Arum menoleh pada Elang yang baru saja menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran Italia. Tanpa bertanya Arum mengikuti Elang yang keluar lebih dulu, Elang berlari mengelilingi bagian mobil depan untuk membantu Arum membuka pintu namun lebih dulu Arum membukanya.
"Arum pasti lapar, kan?" Arum mengangguk polos, memang dirinya lapar. Di kantin ia tidak makan sama sekali "Ayo!" Elang menggenggam tangan Arum memasuki restoran, ia menaiki lantai dua dimana ketiga sahabatnya sudah menunggu.
Tak butuh waktu lama Elang melihat ketiga sahabatnya itu bercanda ria, sadar dengan kedatangan Elang mereka akhirnya menoleh melihat Elang bersama Arum. Marcel dan Hasa sekilas berpandangan, seperti yang dikatakan Elang pagi tadi ditelfon jika ia tidak bisa mengikuti rencana Marcel, ia akan tetap bersikap seperti sebelumnya, Elang yakin jika perlahan Arum akan menerimanya.
"Dedek gemes!"
"A'a Ben?"
Bennedict berdiri merentangkan kedua tangannya pada Arum namun Elang lebih dulu mendorongnya menjauh untuk tidak menyentuhnya. Ben masih merentangkan tangannya menatap Elang kesal.
Elang menarik kursi untuk Arum lalu duduk disampingnya. Mereka akhirnya memesan makanan hingga seorang gadis datang menghampiri mereka. Kelima orang itu beralih menatapnya membuat gadis itu tersenyum kikuk.
"Aku Devi yang waktu it--"
"Oh Devi yang pernah jalan sama kita?!" Seru Marcel membuat Devi mengangguk cepat "Kamu disini sendiri?" Lanjut Marcel tak melihat siapapun bersama Devi
"Iya tapi teman aku bentar lagi tiba," Marcel mengangguk paham, Ben menatap Devi dari ujung rambut sampai ujung kaki, Hasa fokus dengan makanan didepannya, sedangkan Elang sibuk memperhatikan Arum makan. Karena teman Devi tak kunjung datang, Marcel dan Ben yang baru saja berkenalan dengannya meminta Devi duduk bersama, dengan senang hati Devi menerimanya.
"Enak, gak?" Arum mengangguk melihat Elang sekilas "Mau nambah lagi?" Arum menggeleng menghapus saus yang ada dibibir namun Elang menahan tangannya, Elang meraih tissue dan menghapus.
"Makasih kakak,"
"Sama-sama sayang" Elang mengelus kepala Arum sekilas.
"Dedek gemes tambah cantik ya? Udah punya pacar belum? Udah kamu kenalin sama kak Elang?" Crocos Ben dapat pelototan tajam dari Elang didepannya. Ben tau namun ia berpura-pura tidak melihatnya.
"Aku gak punya A'a"
"Loh kenapa gak punya?"
"Bukannya Arum pdkt sama Vido?" Tanya Hasa duduk diantara Ben dan Devi yang cuma diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Gak kok kak,"
"Kok gak, padahal kalian cocok loh"
"Kalian bosan hidup rupanya," desis Elang menahan panas pada sekujur tubuhnya mendengar nama Vido. Elang memegang erat garpu ditangannya menatap satu persatu sahabatnya yang mungkin hari ini akan menjadi musuhnya. Bagi Elang, siapapun yang menyebut nama pria lain didepan Arum maka mereka akan menjadi musuhnya sepanjang masa.
"Kak aku boleh minta air lagi gak?" Elang menepis tangan Marcel saat meraih sebuah gelas yang berisi air, Elang tau jika Marcel akan memberikan air itu pada Arum. Marcel menatap tangannya yang baru saja ditepis, padahal yang bicara tadi adalah mulutnya bukan tangannya tapi kenapa tangannya yang jadi pelampiasan?
"Ini sayang," Elang mendekatkan gelasnya pada bibir Arum "Mau lagi?" Arum menggeleng menjauhkan tangan Elang yang memegang gelas "Mau pesan apa lagi?" Sambungnya melihat pesanan Arum sudah habis, gadisnya itu lapar atau doyan?
"Udah kenyang," jawab Arum mengambil ponselnya dari dalam tas dan memainkannya. Elang dan yang lainnya kembali mengobrol hingga seseorang datang menghampiri mereka. Jemari Arum yang menari-nari di layar ponselnya harus terhenti mendengar suara itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Ficção Adolescente(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
