Arum menatap pria disampingnya tanpa berkedip, baru saja pria itu menciumnya. Ia tersenyum mengelus kepala Arum seakan tidak terjadi apa-apa semalam. Arum mengalihkan matanya kedepan piringnya, disana roti pemberian mamanya belum ia sentuh sama sekali.
"Kenapa rotinya belum disentuh sayang?" Edwin menatap Arum yang terlihat gelisah dari tadi
"Mau mama ganti sarapannya?"
"Gak usah ma" ucap Arum mengambil roti dan menggigitnya tanpa minat. Oma Putri, Edwin dan Kanaya memperhatikan sikap Arum yang gelisah sedangkan Elang tetap duduk disamping Arum sesekali meliriknya.
"A-aku berangkat du--"
"Duduk sayang selesaikan sarapanmu!" Tegas Elang meraih tangan Arum yang telah berdiri, Arum kembali duduk ke kursinya menatap tangan Elang masih menggenggam tangannya. Arum menggigit bibir bawahnya, kenapa sekarang ia jadi resah begini?
Mata mereka bertabrakan, Elang menatap Arum dalam dan penuh cinta sedangkan Arum menatap kakaknya itu dengan pandangan gelisah, Arum ingin pergi dari sana tapi entah kenapa tubuhnya tak ingin melakukannya.
"Kakak aku gak mau sarapan, aku mau ke sekolah aja" Arum menunduk tak ingin melihat tatapan kakaknya itu.
"Baiklah, kita berangkat sekarang" Elang berdiri membantu Arum berdiri, mereka berpamitan pada kedua orang tua mereka dan oma. Keluar dari rumah Elang masih saja menggenggam sebelah tangan Arum sedangkan gadis itu menatap genggaman kakaknya itu dengan napas tertahan.
"Hati-hati" Elang membantu Arum masuk kedalam mobilnya, memasang seatbeltnya sebelum menutup pintu dan berjalan cepat memasuki pintu kemudi disebelahnya.
Dalam perjalanan ke sekolah keduanya larut dalam keheningan, baik Arum maupun Elang lebih fokus dengan pikiran masing-masing. Sampai di sekolah Arum ingin turun namun Elang menahan tangannya alhasil Arum tetap disana menunggu kakaknya itu bicara.
"Arum marah sama kakak?" Arum menoleh menatap Elang sepersekian detik lalu menggeleng pelan
"Aku gak marah kak"
"Iya Arum marah"
"Gak kok, aku gak marah, kakak gak buat salah jadi gak ada alasan buat aku untuk marah sama kakak"
"Semalam, ciuman kit--"
"Kakak pasti khilafkan?" Arum meneguk salivanya susah melihat mimik wajah Elang yang berubah. Elang melepaskan seatbeltnya secara kasar dan menarik Arum mendekat dan memeluknya.
"Maaf" Elang mengelus kepala Arum dan meletakkan dagunya pada bahu Arum
"Huh?"
"Kakak minta maaf bukan karena kakak merasa bersalah, kakak minta maaf karena memaksamu melakukannya, kakak gak akan mengulanginya." Elang melepaskan pelukannya dan menjauhkan sedikit tubuhnya, Arum masih terdiam menatap kakaknya tanpa berkedip, hangat dan nyaman.
"A-aku masuk" Arum terbata menghindari kontak mata Elang
"Kakak akan jemput kamu"
"Nggak usah." Cetus Arum membuka pintu mobil dan berlari menjauhi mobil Elang tanpa menutup pintu. Elang menghela napas melihat tubuh Arum yang menghilang kedalam gedung utama ASHS. Elang mengusap wajahnya kasar. Elang meraih ponselnya menghubungi seseorang diseberang sana.
"Pagiku cerah, matahari bersirna kugendong tas sekolahku---" Elang mengeram mendengar suara itu, bukannya menyapanya dengan hallo pria itu malah bernyanyi.
"Bujang!"
"Marcel ganteng" ralat orang diseberang
"Aku gak bisa kendaliin diriku lagi didepannya, apa yang harus aku lakuin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Teen Fiction(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
