Instagram : unianhar
"Jadi Arum beneran sekolah, ma?"
Kanaya dan Edwin terkekeh melihat keantusiasan Arum mendengar jika mereka akan menyekolahkannya kembali, Arum sangat bahagia, setelah sempat berhenti sekolah hampir setahun akhirnya ia kembali bersekolah juga.
"Adik kakak senang sekali mau sekolah" ucap Elang yang duduk disamping papanya sedangkan Arum duduk sambil memeluk Kanaya.
"Iya dong, makasih ya ma pa!"
Edwin mengangguk dan Kanaya mencium pucuk kepala Arum, melihat Arum bahagia membuat Kanaya juga ikut merasakan kebahagian itu, jika kehidupan Arum sebelumnya jauh dari kata baik-baik saja maka Kanaya ingin Arum jauh lebih baik tinggal bersamanya. Arum memang bukan putri kandungnya tapi Kanaya sudah menyayangi Arum seperti ia menyayangi Elang.
"Besok kita belanja ya keperluan kamu" Arum mengangguk dalam pelukan Kanaya.
Hadir dalam keluarga ini merupakan anugrah bagi Arum. Ia punya papa, mama dan kakak yang menyayanginya dan selalu memanjakannnya. Mereka memang keluarga angkatnya tapi mereka semua baik padanya berbeda dengan keluarganya yang sebenarnya.
"Ma pa, Arum sekolah dimana?"
Kanaya dan Edwin melihat putranya itu
"Di sekolah keluarga kita dong, Lang. Emang kamu mau adik kamu mama sekolahin di tempat lain?".
"Ya jangan dong!" Sergah Elang tak suka ucapan mamanya "Sekolahin aja Arum di Smp SAS, kan masih satu pekarangan tuh sama sekolahku" Sekolah menegah pertama dan atas SAS masih satu pekarangan jadi Elang bisa mengawasi Arum.
"Nah itu kamu tau! Keluarga kita punya sekolah sendiri jadi adikmu tidak perlu ke sekolah lain. Kau ini" decak Edwin tak habis pikir dengan anaknya. Elang menggaruk kepalanya, iya juga ya
"Papa punya sekolah?" Arum melepaskan pelukan mamanya menatap papanya
"Iya sayang, papa punya sekolah. SD, SMP, SMA tinggal universitasnya aja belum" jawab Edwin melihat keingintahuan Arum begitu besar
"Wahhhh hebat!" Kagum Arum
"Kenapa nggak sekalian aja papa buat universitas?!"
"Emang kamu mau kuliah disana?"
"Kagaklah!"
Dari kecil Elang ingin kuliah diluar negeri, setahun lagi ia akan mewujudkan keinginannya itu. Mereka melanjutkan obrolan mereka hingga Elang mengajak Arum kelantai atas.
"Arum mau belajar dulu?"
Belajar?
Terakhir kali Arum belajar 7 bulan yang lalu, itupun di sekolah. Jika di rumah mereka melihatnya belajar mereka akan marah dan menghukumnya, mereka tidak suka Arum belajar. Bayangan itu kembali muncul membuat tatapan Arum tiba-tiba kosong
"Sayang?"
Arum terperanjat merasakan bahunya sedikit terguncang, Arum menghela napas panjang melihat orang didepannya. Kakaknya itu menatap Arum dengan wajah khawatir. Arum menunduk membuat Elang menagkup wajahnya untuk mendongak padanya
"Hei! Kakak udah bilang sayang jangan nunduk! Kakak nggak suka Arum nunduk kayak gini"
Jika orang lain menunduk saat melihatnya, Elang tidak akan pernah protes karena memang seharusnya mereka melakukannya. Tapi jika orang itu adalah Arum maka Elang tidak akan terima. Sebagai adiknya, Arum harus tetap menatap wajahnya saat berbicara ataupun berhadapan dengannya.
"Kakak," cicit Arum mendongak menatap Elang
"Iya sayang?"
"A,aku nggak mau belajar." Arum menatap Elang dengan mata teduhnya berharap Elang bisa menurutinya. Elang tersenyum membawa Arum kedalam pelukannya.
"Yaudah kalau nggak mau, kakak nggak maksa. Tapi, lain kali Arum harus belajar ya! Kan Arum mau sekolah"
"Nggak mau kak" rengeknya yang dikekehi Elang. Ini kali pertama Arum merengek padanya. Elang senang dan ia sangat menyukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Genç Kurgu(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
