Instagram : unianhar
Elang terkekeh mengacak-acak rambut Arum yang asik memainkan ponselnya. Dari tadi mulut Elang sudah berbusa membicarakan berbagai hal tapi Arum tidak memperhatikannya sama sekali. Elang menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas didepannya berubah warna jadi merah.
"Liatin apa sih sayang? Kakak udah ngomong panjang lebar loh tap,"
"Kakak tau orang ini?"
Arum langsung memperlihatkan layar ponselnya pada kakaknya itu. Elang mengeryit lalu menggeleng tidak tau. Dia tidak pernah melihat pria itu sama sekali.
"Ini namanya June oppa kak, gantengkan?"
Elang langsung menatap Arum datar. June oppa June oppa terus sampai kucing jadi tikus. Elang mengeram, Siapa sih June-June itu?! Apa karena dia artis makanya seenaknya masuk kedalam hidup Arumnya? Tidak bisa dibiarkan. Elang langsung merebut ponsel Arum dan memasukkan kedalam saku celananya. Arum merengek meminta kembali ponselnya tapi Elang meminta Arum untuk duduk manis disampingnya dan tidak meminta ponselnya dulu kalau tidak mau gambar-gambar si June-June itu akan Elang hapus.
"Curang" gumam Arum menuruti perintah Elang yang memasang wajah datarnya. Arum menurunkan kaca jendela mobil untuk melihat jelas pemandangan diluar sana. Indah dan mungkin pemandangan disana jauh lebih indah dari ini.
"Kita sampai, ayo turun!"
Elang melepaskan seatbeltnya kemudian turun dari mobil lalu berlari kepintu sebelah membukanya untuk Arum.
"Masih ngantuk ya?" Kekeh Elang melihat Arum yang belum sepenuh sadar. Setelah perdebatan mereka mengenai June, Arum langsung tidur. Elang membantu Arum melepaskan seatbeltnya, saat Arum akan turun ke mobil Elang menahannya meminta Arum tetap duduk disana.
Elang mengambil sneakers yang sebelumya Arum lepas dan memakaikannya pada kedua kaki Arum yang menjuntai kesamping. Elang terkekeh geli mendengar Arum menguap, ia mendongak melihat Arum yang juga menunduk menatapnya.
"Ayo kita masuk!" Elang berdiri mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Arum berdiri. Arum menatap tangan Elang lalu kembali menatap wajah Elang yang mengeryit.
"Yang lainnya udah didalam, sayang. Kamu mau tetap disini?" Tanya Elang yang digelengi Arum yang tetap duduk menyamping kearah pintu mobil.
"Kenapa kakak suka sekali memasang sepatuku?"
Arum keluar dari mobil tak lupa membawa tas punggung kesayangannya. Arum menutup pintu mobil lalu mendongak menatap Elang yang tak lepas memperhatikan gerak-geriknya "Aku bisa sendiri memakai sepatuku. Lain kali kakak nggak usah memasangnya untukku"
"Kenapa?"
"Selama ini kakak yang selalu memasangnya untukku. Kalau kakak pergi siapa yang akan melakukannya? Aku sendiri. Jadi biarkan aku yang melakukannya." Arum menarik tangan Elang menuju sebuah Villa yang terletak dipinggir pantai, tepatnya didepan mereka.
"Selama kakak disamping Arum kakak yang akan melakukannya"
"Nggak boleh!"
"Kenapa?"
Arum melepaskan tangan Elang dan berbalik menatapnya. Arum tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku mau belajar hidup tanpa kakak"
Elang menatap Arum tanpa ekpresi. Belajar hidup tanpanya? Jika Arum sudah terbiasa hidup tanpanya lalu apa? Arum terkekeh memperbaiki posisi tasnya.
"Aku pasti bisakan?" Tanya Arum ragu sedikit berpikir
"Jika kakak bisa kenapa aku nggak? Iyakan kakak?"
Perasaan apa ini? Apa yang ini yang dinamakan sakit tak berdarah? Batin Elang. Perkataan Arum serasa buah mengkudu baginya atau bahkan lebih dari itu. Begitu pahit hingga lidahnya tak bisa berucap sesuatu.
Elang tau, dibalik perkataannya Arum sedih dengan keputusan yang telah diambil Elang meski ia menutupinya seolah Arum baik-baik saja. Arum melangkah mendekati Elang dan menarik-narik baju kaos putih kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Roman pour Adolescents(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
