Masih sama seperti awalnya sikap Yora tak berubah terhadap Lexon, hanya saja mereka lebih sering berkomunikasi dari sebelumnya. Bersama Yora membuat Lexon menjadi lebih berani terbuka mengenai banyak hal. Mereka selalu menyempatkan bertemu ketika akhir pekan. Rion juga Willem begitu senang melihat hubungan keduanya yang terus saja tampak serasi. Siang itu Lexon mengajak Yora makan di food court salah satu mall, ketika sudah selesai makan dua orang cewek datang menghampiri sambil menyebut nama Lexon.
“Lexon, apa kabar kamu? Sudah lama gak lihat kamu” Ujar salah satu cewek sambil duduk di sebelah Lexon.
Yora yang duduk di depan Lexon hanya menatap bingung.
“Sama siapa kamu di sini? Kok gak pernah hubungi aku sih?”
Cewek yang lain mengambil posisi duduk di samping Yora sambil lekat menatap Lexon yang masih tak menjawab.
“Lexon aku kangen banget sama kamu” Ujar cewek di depan Lexon sambil hendak memegang tangan Lexon yang berada di atas meja namun dengan cekatan Lexon menarik kedua tangannya menghindar.
“Kalian berisik banget sih” Ujar Lexon.
“Loh kok berisik sih Lex? Ahh setelah ini kamu mau kemana? Bareng yuk”
Yora merasa kehadirannya saat itu benar-benar tak dianggap.
“Lex, aku ke toilet dulu yah” Ujar Yora jengah.
Dengan lirikan tak suka kedua cewek itu menatap Yora, “Siapa nih Lex?” Tanya salah seorang cewek dengan nada sinis.
“Lex jangan bilang kalau dia pacar kamu, aduh gak banget yah. Gak oke sama sekali, dan aku tahu jelas dia bukan tipe kamu kan Lex”
“Kalian terusin deh yah, aku ke toilet dulu” Ujar Yora lalu melangkah pergi.
Sambil berjalan Yora mengirim pesan untuk Lexon bahwa ia akan pulang sendiri, kurang dari satu menit Lexon mengirim balasan agar Yora menunggu di toko buku ia berjanji tak akan lama segera menemui Yora. Dengan santai Yora menuruti Lexon. Ia masuk ke sebuah toko buku, lalu mulai mengedarkan pandangannya ke segala buku-buku yang tersusun rapi pada rak. Kaki nya terhenti di rak novel misteri, matanya serius menatap cerita singkat yang tertera di bagian belakang buku. Sebuah tangan merangkul bahu Yora dari belakang, seketika Yora menoleh dan mendapatkan Lexon namun tanpa jaket yang sejak tadi ia pakai.
“Jaket kamu mana Lex?” Tanya Yora penasaran.
Senyum di bibir Lexon, “Di pakai sama Rion”
“Rion? Kenapa bisa sama Rion? Rion di sini?”
“Dua cewek itu maksa aku buat nemenin mereka di sini jadi aku minta Rion kesini buat gantiin aku jalan sama mereka”
“Jadi kamu kasih jaket kamu supaya mereka gak tahu kalau yang sama mereka Rion dan bukan kamu?”
Lexon tersenyum lebar. “Hal ini sudah biasa aku sama Rion lakuin kok”
“Tukar posisi maksudnya? Waaah aku bisa dibohongi kalian dong” Protes Yora.
“Makanya kamu harus tahu mana aku dan mana Rion. Yuk ah nanti ketemu mereka lagi di sini” Lexon mengandeng Yora keluar toko buku.
Hubungan mereka sebagai sepasang kekasih sudah berjalan tiga bulan lamanya. Perlahan namun pasti Lexon telah berhasil mendapatkan hati Yora.
“Yora, ada yang mau aku omongin sama kamu” Ujar Lexon.
“Apa? Kalau kamu bilang begini pasti serius deh”
Dengan tatapan penuh arti Lexon menatap Yora, “Menurut kamu gimana hubungan kita sekarang?” Tanya Lexon.
“Awal aku jalani hubungan ini sama kamu, dan aku mau ada saling percaya”
“Hari ini aku mau bilang sesuatu ke kamu yang selama ini jadi masa lalu aku”
Seperti biasa Yora menunggu dengan sabar apa yang ingin Lexon katakan.
“Kalau kamu mau marah itu hal yang wajar karena aku gak cerita masalah ini dari awal” Lexon diam sejenak “Apa kamu yakin masih bisa percaya sama aku setelah aku cerita masa lalu aku, Ra?”
“Aku gak punya apa-apa Lex, aku cuma punya kepercayaan sama kamu, itu saja”
“Sebelumnya aku sempet jadi peminum Ra, gak hanya itu aku juga suka keluar masuk klub malam dan itu buat aku suka bermain dengan banyak cewek yang hanya bertahan dua sampai tiga minggu. Aku seorang perokok berat, entah apa yang buat aku seperti itu padahal aku bukan berasal dari keluarga broken home” Lexon menghentikan kalimatnya.
Tatapan Yora disertai senyum simpul membuat Lexon begitu nyaman, rasa takut kehilangan Yora mulai sirna ketika melihat tak banyak respon yang diberikan Yora setelah mendengar masa kelamnya.
“Aku suka dunia malam, aku suka ikut balap liar, dunia saat itu bawa aku ke obat-obatan hingga aku jadi pemakai. Saat itu aku gak peduli perasaan mama papa, yang ada dalam kepala aku cuma seneng-seneng saja. Rion selalu jaga aku, terkadang ketika teman-teman mengajak untuk mengadakan pesta narkotika, Rion akan berperan sebagai aku dan menolak secara halus. Sampai satu waktu di mana aku ikut balap liar, dan tiba-tiba hilang kendali. Rion yang khawatir tentang keadaan aku saat itu, melihat kakaknya yang berteriak memerlukan obat penenang membuat Rion mengambil keputusan yang berat. Rion mau aku lepas dari jerat obat terlarang tapi di lain sisi dia juga gak tahan lihat aku yang rela menyakiti diri sendiri demi menghilangkan rasa sakit, pada akhirnya tiba satu waktu aku over dosis dan dilarikan kerumah sakit. Saat itu aku merasa ada diambang kematian, yang ada dipikiran aku cuma penyesalan besar” Ketika menceritakan masa pahit yang pernah ada dalam hidupnya membuat Lexon menunduk seakan merasakan kembali getirnya saat itu.
Yora berdiri dari tempat duduknya kemudian berpindah kesamping Lexon, tangannya kanannya mengusap lembut punggung Lexon sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan kekasihnya. Seakan rasa sakit muncul kembali, Lexon mencengkram kuat tangan Yora, ia terlalu takut.
“Semua hanya proses pendewasaan buat kamu, dan aku percaya kamu yang ada sama aku sekarang adalah Lexon yang baru, aku gak mau peduli sama masa lalu kamu Lex” Ujar Yora setengah berbisik di telinga Lexon.
Seolah mendapatkan kekuatan baru Lexon merengkuh tubuh Yora erat, “Aku takut setelah aku cerita kamu akan pergi Yora” Tukas Lexon.
“Aku gak akan pergi asal kamu percaya sama aku” Balas Yora.
Setelah cukup tenang Lexon mengajak Yora untuk pulang, matanya tertuju pada warna merah yang tertinggal di pergelangan tangan Yora.
“Tangan kamu?” Lexon memperhatikan ruam pada tangan gadisnya.
“Ah gak apa-apa kok ini” Yora menjawab seraya menarik tangannya dari Lexon.
Dengan cepat Lexon menarik tangan Yora “Apa ini karena aku tadi?” Rasa bersalah berada dalam nada bicara Lexon.
“Lex, udah dong aku gak apa-apa. Sakit ini gak sebanding sama rasa sakit hati yang kamu rasakan tadi, Lex harusnya kamu gak perlu lagi sentuh rasa pahit itu”
Tatapan begitu dalam Lexon arahkan kepada Yora “Mungkin ini salah satu yang buat aku jatuh hati sama kamu Ra, maaf sekali lagi”
“Udah ah jangan minta maaf terus” Ujar Yora sambil melepaskan tangan Lexon dari pergelangannya lalu ia menggamit lengan Lexon mengajaknya ke arah parkir. Sebelum meninggalkan pelataran parkir Lexon memegang kedua bahu Yora hingga mereka dalam posisi berhadapan. Begitu lekat ia menatap Yora.
“Yora, aku begitu beruntung bisa dapat rasa sayang dari kamu, sejujurnya mungkin aku gak pantas untuk kamu tapi hati ini terlalu egois karena aku gak mau lepasin kamu”
Yora tersenyum mendengar ucapan Lexon yang ia tahu tulus mengalir begitu saja, Yora tahu jelas Lexon bukan tipe orang yang suka berbasa-basi atau melebihkan keadaan. Ia sosok yang selalu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, ia juga seseorang yang selalu melakukan apa saja yang ia ingin, tak peduli tentang pendapat orang-orang disekitarnya.
“Belajar tutup mata dan tutup telinga kamu dari semua sikap juga ucapan yang cuma menjatuhkan kamu, karena ingatlah yang bisa menjatuhkan kamu hanya diri kamu sendiri”
Yora menatap tak mengerti dengan ucapan Lexon, ia mengerutkan dahi menatap ke arah Lexon yang memberinya tatapan teduh.
“Ucapan cewek-cewek tadi jangan pernah kamu ingat lagi yah, karena yang mereka tahu kamu beruntung bisa sama aku tapi sebaliknya aku yang beruntung dapat hati kamu, Yora” Lexon berkata lagi lalu ia menarik tubuh Yora ke dalam pelukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih ikutin cerita aku kan... sebelum lanjut voted dan koment yah
KAMU SEDANG MEMBACA
At Least
Romanceperjuangan dua hati menentukan pilihan dalam kisah cintanya. Restu yang tak kunjung Lexon dan Yora dapatkan belum lagi diperhadapkan dengan berbagai pilihan sulit. Namun Tuhan tak pernah tinggal diam, Ia selalu memberikan apa yang menjadi milikmu ji...
