Dua tahun kemudian...
Disebuah tempat pemakaman yang tak jauh dari rumahnya, bisa Razir lihat ada gundukan tanah yang membuat fokusnya hanya tertuju pada gundukan itu.
Razir masih betah disini, berlama lama menatap gundukan yang masih wangi karena baru saja ia taburi bunga.
Razir tersenyum, untuk meyakini dirinya bahwa ia kuat. Ia hanya perlu mengikuti alur tuhan, menikmati setiap proses yang sudah ia lalui.
Nyatanya tuhan membuat ini semua agar Razir tau, bahwa berjuang tidak pernah salah. Jika dari perjuangan itu ada kekalahan didalamnya, maka tandanya tuhan belum mengizinkan dirinya untuk bahagia saat ini.
Razir merasa kehilangan, dimana dalam dirinya mengira bahwa dirinya masih ada didepannya. Razir bahkan belum memeluknya dan membisikkan kata bahwa Razir benar benar menyayanginya.
Andai waktu bisa berputar kembali, namun sayang kini yang ada didepannya hanya masa depan yang kini menunggunya.
{-}
"Tungguin gue Raf. Gue udah masuk didepan gerbang kampus nih." Ujar Razir yang menyetir mobil sambil berteelfonan dengan Rafi yang marah marah.
"Gue nunggu udah 1 jam di sini Zir buat nemenin lo ketemu Pak Akbar." Marah Rafi disebrang yang membuat Razir terkekeh.
Ada ada saja Rafi ini, membuat hari harinya selalu saja tertawa oleh tingkah kesal sahabatnya itu.
"Iya, ini lagi parkir mobil Raf." Razir lalu turun dari mobil dan pergi ketempat dimana Rafi berada.
"Lama lo, mending gue pergi ama Zira daripada nungguin lo yang nggak ada kejelasan." Ujar Rafi mencak mencak saat melihat Razir.
"Iya Raf, habis ini lo mau pergi sama Zira kemanapun silahkan." Razir lalu mengetuk pintu yang berada didepannya.
Saat ada suruhan masuk barulah mereka memasuki ruangan itu. Razir maju lebih dulu, disusul Rafi dibelakangnya.
"Siang pak." Ujar Razir yang duduk dihadapan Pak Akbar.
"Razir? Ada apa?" Tanya Pak Akbar yang memakai kacamatanya saat melihat Razir, anak didiknya berada didepannya.
"Sama mau nanya tentang tugas yang waktu itu sempat saya kerjakan, tapi kata Fadli ada yang salah."
"Oh itu, iya betul kamu ada yang salah." Ujar Pak Akbar menjelaskan.
Yang dilakukan Rafi hanya diam saja disamping Rafi, karena jurusan mereka beda, Rafi jadi tak bisa membantu banyak apa yang sedang Razir kerjakan.
"Seperti itu." Ujar Pak Akbar diakhir kalimatnya yang bisa didengar Rafi.
"Baik pak, sepertinya saya harus memperbaiki tugas ini." Ujar Razir membawa tugasnya ditangan kanan.
Razir serta Rafi lalu permisi dari hadapan Pak Akbar karena sudah mengganggu waktunya.
"Gimana Zir? Mau langsung pulang?" Tanya Rafi saat mereka berdua berjalan kearah parkiran.
"Iya."
"Yaudah, gue duluan ya." Ujar Rafi bertosan dengan Razir lalu berlalu lebih dulu menghampiri mobilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ranzir
Fiksi RemajaDia Raina Alexandria. Seorang perempuan dengan seribu bahasa yang ia simpan dimulut. Bukan masa lalu yang membuat ia sekarang diam, tetapi seseorang yang telah mengambil hatinya kini membenci dirinya. **** Dia, Razir Smolither menyukai seorang cewek...
