Instagram : unianhar
"Makasih pak" ucap Arum setelah pintu mobil dibuka oleh sopir pribadinya. Arum berjalan melewati tiang-tiang yang berjejeran sepanjang lorong agar sampai dipintu utama. Arum meraih handle pintu namun tangannya langsung berhenti mendengar suara yang sangat familiar baginya.
"Saya ingin Arum kembali pada saya, nyonya."
DEG
Napas Arum tercekat mendengar suaranya. Arum tau siapa orang itu. Arum menggeleng pelan, bagaimana bisa ia datang kemari? Arum melepaskan tangannya dari handle pintu saat sekelabat bayangan kembali muncul dikepalanya bagaikan kaset rusak yang memaksa Arum mengingat perlakuan yang tidak mengenakkan yang ia terima. Arum memegang punggung bawahnya lalu menggeleng keras. Air matanya sudah tumpah sejak tadi isakannya hampir lolos bila saja ia tak menutup mulutnya. Arum berbalik dan pergi dari sana, belum juga Arum melangkah jauh tubuhnya sudah terjatuh. Bayangan saat betisnya dipukul waktu itu seakan terasa sampai sekarang. Arum memegang betisnya sembari menggeleng.
Hiks. . .
"Ibu jangan hiks"
Arum semakin menangis menekuk kedua kakinya dan memeluknya erat.
"Ibu jangan pukul betisku hiks. . . Aku nggak bisa jalan hiks. . ." Isak Arum mengulang kalimat permohonan yang sempat ia ucapkan 7 tahun lalu.
Braak
Braakkk
Arum menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang diberikan oleh Arinka, ibunya. Sesekali Arum meringis membuat hukumannya harus ditambah karena berani mengeluarkan suara. "Ini hukumannya karena kamu pergi dari rumah tanpa seizinku!" Ucap Arinka tetap memukul betis Arum hingga berdarah.
Braakk
"Ibu sa,sakit" desis Arum menahan isakannya
Braak braakk braakk
"SUDAH KUBILANG JANGAN BERSUARA!!!" Bentak Arinka semakin memukul betis Arum dengan rotan. Arum tak bisa lagi menahan sakit yang Arinka berikan hingga ia menangis kencang mengeluarkan rasa sakit hati dan fisiknya.
""Ibu jangan hiks. . ." Pinta Arum terduduk dilantai, rasa sakit dibetisnya kini menjalar kekakinya hingga ia tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh "Ibu jangan pukul betisku hiks. . . Aku nggak bisa jalan hiks. . ." Pintanya memohon menaikkan kedua tangannya didepan dada berharap belas kasih Arinka sebagai ibu. Arinka melempar rotan ditangannya lalu berjongkok mencengkram dagu Arum keras.
"Menangislah! Menangis sekeras mungkin biar semua tau apa yang aku lakukan padamu! Menangis Arum!" Lantang Arinka menarik rambut panjang Arum
"Ibu maaf hiks. . ."
Arinka melepaskan tarikan rambutnya dari Arum lalu berlalu meninggalkan Arum yang menatapnya pilu. Arum memegang kedua betisnya yang berdarah lalu ia menekuk kedua lututnya lalu menangis sekeras mungkin.
"Nona Arum!"
Arum tersentak merasakan bahunya dipegang oleh seseorang. Dengan derai air mata, Arum menatap orang didepannya dengan mata berkaca-kaca.
"Nona kenapa men,"
"Bibi" panggil Arum menatap Widya seakan meminta pertolongan "Bibi tolong aku! Betisku sakit, aku nggak bisa jalan hiks. . " Bi Widya membelalakkan matanya mendenagar penuturan Arum. Rasa khawatirnya semakin bertambah memeriksa kedua betis Arum. Bi Widya kembali menatap Arum tidak mengerti, setelah memeriksa betis Arum bi Widya tidak melihat luka apapun disana. Malahan betis Arum bersih mulus tanpa adanya bekas luka disana. Tak tega melihat keadaan nonanya seperti itu Bi Widya memanggil beberapa maid untuk membantunya membawa Arum ke kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Novela Juvenil(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
