Raina Alexandria (Last Chapter)

156 7 0
                                        

Detak jantung Raina semakin bergerak dengan tak beratur.  Defibrillator yang biasanya digunakan untuk orang yang memiliki riwayat penyakit jantung itu kini sedang mencoba menganalisis irama jantung Raina.

Tepat pukul 10 malam, semua orang menangisinya.

{-}

Raina menatap sekeliling ruangan yang kini di pijaknya, terlalu gelap untuk bisa dilihat dan melangkah maju. Raina terlihat bingung, antara ingin melanjutkan langkahnya atau berdiri disini tanpa tau apa yang harus ia lakukan.

Walau kini Raina tidak bisa melihat apapun, tapi sesuatu yang membuat Raina untuk tergerak melangkah membuatnya penasaran.

Raina berhenti di depan seseorang yang duduk didepannya. Raina tak berani bertanya, karena ia tak mengetahui siapa orang di depannya.

Yang bisa Raina lihat dari orang itu adalah dia tak terlihat karena terus menunduk, ia memakai sebuah baju terus berwarna hitam dengan penutup kepala yang berwarna sama.

Hingga kemudian, orang itu berdiri, membuat Raina tersentak dan berjalan mundur.

Raina tak dapat melihat muka orang didepannya itu dengan jelas membuat dirinya penasaran.

"Pulanglah nak, masih banyak yang mengharapkanmu untuk kembali."

"Aku tak tau jalan pulang."

"Maka dari itu, cahaya ini, yang akan mengantarkanmu pulang." Ujar orang itu yang mengeluarkan cahaya dari tangannya.

"Memang aku ada dimana?"

"Kau ada diantara kehidupan nyata dan fana. Kau ada diantara manusia yang hidup dan tidak." Raina tak dapat memahami apa maksud dari perkataan yang diucapkan orang didepannya.

"Mulai sekarang, ketika kau sadar nanti hidupmu akan jauh lebih baik. Setelah semua proses kesakitan yang kau alami akan ada kebahagiaan yang kau dapatkan dan inginkan selama ini."

Setelahnya cahaya itu melingkupi Raina membuat Raina masuk kedalamnya dan kembali ke dunianya.

{-}

Raina berhasil membuka mata tepat saat cahaya itu mengantarkannya pulang. Saat Raina membuka matanya perlahan bisa Raina lihat seorang perawat kini memandangnya dengan terkejut.

Perawat itu memandangnya dengan tatapan terkejut sekaligus takjub? membuat Raina di buat bingung. Tak berapa lama perawat itu memasangkan ventilator ke hidungnya dengan cepat.

Yang dapat Raina lihat, perawat itu memencet tombol di ujung ruangan sambil berkata

"Astagaa dok, dok pasien Raina membuka mata."

Itu kata kata terakhir yang Raina dengar sebelum perawat itu menyuntikkan obat tidur padanya.

{-}

"Kamu bercandain aku ya?" Tanya Raina yang menutup pintu mobil.

"Engga. Tadi aku beneran masih di kampus." Ujar Razir menahan senyum menatap Raina memajukan bibirnya, tanda Raina kesal.

"Kamu bilang jam 3 mau jemput, tapi aku harus nunggu 1 jam buat nunggu kamu sekarang ada di depan aku."

"Jangan marah marah dong, nanti cantiknya hilang." Ujar Razir mengelus puncak kepala Raina.

"Bete aku sama kamu. Gausah pegang pegang." Ujar Raina menurunkan tangan Razir.

Razir melirik sebentar, seperti Raina memang kesal dengan dirinya karena terlalu lama menunggu.

Razir melajukan mobilnya keluar dari kampus Raina. Tetap sama seperti keadaan sebelumnya Razir berusaha melihat Raina dari kaca spion, namun rambut Raina yang terurai berhasil menghalangi penglihatan Razir.

"Bener, kamu emang seharusnya nggak nunggu aku. Selepas beberapa tahun yang lalu, kamu pantes untuk di utamakan, Alexa." Ujar Razir menepi disebuah taman yang pernah ia datangi dengan Raina.

Raina yang tadi melihat keluar jendela, terkejut. Razir membahas hal itu kembali. Perlahan Raina menoleh, menatap Razir yang menunduk.

"Tapi, ada satu doa yang nggak pernah aku lupain, Alexa. Aku pengen kamu bahagia walau bukan aku orangnya." Razir tetap berbicara, tentang apa yang terjadi di tahun sebelumnya.

Belum banyak hal yang bisa ia lakukan untuk membuat Raina bahagia.

"Namun Tuhan masih baik sama aku Lexa. Dia biarin aku tetap di samping kamu. Sekarang kamu harus tau, cowok brengsek ini butuh kamu di hidupnya." Raina terdiam, menatap Razir dengan tatapan sulit diartikan.

"Dia emang nggak seharusnya dimaafin ataupun di cintai, tapi dia sudah memberikan seluruh hidupnya sama kamu. Jadi kamu mau jadi tempat dia berpulang?" Raina menunduk, tak kuat lagi menahan hingga ia maju memeluk Razir.

"Aku m-mau. A-Aku sayang kakak." Ujar Raina sesegukan membuat Razir harus menenangkan Raina. 

"accompagnarmi fino a quando sarò vecchio?" Ujar Razir di samping telinga Raina.

Raina menangis keras dalam pelukan Razir. Jika dulu ia selalu merasa hidupnya tak berpihak padanya kini ia sadar bahwa roda kehidupan itu nyata adanya.

Tidak ada kehidupan yang selalu indah. Akan ada kebahagiaan datang ketika kesakitan melanda terlebih dahulu.

Hidup tak melulu harus di protes. Jalani, nikmati dan syukuri karena banyak hal yang bisa datang tanpa disadari.

accompagnarmi fino a quando sarò vecchio? : Temenin aku sampe aku tua ya?

{-}

Sampai berjumpa di cerita selanjutnya! 💓

RanzirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang