Pukul Delapan malam, Law sudah berada di halaman Pemakaman Kebun Kenanga.
Law merapatkan Jaket yang melekat ditubuhnya, ketika dengan tidak sengaja tangannya menyentuh ponsel dalam saku jaketnya, sedang bergetar.
Ia lupa, sejak siang tadi ia sengaja meng silent Ponselnya.
'Feli ...'
Gumamnya dalam hati.
"Ya .. Ada apa?"
"Aku butuh bantuanmu, Law ..."
"Kenapa? Aku hanya pria bodoh yang tidak berguna, Felicia! Pergilah beritahu orang tuamu yang kaya raya itu, Mereka tentu sanggup menolongmu apapun masalahmu!" cerocos Law.
Hening.
Untuk beberapa lama tak ada suara dari seberang sana. Yang terdengar hanya napas Feli yang dalam pendengaran Law sedikit aneh. Seperti terdengar begitu berat...
"Feli... Felicia, apakah Kau baik-baik saja?" gumam Law. Rasa khawatir mulai menyusup dalam hatinya.
Bagaimana jika Feli benar-benar butuh pertolongannya?
Tut Tut Tut
Hubungan terputus.
Law resah, pria itu menatap Jam dan tidak ada waktu yang cukup untuk berada pada keduanya.
Law berpikir sangat keras, Ia harus memilih! Menunggu Jinan, atau menemui Felicia!
Law menendang kerikil dijalanan, rasa takut yang tadi menghampirinya kini berganti resah dan kebingungan yang teramat sangat.
*
Sementara itu di lain tempat...
"Sudah kukatakan jangan tidur, Selin! Kita sudah terlambat Satu jam!" hardik Jinan kepada Selin.
Selin yang masih dalam keadaan limbung, hanya bisa melangkah terhuyung saat Jinan menyeret lengannya.
"Ini juga salahmu, Jinan. Kau kan sudah janji akan menjemputku Setengah jam sebelum waktunya!" balas Selin sembari menutup mulutnya yang menguap.
"Ini karena Ratu, sudah kubilang jangan terlalu banyak teori. Ratu selalu saja menganggapku seperti hantu bodoh yang tidak bisa melakukan apapun! Aku harus mendengarkan seluruh isi catatannya tentang bagaimana menghindar dari musuh, melompat, menghilang, terbang, dan A ...."
"Cukup!" potong Selin sembari membekap mulut Jinan.
Jinan mundur, dan mengibaskan tangan Selin.
Selin menunjuk dengan telunjuknya, pada tempat yang mereka sudah sepakati dengan Law.
"Apa?" tanya Jinan.
Selin mengerang, Ia tidak percaya, sekali lagi Ia tidak percaya jika Jinan akan mampu mengalahkan musuh!
Selin jadi ingin bertemu dengan hantu yang sering Jinan sebut Ratu, itu. Pantas saja Ratu sering mengomeli Jinan, Selin yang manudia awam saja sudah begitu sebal dengan kebodohannya.
"Dimana Law?!" hardik Selin dengan tegas.
Jinan menoleh lagi, gadis itu menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa Ia lupa akan hal itu...
"Dimana Law?!" ulang Jinan.
Sekali lagi dalam sekian menit, Selin mendesis. Bukankah itu yang Ia tanyakan tadi!
*
Law masih memukul-mukul pintu yang terkunci. Dirinya sama sekali tidak ingat, mengapa tiba-tiba saja Ia bisa berada di dalam ruangan sempit tanpa secelah pun ventilasi.
Seingatnya, tadi Ia hendak menemui Felicia, ketika Satu jam lebih dari perjanjiannya dengan Jinan, dan Jinan tidak juga muncul untuk menemuinya.
Tiba-tiba saja berembus angin dengan sangat kencang, menerbangkan dedaunan, menerbangkan debu-debu, dan membawa serta tubuh Law kedalam pusaran angin. Dan saat inilah, Ia kini berada di ruangan tersebut.
"Woooii buka!" teriak Law.
Suaranya hanya menggema pada gendang telinganya sendiri.
Jangankan keluar dari sana, bahkan untuk bernapas pun, rasanya sangat sesak. Ruangan gelap itu benar-benar mengurung dirinya.
*
Sementara itu, Jinan dan Selin sudah mencari keberadaan Law, hingga ke dalam areal Pemakaman.
Namun nihil, Law tidak ditemukan!
"Rusun!" seru Selin.
Jinan mengangguk, lalu dengan cepat Ia menarik tangan Selin dan membawanya berlari, sehingga seperti yang sudah-sudah, selalu berakhir dengan kemuntahan Selin ketika keduanya tiba di tujuan.
"Kau hampir mengenaiku, Selin!" teriak Jinan seraya mundur dengan cepat.
"Aku manusia biasa, Jinan! Bukan hantu sepertimu!" balas Selin sembari mengelap bibirnya.
"Tunggu disini!" lanjut Jinan, kemudian ia melangkah menembus dinding.
Hanya sekitar dua menit, tak cukup waktu banyak untuk menyelidik seisi kamar Law yang sempit itu. Jinan kembali dengan kepala menggeleng.
"Lalu bagaimana? Dimana Law..." gumam Selin dengan nada khawatir.
Jinan mundur, Ia mencoba mencari tahu dengan penglihatannya. Namun gelap, tak ada Satupun pertanda dimana keberadaan Law.
"Aku tidak berhasil menemukannya, Selin..." gumam Jinan dengan wajah penuh penyesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
An Angel Of Darkness
Mystery / ThrillerBerawal dari kehadiran seorang Jinan, Makhluk Astral yang entah datang dari belahan Bumi yang mana, kehidupan Law mulai berubah. Putera Mahkota, adalah sebutan yang kerap Ia dengar dari mulut Jinan. Lalu bagaimana hubungannya dengan Felicia? Gadis c...
