"Ayah pulang!" Girang seorang gadis kecil berusia 7 tahun berlari memeluk sang ayah yang baru memasuki ruang tamu keluarganya
"Ayah Arum kangen" rengek Arum kecil memeluk pinggang sang ayah yang tak bereaksi sama sekali "Ayah Arum mau digendong ayah" pintanya merentangkan kedua tangannya kearah sang ayah yang menatapnya datar
"Ay--"
"Minggir!" Sentaknya menepis tangan kecil itu hingga memerah, Arum kecil memegang lengannya kemudian melihatnya
"Merah" gumamnya menurunkan tangannya melihat sang mama datang dari tangga atas
"Mas kenapa pulang cep--"
"SIAPA ANAK ITU?!" Arum mundur selangkah melihat sang ayah menunjuk dirinya, bukan karena ditunjuk melainkan ia melihat wajah menyeramkan ayahnya menatap dirinya.
"Arum gak buat salah" belanya pada diri sendiri. Selama ini kalau Arum salah pasti ayahnya akan marah jadi Arum sebisa mungkin tidak akan membuat kesalahan.
"Maksud kamu apa sih, mas?"
"Gak usah sok lugu kamu?! Aku tau anak itu bukan anak aku! Katakan padaku siapa ayahnya?!"
"MAS!!!"
PLAAKKK
Hiks. . .
"Ibu!" Arum kecil berlari memeluk ibunya yang tersungkur karena tamparan ayahnya "ayah jangan jahat sama ibu hiks. . ."
"DIAM KAMU!"
"MAS JANGAN MEMBENTAKNYA!" Lantang sang ibu menutup kedua telinga Arum yang sudah menangis histeris, keduanya bertengkar hebat tak peduli Arum ada disana, sang ayah yang terus mencaci sang ibu yang tak terima difitnah.
"Pergi kamu! Bawa anakmu itu! Aku gak sudi melihat wajahnya" Arum dan ibunya diseret keluar dari rumah besar itu.
"Mas jangan! Arum anak kamu! Darah daging kamu! Kamu harus percaya sama ak--"
"Ayah hiks. . . "
"DIAM! AKU BUKAN AYAHMU!"
Arum menenggelamkan kepala dikedua lututnya mengingat kejadian 10 tahun yang lalu, harusnya ia lupa karena itu sudah lama, kejadian menyakitkan itu harusnya tak ia ingat lagi.
Arum meringkuk memeluk tubuhnya lalu melihat kedepan, tak ada air mata dikedua pipinya, Arum ingin menangis tapi ia merasa air matanya sudah habis untuk menangisi kejadian itu. Arum berdiri merapatkan dirinya ditembok menunggu hujan redah. Untungnya ia belum jauh dari hotel disaat hujan turun jadi Arum bisa berteduh di pos keamanan.
Arum mendongak menatap hotel yang menjulang tinggi didepannya lalu menunduk memperhatikan sepatunya sembari memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.
"Kakak" cicit Arum kembali memegang dadanya, sampai saat ini ia masih nyeri, bahkan hatinya seakan diremuk begitupun napasnya serasa susah keluar
Drrt drrt drrt
Arum meraih ponselnya didalam tas, melihat id sipenelfon Arum buru-buru mendial nomornya untuk dijawab.
"Kak Vido ken--"
Arum tersentak ketika ponselnya direbut oleh Elang yang berdiri menjulang didepannya. Arum ingin membuka mulut namun Elang mendahuluinya
"Udah aku bilang jangan berhubungan dengan pria itu," desis Elang membantu Arum memakai jaket kulit yang selalu ia bawa didalam mobil
"Kak Vido bukan orang lain"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Novela Juvenil(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
