"Bangun!"
"Hyeong, irreona!"
"Jeon!"
Dua orang yang terdampar diatas karpet berbulu itu tidak bergeming sedikitpun.
"Kenapa dia tidur disini?"
"Dan-bersama Sana?"
"Kapan Sana datang?"
Wonwoo dan Sana masih tetap pada posisinya. Wonwoo dengan posisi tengkurap dan tangan yang masih memegang joystick lalu Sana yang tertidur dengan kepala yang ia rebahkan dipunggung Wonwoo.
"Sana, let's wake up"
Sana melenguh, bukan bangun ia malah semakin menenggelamkan diri nya pada selimut yang membalutnya.
"Won, bangun. Sudah siang!"
Sama halnya dengan Sana, Wonwoo juga bergeming. Ia malah merangsek mengubah posisinya membuat Sana ikut mengubah posisi tidurnya juga. Dan berakhir dengan Wonwoo yang ikut masuk kedalam selimut Sana.
"YAK! JEON WONWOO APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Teriakan itu sungguh membuat Sana juga Wonwoo terkejut setengah mati hingga membuat mereka langsung bangun terduduk ditempat mereka.
Mata Sana membulat karena terkejut mendengar teriakan nyaring itu. Sedangkan Wonwoo hanya menggaruk kepalanya dengan mata setengah terpejam saat tahu bahwa tidak ada apapun.
"Yak! Kwon Soonyoung, suaramu! Astaga, aku bisa gila!" Jeonghan menggelengkan kepalanya keras melihat para manusia yang semakin hari semakin aneh dimatanya.
Soonyoung tak menggubris perkataan Jeonghan dan langsung menghampiri Wonwoo, menarik tangannya membuat Wonwoo yang sudah berbaring harus mendudukkan dirinya lagi dengan satu kali tarikan.
"Jeon!"
"Yak!"
Sana masih menyesuaikan dirinya, dengan mengucek matanya malas. Jujur saja, ia kurang tidur karena keasikan bermain game bersama Wonwoo.
"Sana-ya"
Sana menoleh kesamping dan mendapati Jun yang kini memperhatikan nya. Irisnya terbuka lebar, membulat dengan sempurna.
"Oppa!"
"Ayo bangun, ini sudah siang." Jun mengusap pelipis Sana dengan lembut membuatnya merasa nyaman sesaat sebelum sebuah suara masuk pada rungu telinga nya.
"Sana? Kau---kapan kau datang?"
Sana kembali menoleh kedepan dan mengedarkan pandangannya melihat sudah dikelilingi oleh member Seventeen.
Baru saja ia akan menjawabnya, bel pintu terdengar begitu nyaring ditelinganya. Sana malah berpikir, apa ada yang salah dengan telingaku, ya?
"Biar aku yang buka." Jisoo bergerak lebih dulu menuju pintu dan membukanya, ia mendapati pemuda dengan topi baseball dan masker yang menutupi wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Protect Brother
Novela Juvenil"Apa? Jerman?" "Tidak" "Tidak akan kubiarkan kau keluar Seoul barang sejengkal pun" "Meninggalkan Seoul dan tinggal di Jerman? Bermimpi saja sana gadis nakal" "Berhentilah merengek atau akan ku kirim kau ke LA" "Jerman bukan negara yang pantas kau d...
