. Jadi aku tidak bisa mempercayai mu begitu saja. Aku tetap tidak yakin jika itu adalah anak hasil dari benih ku."

Lagi - lagi Wildan berucap tanpa berpikir mengenai perasaan istrinya yang hancur karena tuduhannya yang tak jelas. Setiap kata yang Wildan ucapakan berhasil menyayat habis hati sang istri.

"Sungguh Wildan, aku tidak mengerti mengapa kau bisa sekeji itu melayangkan tuduhan seperti itu padaku. Kau bahkan tidak mau mengakui anak ini sebagai anakmu."

"Hmm sebaiknya kau minta bajingan itu untuk bertanggung jawab atas anak itu. Aku bukan ayahnya. Tentu saja aku tidak mau mengakuinya sebagai anakku. Ambil lah benda ini." Wildan menghempaskan benda kecil itu kelantai lalu berbalik menuju pintu.

Tubuh pria itu berhenti, "Dan satu lagi, nanti malam kekasihku akan datang. Dia akan tinggal dirumah ini bersamaku dan tidur di kamar ini. Silahkan kau keluarkan semua barang- barangmu dari kamar ini dan tidur di gudang belakang. Aku tidak mengizinkan mu untuk tidur di kamar tamu ataupun di kamar pembantu sekalipun. Tidurlah di gudang, tempat itu adalah yang paling cocok untukmu. Tempat yang kotor untuk wanita kotor seperti mu." Wildan pergi meninggalkan Azyla yang jatuh terduduk karena tak lagi sanggup menahan tubuhnya sendiri.

Ia menanggis sekuat mungkin, ia berharap jika ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia terbangun. Sungguh ia tak sanggup menahan semua sakit hatinya saat ini. Ini bahkan lebih sakit dari semua buruk yang ia terima dari orang - orang yang membully nya.

.

.

.

.
TBC 💕💕💕🌾

.

.

.
8 Desember 19
.

.

.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bad Life [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang