Empatbelas

601 57 2
                                        

"Kenapa diam? Bukankah Kau mau mengantarku?" tanya Jinan, begitu menengok ke belakang, dan melihat Law berdiri beberapa meter di belakangnya. Law menatap gadis tersebut dengan tatapan marah.

"Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu, Jinan!" hardik Law.

Jinan terkekeh, ia mendekati Law dan menatap pria itu dengan tatapan kosong.

"Ji... Jinan..." gumam Law.

"Apakah Kau takut padaku, Law? Apakah Aku terlihat begitu mengerikan?" Gadis tersebut tiba-tiba saja menangis.

Suaranya...

Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun yang pasti, akan membuat siapapun yang mendengar tangis Jinan dalam keadaan dekat seperti itu, membuat tulang belulang rasanya copot berserakan.

"Disini rumahku..." lanjutnya dengan wajah pucat dan sendu.

Law terhenyak, ingin rasanya memutar tubuh dan berlari sekencang mungkin. Tapi tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Law yang biasanya tak pernah gentar menghadapi polisi, kali ini pucat pasi.

Law hanya sanggup menatap wajah Jinan tak berkedip. Ia seakan mati rasa. Beberapa saat kemudian Law tersadar. Bahwa hanya kekuatan doa yang bisa membuatnya terbebas dari perempuan terkutuk itu.

Sebisa mungkin, Law merapalkan doa-doa di dalam hatinya. Hingga otot-otot ditubuhnya terasa mulai mengendur, Ia berbalik dengan cepat, dan bersiap untuk melarikan diri, namun kakinya masih terasa berat untuk melangkah.
Sementara itu, Jinan masih tersedu dibelakang Law.

"Aku takkan memaksamu, pergilah Law..." bisik Jinan tepat ditelinga Law.

Pria itu berlari sekuat tenaga, menerobos malam dan jalanan lengang, diikuti lolongan Anjing, dan angin yang bertiup kencang.

Sementara itu, Jinan terkekeh menatap Law yang tunggang langgang
*

BRUGGG

Law membanting pintu kamarnya dengan napas tersengal. Ia sedang berusaha mencerna apa yang baru saja dialaminya, itu benar-benar diluar nalar.

Bagaimana mungkin seorang hantu bisa berbicara dengannya? Bagaimana mungkin Dia bisa berkata jika Dia akan menjaganya. Siapa Jinan sesungguhnya?!

Apakah mungkin dia hanya wanita stress yang mengerjai dirinya? Tapi jika iya, mana mungkin Jinan bisa mengiriminya surat dan menebak hal yang akan menimpanya beberapa hari ke depan?

Law mengurut keningnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang kemana-mana, terlebih pada apa yang baru saja dialaminya.

*

Law baru saja selesai mandi, ia sudah bertekat untuk melupakan kejadian semalam.
Law tidak ingin kehadiran Jinan menganggu kehidupannya, keseharian ataupun kegiatan Law sehari-hari.

Ia sedang menggosok rambutnya dengan handuk, sambil bersiul pelan. Ketika ia merasakan tiupan lembut di puncak kepalanya.

Law mendongak, dan terperangah ketika manik matanya bertemu dengan manik mata yang lainnya.
Pria tersebut jatuh terjengkang, beberapa senti dari wajah Jinan!

Aaaaaaaaaa

Keduanya menjerit berbarengan.

"Sedang apa Kau disini?! Bagaimana juga Kau bisa masuk ke dalam kamarku? Ini pelanggaran, dan pergilah sebelum ..."

"Sebelum apa, Law? Aku hanya membersihkan busa shampo dirambutmu!" potong Jinan sembari terkekeh.

Gadis itu berjalan dengan kedua tangan di belakang punggungnya.
Law, pria tersebut hanya diam membeku di tempatnya terjatuh.

Ketika tiba-tiba tangan halus nan pucat itu mengulurkan tangan hendak membantu Law berdiri, pria tersebut menepiskan tangan Jinan, Ia berdiri sendiri, lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Beberapa saat ia menahan asap rokok di dalam dadanya, kemudian mengembuskannya dengan kasar.

'Apa lagi ini... Baru saja aku memutuskan untuk tidak peduli dengan gadis itu!'

An Angel Of DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang