Raina berhenti ketika dirinya diperhatikan saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah.
Raina melanjutkan lagi jalannya, namun semakin masuk kedalam ia semakin mendapati orang orang mulai berbisik padanya sambil melihatnya dengan tatapan jijik.
Memang ada apa dengan dirinya?
Raina kemudian mempercepat jalannya sampai dimana ia bertabrakan dengan seseorang.
Raina terjatuh begitupun dengan perempuan itu. Mereka sama sama memegang jidat sebelum kemudian Raina mengangkat kepala begitupun Rani.
Raina menurunkan pandangannya berusaha mengambil tas tenteng miliknya yang terlempar cukup jauh.
Rani yang melihat Raina yang ia tabrak hanya diam saja. Berusaha untuk tidak membuat keributan lagi disini. Jika tidak Pak Beni akan memberikannya skors.
Rani kemudian menepuk tangannya yang terasa sakit, namun melihat ada orang yang mengulurkan tangan untuk Raina membuat Rani segera mendongkrak.
Razir disana masih memperhatikan Raina yang sedang menatapnya. Membuat Rani marah karena mereka bertatapan didepan matanya.
Razir kemudian mengambil tas Raina dan mencoba membantu Raina berdiri namun belum sampai Raina berdiri sempurna Raina segera melepaskannya membuat Razir kaget dan segera menutupinya dengan tersenyum.
Rani masih diam saja, berharap Razir mau membantunya untuk berdiri, namun saat Raina pergi Razir segera menyusul membuat Rani yakin bahwa Razir tak akan membantunya.
Bahkan untuk menengok kebelakang pun tak Razir lakukan. Karena sejatinya Rani tau bahwa Razir mulai mengkhwatirkan Raina.
{-}
"Raina tadi gue liat Rani nangis dikamar mandi." Ujar Wina saat Raina Baru balik dari perpustakaan.
Raina memberhentikan gerakan menulisnya. Ia menengok kearah Wina yang sedang memperhatikannya lalu melanjutkannya lagi.
"Kalau capek jangan dipaksain ya, Na." Ujar Zira yang duduk dibelakang mereka.
Raina hanya menganggukkan kepala. Untuk saat ini ia rasa dirinya mulai membaik atau mungkin pura membaik.
Raina tak terlalu ambil pusing tentang hal yang Wina ucapakan, biar saja jika Rani menangis di kamar mandi.
Biarkan kali ini ia menjadi orang jahat yang tak memikirkan orang lain. Biarkan hatinya membaik dengan tidak berurusan pada orang jahat yang tersakiti.
Raina kembali menulis lagi, membiarkan tangannya bekerja sesekali mencari jawaban di buku paket.
Raina kembali menengok ketika Wina memegang pundaknya. Wina kemudian diam saja sebelum kemudian berbicara.
"Ka Razir mulai serius sama lo, Na." Ujar Wina yang menatap mata Raina.
Raina diam saja melanjutkan lagi menulisnya dan bertindak seakan akan tidak mendengar apa yang baru saja Wina ucapkan.
"Na, Ka Razir bener bener mau serius sama lo. Gue bisa liat itu."
"Na..."
"Wina!" Nada suara itu membuat Wina bungkam, Wina berbalik menatap Zira yang sedang menatapnya dengan tatapan yang jarang Wina dapatkan dari Zira.
"Jangan paksa Raina buat itu. Setiap kali dia berusaha buat ngelupain Ka Razir, disitu Ka Razir nyia nyiain Raina. Harusnya Ka Razir tau betapa berharganya perjuangan Raina."
"Tapi Ka Razir sungguh sungguh Zira. Gue bisa lihat dari matanya."
"Lalu mana Ka Razir yang dulu menyia nyiakan Raina?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Ranzir
Teen FictionDia Raina Alexandria. Seorang perempuan dengan seribu bahasa yang ia simpan dimulut. Bukan masa lalu yang membuat ia sekarang diam, tetapi seseorang yang telah mengambil hatinya kini membenci dirinya. **** Dia, Razir Smolither menyukai seorang cewek...