Limapuluhtiga

971 72 0
                                        

"Aku sudah tidak kuat, Jinan!" seru Selin. Hadis itu saat ini sedang menggapai sebuah kayu, yang akan membawanya pada atap genteng sebuah bangunan tempat dimana Lawa disekap.

"Sedikit lagi, Selin! Bersemangatlah! Atau kau ingin jatuh terbentur bebatuan kah?!" teriak Jinan dari bawah.

Hufftt...

Ingin rasanya Selin menggaruk wajah Jinan, yang sedang tersenyum sambil mrnyemangati dirinya. Jika saja bukan karena Law yang berada di dalam sana, takkan sudi Selin melakukan kebodohan ini.

Beberapa saat kemudian Selin menghela napas lega. Saat ini ia sudah berhasil menduduki kayu panjang di atas atap. Satu persatu Selin membuka genteng, sehingga mengagetkan Law yang berada di dalam sana.

"Siapa itu?!" teriak Law dari bawah.

"Law, ini aku, selin!" jawab Selin.

"Selin?!" seru Law tak percaya.

Selin tak menjawab, gadis itu hanya mengulurkan seutas tali ke bawah, tempat dimana Law berada, meski keduanya tidak dapat saling melihat akibat gelap.

"Pegang Law, Jangan kau lepaskan! Lekaslah, Kita tidak punya banyak waktu!" seru Selin.

'Kita? Apa maksud Selin?'

Law meraih tali yang dilemparkan oleh Selin.
Tadi, Jinan mengambil tali jemuran pada rumah di ujung jalan sana.

"Sedikit lagi!" seru Law, pria tersebut masih mencoba meraih tali yang kurang panjang itu. Sedangkan Selin, sudah berusaha membungkukkan tubuhnya.

Hingga ....

KREK KREEK ...

BRAAAAKKKKKK

GDEBUK

Selin terjatuh begitu cepat. Disusul teriakan dirinya dan Law secara bersamaan.
Tubuh Selin menindih tubuh Law yang terlentang.

Sejenak diam, Selin dan Law saling bertatapan. Romantis memang, jika saja Mereka terjatuh di atas ranjang empuk yang bertabur bunga-bunga mawar segar...

*

"Aaarghh sialan!" teriak Jinan dari luar sana.

Law dan Selin tersentak, Keduanya mendengar dengan begitu jelas suara Jinan.

"Jinan..." gumam keduanya bersamaan.

Law mengernyit, Ia sama sekali tidak tahu, jika Selin mengetahui perihal Jinan.

"Bukan saatnya menceritakan semuanya sekarang, Law..." gumam Selin. Seakan mengerti apa yang dipertanyakan oleh Law.

*

"Jinan ..." Selin dan Law tertegun, melihat tubuh Jinan terbakar dihampir sebagian tubuhnya.
Bibir pucatnya mengeluarkan darah segar, kelopak matanya menghitam.

Gadis hantu itu baru saja menghancurkan tembok yang sudah dipagari mantra sihir si iblis mengerikan itu. Sehingga sebagai balasannya, Jinan harus merelakan sebagian nyawa nya tersedot oleh kekuatan mantra tersebut. Bahkan harusnya Jinan kehilangan seluruh kekuatannya.

"Jinan!" seru Selin, seraya mendekati tubuh Jinan.

Jinan menggelengkan kepalanya, dengan sisa tenaga yang Ia miliki.

Sepuluh Menit yang lalu ...

Saat Selin dan Law membingungkan soal Jinan, di luar sana, Jinan sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya. Gadis itu sudah membulatkan tekad. Bahkan Ia sudah berbicara dengan Ratu, dan Ia sudah meminta Ratu untuk mentransfer sisa kekuatan yang Ia miliki, yang memang seluruh kekuatan sebangsanya, sebagian digenggam oleh Ratu. Sebagai persediaan, jika pertempuran dengan Musuh benar-benar terjadi.

Jinan tak mempunyai pilihan lain. Jinan mencintai Putera mahkota, dan Ia sudah bersumpah kepada dirinya sendiri, bahwa apapun akan Ia lakukan demi keselamatan Putera mahkota.

Selain daripada itu, Jinan rela menggunakan seluruh kekuatannya demi kelangsungan hidup kaumnya, Ia tidak ingin jika Liora dan kaumnya menjadi pembantai, karena malam ini... Adalah malam kekuatan penuh bagi para musuhnya.

*

"Jinan..." Law menghampiri tubuh Jinan.

Jinan menggeleng sekali lagi.

"Jangan mendekat, Putera mahkota..."

Law bahkan sudah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Jinan perihal Putera mahkota. Ia hanya ingin Jinan baik-baik saja.

"Selin ... Bawa Law ke tempat yang sudah kuceritakan padamu. Katakan apa yang harus dia lakukan. Selamatkan bangsa kita, Law... Selamatkan kaum kita dari mereka, Putera mahkota... Ha hanya dirimu Satu-satunya harapan kami..." ujar Jinan dengan suara terputua-putus.

Perlahan, kepalanya terjatuh, Jinan mati. Mati dalam penglihatan Law dan Selin.

"Tidaaak! Jinaan!" teriak Law. Pria itu menggenggam tangan Jinan, perlahan airmatanya menetes. Law seakan tak ingin menerima kenyataan itu.

Sementara Selin, masih berdiri mematung. Ia tidak percaya jika Jinan begitu rela mengorbankan seluruh kekuatannya hanya demi menyelamatkan mereka, meski kini mereka berdua yang harus menyelamatkan kaumnya.

"Law, waktu Kita tidak banyak, Ayo!" Selin menyadarkan Law.

Pria itu berdiri, sebutir air matanya jatuh menetes pada tubuh Jinan, sesaat sebelum mereka berlari meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kacau.

An Angel Of DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang