Bintang masih bersinar - 2

1 0 0
                                        

Salah satu rutinitas Yora sejak putus komunikasi dengan Lexon adalah menulis surat. Dan selama kurang dari dua tahun belakangan ini ia sudah menulis dua puluh tujuh surat untuk Lexon yang ia simpan rapi dalam laci mejanya. Ketika rindunya memuncak atau sedang berada dalam kondisi terendah Yora akan menulis, seperti malam itu. Ia membolak-balik halaman majalah yang sama sekali tak dibaca, pikirannya melambung jauh. Tanpa berpikir lagi tangannya menarik laci lalu mengambil secarik kertas putih yang akan mendengarkan cerita hatinya malam itu. Kembali sebuah telaga kecil terbentuk di matanya. Rindunya menguap sementara tinta penanya terus mengalir di atas kertas putih, menceritakan setiap bagian yang ada dalam hatinya. Beberapa saat ia sudah menyelesaikan tulisannya, dengan rapi surat itu dimasukan ke dalam amplop dan digabungkan dengan surat lainnya. Yora mengenakan sweater yang tergantung di balik pintu kamar kosnya lalu berjalan keluar kamarnya. Sambil melangkah santai Yora melipat kedua tangannya depan dada, merasakan udara dingin yang tercipta. Bayang Lexon masih bermain di alam pikirannya. Yora memang gadis yang mudah bergaul dengan siapa saja namun ia tak memiliki seseorang teman cewek yang bisa ia ajak berbagi, ia lebih suka bercerita dengan dirinya sendiri, atau seperti malam itu.

“Ngapain kamu di sini?” Tanya Yora heran.

“Tadinya aku yang mau tanya, kenapa belakangan ini kamu selalu kesini di jam yang sama, sendiri, dan gak lakuin apa-apa?”

“Gimana caranya kamu tahu?”

Willem menyuruh Yora duduk di sebelahnya “Awalnya tiga hari yang lalu gak sengaja lihat kamu duduk di sini sendirian, jadi aku sama Luca lihat kamu dari jauh, besoknya aku lihat kamu di sini lagi, dan hari ini aku mau tahu apa kamu lakuin hal yang sama, dan ternyata memang benar” Willem menjelaskan.

“Kamu kayak detektif Will” Yora berujar sambil menatap langit.

“Ra, kamu punya aku, ada Luca, Rion juga selalu siap jadi tempat cerita kamu. Kamu gak sendirian Yora, kamu tahu itu”

“Ah Willem...Willem.. Aku gak kenapa-napa kok. Aku cuma pengen cari angin saja, bosen di kamar”

“Tapi gak selalu sendiri gini juga, kamu kayak anak hilang tahu gak”

Yora tertawa mendengar Willem, cowok satu itu selalu saja ada untuk Yora. Setelahnya tawa Yora terhenti sekejap, ia menundukan kepala memandang ujung sepatunya tanpa fokus, pikirannya kembali melayang-layang. Willem menatap sahabatnya iba.

“Sampai kapan kamu mau bohong Ra? Akui lah kamu butuh Lexon, hubungi dia, hentikan kesepakatan yang gak berujung ini” Willem berkata hati-hati.

Jelas Yora mendengarkan setiap perkataan Willem, namun ia masih saja terdiam, ia sendiri tak mengerti apa yang ia pikirkan, Yora terlalu bingung dengan dirinya.

Sentuhan lembut terasa di pundak Yora, “Ra, angkat kepala kamu lihat ke langit”

Seperti anak kecil yang penurut Yora menengadahkan kepalanya, ia menatap pada langit malam itu yang penuh dengan cahaya bintang berkilau, berkelip seakan memainkan matanya manja.

“Bintang masih tetap bersinar dan akan selalu begitu apapun yang terjadi” Ujar Willem menenangkan.

Kalimat sederhana namun terdengar menyentuh bahkan seakan memiliki kekuatan yang memberi Yora secercah harapan, senyum kecil di wajah Yora namun diiringi air mata yang terurai dari sudut matanya. Ia terus saja menatap ke langit.

“Ayok” Willem berdiri lalu mengulurkan tangannya memberi isyarat agar Yora mengikuti gerakannya “Kita makan es krim yuk”

Tanpa berkata lagi Yora menyambut uluran tangan Willem serta mengikuti langkahnya.
Dengan mobil Willem mereka telah tiba di salah satu gerai yang khusus menyediakan berbagai macam es krim. Yora masuk dan melihat Luca yang melambai ke arah mereka.

“Kamu di sini?” Ujar Yora saat bertemu dengan Luca.

“Duduk sini Ra. Sebenernya hari ini memang sengaja tunggu kamu di sini, karena kita yakin kamu pasti ke taman lagi jadi setelah ketemu kamu, Willem akan bawa kamu kesini ketemu sama aku, memang kamu gak kangen sama aku?” Luca berceloteh sambil memasang tampang paling imutnya.

Bahu Yora bergetar menahan tawa saat melihat tingkah Luca.

“Ayook mau pesen apa kamu?” Luca menawarkan.

“Ra, mulai besok jangan ke taman lagi deh, nanti diculik gimana” Protes Willem “Kalau memang bosan atau butuh temen hubungi kita saja” Tambahnya.

Setelah memesan Yora menatap kedua temannya bergantian “Aku gak habis pikir sama kalian berdua, selalu saja mau aku repotin”

“Kita seneng kali Ra kalau kamu yang repotin” Balas Luca santai.

“Lagian dulu kamu sering kontek aku, kenapa sekarang gak?”

“Sekarang beda Will. Dulu kamu masih single sekarang kamu ada Lestha, Rion ada Angelica, dan kamu Luca sudah ada Vemi jadi aku gak bisa seenaknya cari kalian dong”

Luca dan Willem saling bertatapan, Willem menghela napas keras sedangkan Luca menepuk dahi.

“Gak penting banget pikiran kamu itu sih Ra, Lestha, Vemi, sama Lica semua suka sama kamu, jadi gak perlu takut lah”

“Iya apaan sih kamu Ra, lagian yah asal kamu tahu Vemi bilang sama aku kalau kamu tuh gak kayak cewek” Luca menambahkan sambil tertawa.

“Iya Ra, Lestha juga bilang kamu tuh unik. Cewek tapi anti salon, anti warna pink, jadi gak ada alasan buat mereka cemburu sama kamu”

Seketika wajah Yora berubah cemberut membuat Luca lantas mencubit kedua pipi Yora gemas.

“Sakit Luca” Yora mengaduh kesakitan namun Luca tak peduli.

“Inget yah Ra, kapanpun kamu butuh kita cukup angkat telpon Ra”

Yora tersenyum simpul, “I should Thank my God cause have both of you”

“So sweet Yora” Balas Luca “Es krim kali ini aku yang traktir”

“Horeeee” Yora bersorak seketika membuat Luca juga Willem merasa lega.

At LeastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang