Draco POV
Aku sungguh merasa dipermalukan Blaise dkk dihadapan gadis itu secara tak langsung.
Aku bukan tipikal pria pemalu yang takut berdekatan dengan wanita. Aku sangat popular dan tampan, tentu saja. Tapi entah kenapa aku merasa dia gadis yang sangat berbeda dengan yang lain.
Flashback on
"Astaga!", seru gadis itu pelan.
"Upps, maaf! Aku tak bermaksud mengagetkanmu", sesalku
" uhm, tak apa! Aku baik-baik saja. Kau si.... Putra Mahkota?!", ujar Hermione saat melihatku.
"Ehm, hai! Panggil Draco saja", pintaku.
" ehm, oke! Ngomong-ngomong... Ada yang bisa kubantu, hem?", tanya Hermione.
Aku tak tahu harus memulai darimana, hingga tanpa sadar aku hanya berdiri membisu.
"Ohya, silahkan duduk!", kata Hermione lagi
" terima kasih", balasku dan aku duduk dihadapannya.
"Lalu? Apa yang bisa ku bantu, Draco?", ulang gadis itu.
" bolehkah aku berkenalan denganmu, Miss.....", ucapku to the poin.
"Granger, Hermione Granger!", sahut Hermione.
" baik, Hermione! Bolehkah?".
"Tentu!", balas Hermione dengan senyuman manisnya.
Flashback off
Mengingat senyum manisnya membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku sampai tak konsentrasi terhadap segala hal yang ku kerjakan.
" apa aku jatuh hati padanya, ya?!", desahku pelan.
Ku baringkan tubuhku ke ranjang sambil memandang kosong ke atas.
"Perasaan ini seperti yang kurasakan padanya. Mungkinkah aku benar-benar menyukainya? Pada pandangan pertama? Tak mungkin", ucapku pada diri sendiri.
Entah berapa lama aku melamun, atau lebih tepatnya memikirkan Hermione. Suara Frank mengagetkanku.
" Putra Mahkota?!", panggilnya.
Seketika aku terbangun saking terkejutnya.
"Oh astaga, Frank! Bisa tidak kau tak menggangguku sebentar saja", omelku sambil memegang dada.
" ma..maafkan aku, Yang Mulia!", sesal Frank dengan ketakutan.
"Ada apa?".
"Anda dipanggil Ibu Ratu di ruangannya, Putra Mahkota", jelas Frank.
" untuk apa?", tanyaku lagi.
"Maaf, Putra Mahkota! Saya tidak tahu".
" ya nanti, aku akan kesana. Sekarang keluarlah dari kamarku", titah ku.
"Baik, Putra Mahkota".
Draco POV end
***
" Cissy! Aku harap kau bisa mempercayai Draco untuk menangani proyek itu. Sudah saatnya ia mulai belajar", Severus menyarankan.
"Tapi Severus, ia masih muda dan emosinya juga masih labil. Aku takut ia mengacaukannya", cemas Ratu Narcissa.
Severus Snape bangkit dari duduknya dan mendekati meja kerja sahabatnya itu.
" aku yakin ia bisa mengatasinya. Kita hanya perlu memberinya kesempatan. Suatu hari nanti ia juga yang akan menggantikanmu memimpin kerajaan ini, Cissy!", kata Severus meyakinkan.
"Baiklah! Akan aku coba, Severus!", Ratu menyetujuinya.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar. Dan masuklah Draco dengan wajah dinginnya. Sekilas ia melirik pada sekretaris kerajaan lalu beralih pada Sang Ratu.
" ada kepentingan apa sehingga anda memanggilku?", tanya Draco langsung.
"Duduklah dulu, Putra Mahkota", ramah Ratu.
" aku tak ada waktu untuk berbasa-basi. Jadi katakan segera!", ucapnya dingin.
Ratu hanya menghela napas pelan. Ia mencoba untuk lebih lunak pada putranya.
"Baiklah, aku hanya ingin memberikanmu tugas penting untuk minggu depan", ucap Ratu memulai.
" tugas apa maksud anda?", tanya Draco penasaran.
Sebelum melanjutkan, Ratu melirik sekilas pada Severus. Severus hanya membalas dengan anggukan.
"Minggu depan ada kunjungan kenegaraan dari Perancis. Dan ini mengenai kerja sama dalam hal kebudayaan. Apa kau bisa menanganinya?", terang wanita paruh baya itu.
" akan aku pikirkan. Ada lagi?".
Ratu hanya bisa menghela napas sabar akan sikap Putra Mahkota.
"Tidak ada lagi", ujarnya pelan.
Draco langsung berbalik pergi tanpa berpamitan. Ratu terlihat amat sedih. Ia tampak tertunduk lesu di balik mejanya.
" bersabarlah, Cissy! Pasti suatu saat hubungan kau dan ia kembali membaik", hibur Severus.
"Terima kasih, Severus!", balas Ratu Narcissa.
Di samping itu, Draco bergegas kembali ke kamarnya. Siang ini ia memutuskan untuk pergi ke kampus saja walaupun tak ada jadwal.
Ia pun kemudian beranjak menuju garasi mobilnya. Tapi di koridor dekat garasi, Frank mengejar dirinya.
"Putra Mahkota! Putra Mahkota! Kumohon tunggu sebentar!", pintanya.
" ada apa lagi, Frank?", keluh Draco saat berhenti.
"Anda mau kemana? Hari ini anda ada jadwal belajar ilmu kenegaraan", ujar Frank mengingatkan.
" aku mau ke kampus dan akan pulang malam. Jadi jangan menunggu aku, oke!", perintahnya.
Sebelum Frank sempat menjawab, Draco sudah pergi meninggalkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagai Sebuah Dongeng
RomanceDiadaptasi dari kehidupan The Royal Family.... jalan cerita tak selalu sama tapi memiliki makna yang serupa
