Kanaya diam mendengarkan kalimat perkalimat yang keluar dari mulut mertuanya itu. Ketidak percayaan dan amarah bercampur menjadi satu, kalimat pedas yang sesekali berubah pahit Kanaya dengarkan karena itu menyangkut anaknya.
Oma Putri berdiri meletakkan kedua tangannya dipinggang kemudian menatap menantunya itu begitu tegas, Kanaya harus setuju dengannya untuk menghentikan semuanya sebelum terlambat.
"Lakukan sesuatu! Bilang sama Edwin untuk memisahkan mereka!" Titahnya begitu lantang, apa yang ia takutkan selama ini terjadi.
Oma Putri mewanti-wanti cucu kesayangannya itu mencintai adik angkatnya sendiri, setiap saat ia selalu memikirkannya, bahkan disetiap malamnya ia selalu berdoa jika ketakutannya tidak terjadi. Elang tidak boleh mencintai adiknya sendiri meski mereka tak punya hubungan darah sekalipun.
"Bu, semuanya sudah terjadi. Kita tidak bisa melakukan apapun apalagi memisahkan mereka." Oma Putri menatap Kanaya tak percaya, apa yang menantunya itu katakan?
"Kanaya! Mereka berciuman! Ibu lihat sendiri dengan mata kepala ibu" Oma Putri menunjuk matanya. Matanya belum rabun, ia masih bisa melihat dengan jelas bahkan dengan jarak paling jauh, apalagi ketika melihat cucunya mencium adik angkatnya yang jaraknya begitu dekat, ia melihatnya dengan jelas. "Mereka itu saudara! Mereka tak pantas melakukannya, kam-'"
"Sejak kapan ibu mengakui Arum anakku? Apalagi saudara Elang?" Edwin baru saja datang menyela perkataan ibunya "Bukankah ibu bilang Arum bukan bagian dari keluarga ini? Jadi bukankah tak masalah jika Arum bersama Elang?"
"Edwin!"
"Bu, biarkan Elang memutuskan apa yang ia mau! Dia sudah dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri jadi--"
"JANGAN GILA KAMU EDWIN!!!"
Lantang Oma Putri tak habis dengan pimikiran anaknya "Arum anak angkatmu, dia tidak pantas buat cucuku,"
"Pantas atau tidaknya Elang yang akan memutuskan, bu." Edwin memberikan tas kantornya pada Kanaya yang juga memberikannya pada maid
"Edwin kamu ini kenapa?"
"Bu, Arum anakku, aku ingin yang terbaik untuknya. Untuk memberikan yang terbaik maka jalan satu-satunya aku harus mempercayakannya pada Elang, anak kandungku sendiri. Elang mencintai Arum bu jadi aku membiarkan mereka bersama"
"Edwin!" Tegur oma Putri seakan frustasi dengan pemikiran putranya itu, bagaimana bisa ia membiarkan anaknya bersama gadis yang asal-usulnya tidak jelas? Meski oma Putri iba pada anak itu bukan berarti ia menerimanya begitu saja apalagi menjadi pasangan cucu kesayangannya.
"Ibu," Edwin meraih kedua tangan ibunya lalu menggenggamnya "Setelah lulus SMA, Elang tidak mau melanjutkan kuliahnya diluar negeri, alasannya karena Arum, ibu sudah tau itu. Tapi ibu harus ingat jika kita membujuk Elang melakukannya karena kita sama-sama tau kalau kuliah di luar adalah keinginannya. Untuk membujuknya kita melakukan segala cara hingga ia mengajukan syarat yang dulu kita anggap sebagai lolucon biasa saja, saat itu Elang masih remaja dan kita menyangka jika keinginannya akan berubah setelah ia kembali. Tapi nyatanya tidak bu, dari dulu sampai saat ini dia tetap menginginkan Arum. Setelah anak itu kembali ia begitu lancang menemuiku meminta Arum, apa yang harus aku lakukan selain menepati janjiku sebagai papanya?" Edwin menatap ibunya memelas
"Bu, Aku tidak bisa mengatakan tidak pada putraku sekarang, dia sudah dewasa, dia bisa memilih jalannya sendiri apalagi mencari wanita yang ia mau"
"Tapi gadis itu Arum,"
"Lalu kenapa jika dia Arum?" Edwin tak masalah jika Elang memang mencintai Arum, Edwin akan membiarkan Elang bersama Arum yang jelas dia tidak menyakitinya, bersama Elang berarti Arum tak akan meninggalkan rumah itu sampai kapanpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Teen Fiction(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
