21. Semakin Merenggang

145 20 52
                                    

Semua orang mulai mengerubungi Raina. Pak Satya memberikan arahan agar tak mengerubungi Raina. Petugas yang berjaga dibagian uks segera membawa Raina dengan menggunakan tandu yang sudah tersedia bagi para siswa/i yang kelelahan.

Upacara tetap berjalan namun dengan sedikit pengunduran karena hal tersebut. Rafi melihat dengan jelas Raina di bawa dengan menggunakan tandu ke arah uks. Rafi segera melangkah pergi kearah uks dan menemukan Raina sedang diobati.

Rafi mengambil handphonenya dan menelfon bundanya. Panggilan pertama terabaikan, namun saat panggilan kedua bundanya barulah terangkat.

"Hallo bunda." Rafi memastikan jika sambungan antara mereka berdua sudah tersambung.

"Iya. Kenapa, sayang?"

"Raina, bunda. Dia pingsan saat mau upacara. Apalagi dia ngeluarin darah yang banyak banget dari mulut." Rafi berucap dengan suara rendah agar tak ada seorang pun yang tau.

"Bunda otw sekarang. Jagain Raina sebelum bunda sampai." Halima menutup telfonnya.

Rafi yang tadinya berada diluar uks masuk dan duduk dipinggiran kasur yang ditempati Raina. Petugas uks yang sudah selesai mengobati Raina segera keluar.

Sibakan korden dari ruang sebelah membuat Rafi menengok. Rafi menemukan Razir tengah memandang dirinya lalu Raina secara bergantian.

"Raina kenapa, Fi?" Razir bertanya pada Rafi yang masih memperhatikan Razir.

Rafi mengedikkan bahu. Menandakan bahwasanya dirinya tak tahu. Iya atau tidaknya, Rafi sengaja tidak ingin memberitahu Razir.

Dinding persahabatan mereka mulai goyah. Tak sekuat yang dulu, saat pertama kali mereka mulai mengenal satu sama lain.

Rafi membiarkan Razir masih memperhatikan Raina sebelum kemudian Rafi menutup tirai diantara Razir dan Raina.

Razir diam melihat tirai yang ditutup oleh Rafi. Tidak ada perlawanan, sudah seharusnya Rafi melakukan hal itu. Razir pun mengakui bahwa tidak seharusnya ia peduli lagi akan perempuan itu.

Biarkan Raina dengan kehidupannya begitupun dengan dirinya. Tak ingin lagi berfikir apapun yang membuat kepalanya semakin pusing, Razir menutup kedua matanya. Berusaha membuat pikirannya semakin rileks sehingga ia bisa cepat tidur.

Semakin Razir ingin memejamkan mata semakin bayangan Raina muncul. Entah sebab apa yang menghantui pikiran Razir, yang pasti Razir kembali membuka mata. Melihat lampu dan menarawang.

Pintu terbuka dan kembali tertutup kembali. Razir yang mendengar semua itu membuka sedikit celah tirai yang tadi sempat Rafi tutup.

Razir melihat Raina dengan selang infus ditangannya. Masih dengan nafas yang teratur, Razir kembali meneliti permukaan wajah Raina.

Wajah Raina semakin tirus, dan itu yang ada dipandangannya. Tak ada lagi senyum merekah yang pernah Razir lihat.

Razir kembali menerawang hal apa saja yang pernah ia lakukan ke Raina. Semakin hal itu teringat semakin Razir meringis dengan apa yang pernah ia perbuat.

Razir mematung melihat Raina perlahan lahan mulai membuka mata. Razir segera menutup tirai Antara dirinya dan Raina.

Razir diam, semoga saja Raina tak melihat ia sedang memperhatikan dirinya. Razir kembali terdiam, seharusnya ia tak kembali memperdulikan Raina.

Ia sudah terlalu membuat Raina merasakan hal yang tidak mengenakkan. Razir tak harusnya peduli, bagaimanapun ia sudah menempatkan hatinya pada Rani.

Termasuk apapun yang membuat Rani kecewa, akan Razir usahakan agar Rani selalu bisa tersenyum karena dirinya.

Razir kemudian menatap tirai yang menutupi antara dirinya dan Raina. Ada rasa yang tidak bisa Razir jelaskan saat ini. Rasa yang selalu Razir inginkan pergi namun tak bisa.

RanzirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang