Pintu terbuka lebar, beberapa orang masuk melihat apa yang terjadi. Tak ada orang, Kanaya maupun Arum tak ada di kamar itu. Tiba-tiba seorang maid barlari dari arah kamar mandi dengan wajah panik, tak tau harus bilang apa maid itu menunjuk kearah kamar mandi bersamaan dengan suara teriakan histeris Kanaya kembali terdengar.
Mereka langsung berlari kearah kamar mandi. Melihat apa yang terjadi membuat mereka syok, Kanaya duduk dilantai dengan tangan menengadah berharap Arum memberinya sesuatu, Arum menggeleng pelan. Sebelah tangannya ia sembunyikan dibelakang melihat banyak orang disana. Arum tersenyum pada mereka seakan luka cakaran yang ada pada lehernya bukan apa-apa bahkan tetesan darah yang keluar dari pergelang tangannya tak membuat ia mengadu. Mirah sudah meluruh kelantai melihat wajah sahabatnya pucat pasih.
"Ap-----"
"Oh? Kalian datang?" Tanya Arum mengigit bibir dalamnya menahan ringisan yang ingin keluar "Aku terluka" Arum menunjuk lehernya dengan tangannya yang terluka, tetesan darah keluar mengenai gaun putihnya "Oh ini juga luka" Arum mengulurkan tangan kedepan menunjukkan lukanya pada mereka
"Aku sakit, rasanya sakit banget," rajuknya seakan mengadu, ia melangkah mundur hingga pecahan kaca menusuk telapak kakinya. Semua orang meringis melihatnya berbeda dengan Arum tak merasakan apa-apa "Aku nggak mau sakit lagi, jadi aku mau mati aja" ucap Arum cengengesan pilu, Arum memperlihatkan pecahan kaca runcing yang sudah penuh dengan darah pada mereka "Ini nggak bisa buat aku mati hiks. . ." Isak Arum meremasnya membuat darah dari tangannya semakin banyak
Kretak. . .
Suara retakan beling kaca terdengar saat seseorang melangkah pelan kearah Arum. Tangan kokohnya terulur kedepan meminta apa yang sebelumnya mamanya minta.
"Berikan," Arum menggeleng "Berikan, kamu bisa terluka parah" sambungnya membuat Arum kembali menggeleng
"Aku mau mati,"
"Jangan, kamu nggak boleh mati" pria itu berucap dengan suara bergetar, ia bisa menahan ekspresinya tapi tidak dengan hatinya yang menangis
"Kenapa?"
"Karena aku juga akan mati"
"Mana bisa gitu?" Arum menggeleng pelan "Kamu nggak sakit jadi nggak mungkin mati" sambungnya meringis
"Aku sakit, liat kamu kayak gini udah buat aku sakit"
"Kamu nggak terluka,"
"Tapi kamu terluka, lukamu adalah lukaku dan sakitmu adalah sakitku,"
"Oh?" Arum menaikkan tangan kanannya didepan Elang "Apa karena ini?" Elang mengangguk meraih tangan itu dan menciumnya tak peduli dengan darah Arum mengenai bibirnya
"Kumohon jangan kayak gini, jangan. Rasanya aku juga mau mati." Ucapnya serak, ia meraih pinggang Arum dan memeluknya. Perlahan tapi pasti ia meraih beling kaca yang ditangan Arum dan membuangnya kelantai lalu mempererat pelukannya pada tubuh dingin Arum dengan air mata tak terbendung.
"Kumohon bertahanlah, jangan tinggalin aku" bisiknya membopong Arum yang sudah tak sadarkan diri ke rumah sakit.
* * *
Elang duduk di kursi tunggu depan kamar dimana Arum dirawat, kedua tangannya bertumpuh pada kedua pahanya sambil menutupi wajahnya. Rasa takut, panik, khawatir bercampur satu hingga rasanya ia ingin gila. Melihat kekasihnya melukai dirinya sendiri membuat Elang ingin mati saat itu juga.
Elang ingin berlari menahannya tapi kedua kakinya rasanya begitu berat bahkan untuk bicarakanpun rasanya sungguh sulit mendengar curhatan kesakitan Arum. Arumnya sakit dan ia lebih sakit lagi.
Sungguh Elang mengutuk Khairil. Elang akan memastikan sendiri jika Khairil dan wanita yang bernama Arinka akan mendapatkan ganjarannya yang setimpal. Tak peduli Arinka yang melahirkan gadis yang ia cintai, Elang tetap akan memberi wanita itu pelajaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Teen Fiction(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Elang Trinarenra Abraham ingin seorang adik. Bukan adik kandung tapi adik angkat, Elang tau jika mamanya sudah tidak bisa mengandung lagi makanya ia meminta adik angkat pada kedua orang tuanya. Elang tidak memikirkan sama s...
