Part 29

460 42 7
                                        

Musim salju, Desember tahun 1994

"Cissy?!", panggil seorang wanita paruh baya saat menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

" ibu?!", seorang gadis yang tampak sedang mematut diri di cermin terlonjak kaget.

Wanita itu kemudian masuk dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kenapa kau lama sekali?! Ayah dan ibu sudah menunggu terlalu lama di bawah", keluhnya pada sang putri.

Cissy panggilan akrab Narcissa, gadis cantik yang merupakan putri tunggal seorang pengusaha sukses dan ternama di Inggris, Barty Crouch, memasang wajah memelas pada ibunya.

" ayolah, bu! Aku sedang bingung harus mengenakan apa untuk malam ini. Aku merasa semua baju yang ku punya tak sesuai dengan acaranya", gerutunya sambil menatap malas pada tumpukan baju di atas ranjang.

Viviane yang mendengar gerutuan Narcissa hanya bisa terkekeh kecil. Ia pun menghampiri Narcissa dan memegang kedua bahunya.

"Oh, sayang! Dengarkan ibu! Kau adalah putri satu-satunya ibu yang paling cantik. Jadi pakaian apapun yang kau kenakan pasti cocok untukmu, sayang. Lagipula, ibu yakin Putra Mahkota akan langsung menyukaimu pada pandangan pertama", ucap Viviane memberi semangat.

" ibu pikir begitu?!", tanya Cissy ragu.

"Tentu! Jadi cepatlah bersiap! Ibu akan menunggumu dibawah", pinta Viviane dan kemudian berbalik keluar.

Ruang Tengah

" mana Cissy, sayang?", tanya Barty saat mendengar langkah kaki istrinya mendekat.

"Tenanglah, sebentar lagi dia akan keluar. Maklum putri kita terlalu gugup untuk bertemu Putra Mahkota".

Tak lama kemudian, Narcissa muncul. Ia terlihat sangat mempesona dengan balutan gaun malam berlengan pendek berwarna pastel. Dipadukan dengan sepatu high heels setinggi 5 cm berwarna gelap.

Dia tampak makin sempurna dengan tatanan rambut yang ia gerai lepas membingkai wajah ayunya.

"Cissy, is that you, dear?!", ucap Barty, sang ayah, tak percaya.

" iya, ayah! Bagaimana penampilanku?", Narcissa balik bertanya.

"Sempurna, sayang!", sahut ibunya antusias.

" kalau begitu, ayo berangkat sekarang!", ajak Barty pada istri dan putrinya.

***

"Aku ingin kau bisa menjaga sikap pada keluarga sahabat ayah nanti!", ucap Raja Abraxas pada putranya.

" untuk apa, ayah?! Memangnya sepenting apa mereka bagi kita?!", ketus Lucius.

"Putra Mahkota! Kau tak sepantas berkata seperti itu tentang keluarga calon istrimu", bentak Ratu Victoria.

Beruntung mereka mengobrol di ruang kerja Sang Raja. Ruangan itu kedap suara, sehingga tidak ada siapapun yang dapat mendengar pembicaraan mereka.

" APA?! CALON ISTRI?!", pekik Lucius tak percaya.

"Iya, Lucius! Kami telah menjodohkanmu dengan putri mereka. Dan kau harus menerimanya", jelas Abraxas.

" tidak mungkin, ayah! Aku sudah mempunyai keka~".

"Apa yang kau maksud adalah gadis Greengrass, Putra Mahkota?!", ujar Victoria memotong perkataan Lucius.

Bagai Sebuah DongengCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang