Bagian 9. Jatlag

45.4K 3.3K 132
                                        

Instagram : unianhar

Elang menatap Arum dengan wajah datar, saking datarnya papan penggilingan kalah datar dari wajah Elang.
Elang menusuk-nusuk ice cream didepannya menggunakan sendok kecil karena kesal melihat sikap Arum yang tidak peduli padanya.

"Ice creamnya nggak enak ya kak?"

Pertanyaan seperti itu membuat Elang semakin kesal. Setelah miliknya hampir tandas Arum baru bertanya? Kenapa tidak dari tadi?
Elang tidak menjawab pertanyaan Arum hingga Arum menghabiskan ice creamnya.

"Kakak kenapa? Kakak nggak suka ice cream?"

"Nggak!" Jawab Elang cepat melebihi kereta express

"Yaudah! Ice creamnya untuk aku aja, kalau dibuangkan mubazir."

Elang menghempaskan punggungnya kekursi lalu menatap Arum tajam. Adiknya tidak tau atau pura-pura tidak tau?
Elang mendorong ice cream rasa vanilla kearah Arum yang langsung disambut oleh Arum dengan senyum lebar.
Sepertinya Arum suka sekali dengan ice cream, baguslah. Tapi makan banyak ice cream juga tidak terlalu baik untuk kesehatan, Elang merebut ice creamnya yang ditatap oleh Arum seakan bertanya apa yang dilakukan kakaknya itu.

"Ayo kita pulang!"

Elang meninggalkan Arum yang masih bingung dengan sikapnya.

* * *

Setelah salaman dengan mamanya, Arum naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Dibelakangnya ada Elang yang cuma diam menatap punggung adiknya itu. Dasar bocah, dengusnya.

Saat akan membuka pintu Elang menahan tangan Arum.
Arum mendongak menunggu Elang bicara
"Kamu nggak nanya kakak kenapa?" Tanya Elang tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bicara, rencananya tidak mengajak Arum bicara malah gagal karena Elang sendiri yang termakan dengan rencananya itu. Arum sepertinya tidak masalah dengan kebungkamannya tapi yang jadi masalah bagi Elang karena Arum cuma mendiaminya.

"Emang kakak sakit ya?" Tanya Arum polos, Elang menatap Arum tanpa ekspresi. Apa wajahnya terlihat seperti orang sakit?
"Aku panggil mama dulu kalau gitu, kakak dis,"

"Kakak nggak sakit, Arum." Jawab Elang menahan lengan Arum saat ingin memanggil mama mereka

"Terus kakak kenapa?"

"Ini semua gara-gara kamu!"

"Aku?" Arum menunjuk dirinya sendiri sembari memikirkan apa yang telah ia lakukan pada kakaknya "Aku nyakitin kakak?" Elang mengangguk membenarkan pertanyaan Arum

"Lukanya mana?"
Meski Arum tidak tau kenapa bisa ia melukai Elang tetap saja ia merasa bersalah, mungkin Arum melukai Elang saat tidak sadar.
Elang menunjuk bagian dada kirinya yang tidak dimengerti Arum.

"Didalam disini." Elang menunjuk dadanya

"Kok bisa didalam?"
Arum tidak mengerti sama sekali

"Karena kamu nolak kakak"

"Nolak?" Ulang Arum

Tadi Elang mengulurkan tangannya membantu Arum turun dari mobil tapi Arum langsung turun tanpa meraihnya. Saat itu, benak Elang langsung tersentil menerima penolakan. Selama ini Elang tidak pernah ditolak hingga ia tidak pernah merasakan hal itu, dan hari ini Elang tau kalau dia tidak suka ditolak karena Arum. Arum adiknya adalah orang pertama yang menolaknya dan Elang tidak suka akan hal itu.

"Maaf" cicit Arum merasa bersalah, Arum cuma tidak ingin merepotkan apalagi dia bisa turun sendiri dari mobil

"Kakak akan maafin, tapi lain kali Arum nggak boleh nolak kakak! Ok?"

Sister Complex Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang