Terimakasih, terimakasih atas rasa sakit yang kau berikan.
- Raina Alexandria-
{-}
Aroma dari teh yang Raina masak membuat Gaelan yang tadinya sempat terpejam sambil berjalan mendadak kaget dan langsung menuruni tangga dengan cepat.Gaelan sudah sampai di depan Raina, tapi yang membuatnya bingung mengapa bukan ibunya yang membuat teh?
Gaelan memiringkan kepala dengan kebingungan yang masih melanda dirinya sedangkan Raina sudah selesai menuangkan teh tersebut dalam teko yang sudah dia ambil tadi.
"Ibu kok jadi muda lagi ya?" bingung Gaelan berucap pada dirinya.
Raina membalikkan badan dan bertemu pandang dengan Gaelan. Raina mengakhiri dengan salah tingkah sambil membawa teko ke meja makan.
Di antara kebingungan Gaelan, Raina menyuruh Gaelan meminum tehnya terlebih dahulu.
"Apa teh ini buatanmu? " tanya Gaelan menaruh teh yang tadi sempat ia minum.
Raina hanya menganggukkan kepala malu di tatap sedemikian seperti itu.
"seperti yang ibu buat. Teh buatanmu enak." ujar Gaelan lalu kembali menyeruput teh buatan Raina.
Setelah itu Gaelan membawa teh buatan Raina ke kamar, tapi sebelum menaiki tangga ia berucap
"seperti sudah ditakdirkan pada semesta, kamu mirip sepeti ibu." ujar Gaelan yang langsung naik ke atas.
Raina melihat Gaelan yang pergi dengan membawa teh yang tadi ia minum. Raina tersenyum, entah apa yang membuat dirinya merasa bahagia untuk itu. Jika di pikirkan pun sikap Gaelan dan Razir sangat berbeda. Dua sikap yang bertolak belakang. Gaelan begitu baik pada siapapun termasuk dirinya, padahal mereka baru bertemu sekali. Sedangkan Razir sangat membenci dirinya, tidak terlalu yakin bahwa ada harapan sekali saja agar Razir tidak menatapnya benci.
Raina mengerti bahwa ia tidak harus melanjutkan cerita ini tanpa Razir, biarkan cerita ini mengalir bersama dirinya. Tidak akan ada yang mengakhiri cerita ini, namun cerita ini terlalu sulit untuk di tulis ulang kembali. Hingga ia bisa menemukan titik bahwa ada harapan di cerita ini.
Jadi biarkan semuanya berjalan.
{-}
Raina memasangkan dasi sebagai pelengkap terakhir atributnya. Ketika ia merasa sudah selesai, ia menyisir rambutnya menjadi tergerai, lalu mengambil tas dan keluar.
Raina berhenti di ujung tangga melihat ibu kosannya sedang menyajikan makan. Raina menatap hidangan itu dengan tatapan lapar sedangkan Naira -(ibu kosan Raina) - melihat Raina berhenti diujung tangga melihat hidangannya. Senyum Naira mengembang melihat Raina.
"Raina, ayo kita makan bersama."
"Baiklah." ujar Raina sambil berjalan ke arah meja makan.
"Apa ibu melupakan aku?" ujar laki laki yang berdiri tak jauh dari mereka. Raina dan Naira pun serentak menoleh, melihat Gaelan yang sudah berseragam lengkap. Naira tersenyum melihat anaknya yang sudah kelas 3 SMA itu menatap dirinya.
"Gak mungkin dong ibu lupa abang. Sini kita makan bersama."
Gaelan menatap Raina lalu ibunya bergantian, setelah itu berjalan ke meja makan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ranzir
Ficțiune adolescențiDia Raina Alexandria. Seorang perempuan dengan seribu bahasa yang ia simpan dimulut. Bukan masa lalu yang membuat ia sekarang diam, tetapi seseorang yang telah mengambil hatinya kini membenci dirinya. **** Dia, Razir Smolither menyukai seorang cewek...