Instagram : unianhar
Decitan kursi mengalihkan perhatian keempat orang yang ada di meja makan, seorang pria baru saja duduk disamping Arum, tanpa ucapan selamat pagi dan tanpa aba-aba pria itu mencium pipi Arum.
"Sarapan yang banyak sayang" ucapnya mengelus kepala Arum sekilas, Arum mengangguk memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya. Pria itu terkekeh mengelus pipi Arum yang mengembung karena mengunyah.
"Lang mau apa?"
"Roti aja ma" jawab Elang tanpa mengalihkan matanya dari Arum. Elang meraih roti yang diulurkan Kanaya padanya, Elang menggigitnya sembari tersenyum lebar mengalihkan matanya dari Arum. Elang mengusap hidung berusaha untuk menahan senyum lebarnya, Elang mungkin sudah gila, melihat Arum makan saja membuat dirinya tak karuan.
"Lang!"
"Iya pa?" Elang melihat papanya mengusap sudut bibirnya dengan tissue, Edwin meletakkan tissue itu didepannya lalu menatap putranya "Kapan kamu bisa masuk kerja?" Elang sudah dewasa dan Elang juga sudah selesai kuliah jadi saatnya Elang bekerja di kantor.
"Besok lusa"
"Baiklah" Edwin mengangguk, Edwin tau jika Elang tidak suka membuang-buang waktu makanya Elang langsung masuk kerja.
"Arum?" Sembari mengunyah Arum menoleh pada Edwin "Sampai kantor papa akan transfer uang sakumu bulan ini" sambung Edwin. Sebagai orang tua, Edwin selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya termasuk Arum meski dia cuma anak angkatnya.
"Nggak usah pa, uang sakunya yang kemarin masih banyak kok" ucap Arum lembut melirik oma Putri yang tetap tenang didepannya.
"Anak mama nggak boleh nolak pemberian papa, kalau emang uang sakunya masih banyak kamu boleh pake buat belanja sama teman-teman kamu!" Itu kesekian kalinya Arum menolak transferan Edwin dan kesekian kalinya Kanaya memintanya untuk shopping bersama teman-temannya.
"Kalian ini! Kalau anak itu men--"
"Arum"
Oma Putri menatap cucunya seolah tidak mengerti sedangkan sang cucu menatap omanya begitu dingin.
"Sudah berapa kali aku bilang? Dia punya nama, namanya Arum." Perjelas Elang membuat oma Putri menghela napas kasar.
"Elang in--"
"Aku antar Arum dulu" potong Elang meraih tangan Arum "Sarapannya udah, kan? Biar kakak antar" Arum mengangguk membiarkan Elang menggandengnya keluar dari rumah, di depan teras mobil bugatti Chiron biru sudah bertengger menunggu sang empunya, Elang membukakan pintu untuk Arum dan membantunya masuk dengan meletakkan sebelah tangannya dibagian atas kepala Arum. Elang berlari memasuki mobilnya yang pintunya sudah dibuka oleh satpam.
Elang menyalakan mesin mobilnya lalu melirik Arum yang agak kesusahan memasang seatbeltnya. Elang mendekat ingin membantunya namun seatbelt itu lebih dulu terpasang. Arum tersenyum menoleh padanya.
"Hehe seatbeltnya agak keras kak" adunya melihat tatapan geli Elang padanya.
"Kakak akan minta orang untuk memperbaikinya"
"Nggak usah! Inikan mobil baru jadi wajar kal--"
"No, kenyamanan Arumku lebih utama. Atau kakak beli mobil baru aja?" Arum langsung mengeleng cepat, Arum meminta kakaknya untuk memperbaikinya saja dari pada harus membeli mobil lagi. Mobil kakaknya sudah banyak bertengger di garasi jadi buat apa lagi membuang-buang uang membeli mobil baru.
Selama 15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai ke sekolah, Elang membantu Arum membuka seatbeltnya lalu turun membukakan pintu untuk Arum.
"Lain kali kakak nggak usah buka pintunya! Aku bisa sendiri." Arum meraih tangan Elang yang terulur padanya, Elang menutup pintu mobil dan membantu Arum merapikan rambutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Novela Juvenil(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
