Minggu pagi, Lily pergi ke pasar tradisional dan ia tidak sengaja bertemu dengan pasangan itu lagi, si pelayan dan si gadis serba hitam yang ia temui di cafetaria.
Pelayan tampan itu bernama Lee Jinhyuk dan dia orang Korea, tapi sekarang sudah jadi warga negara Indonesia. Sementara pacarnya bernama Mocca dan dia adalah seorang penulis novel horror yang digilai adik-adiknya.
"Revo, anaknya Revan ulang tahun, jadi kita mau bikin pesta kecil-kecilan. Yang datang juga cuma kita dan Revan sekeluarga. Mbak datang aja, sekalian bantu masak." Tawar Mocca
"Beneran nggak apa-apa nih. Aku kan orang luar." Lily berusaha menolak.
"Nggak pa-pa mbak. Revo juga pasti senang main lagi sama mbak Lily." Jinhyuk menimpali ucapan Mocca.
Lily akhirnya setuju dan mengikuti mereka ke rumah Jinhyuk.
"Mbak Mocca nggak ikut?"tanya Lily ketika Mocca turun di depan gedung penerbitan.
"Mocca mau merevisi novelnya, 2 jam lagi baru selesai. Kita ke rumah duluan aja. Takut bahan makanannya bau." Jelas Jinhyuk.
Lily mengangguk dan mereka segera pergi kerumah Jinhyuk yang ternyata adalah apartemen mewah.
"Kami sebenarnya baru pindah 2 bulan yang lalu, karena saya pindah tugas disini selama 1 tahun. Jadi apartemennya masih kosong." Pria itu menjelaskan sial apartemennya yang minim perabotan.
"Aslinya tinggal di mana?"
"Di Bali. Mocca, Revan dan istrinya juga tinggal disana. Kebetulan mereka baru buka cabang cafetaria disini, mereka juga yang punya apartemen ini. Saya cuma numpang."
Mereka berdua asyik mengobrol tentang kehidupan Jinhyuk dan Mocca di Bali, juga tentang Revo dan keluarganya yang punya cafetaria di berbagai daerah.
Revan sekeluarga yang habis jalan-jalan diJakarta akhirnya pulang menginap di apartemen itu. Dan pesta diadakan jam 8 malam.
Ayam bakar, ikan bakar, udang gala dan kepiting saos Padang. malam itu benar-benar membuat Lily merasa kekenyangan karena semua itu adalah makanan favoritnya dan ia juga sangat senang bisa menunjukkan keahliannya memasak.
"Sister, gimana kalau elo berhenti aja kerja sama majikan lo jadi babysitter. Lo beneran nyia-yiain bakat tau nggak. Gue naikin deh gaji lo. Bilang aja minta berapa? Lo jadi koki di cafetaria gue aja." Rere yang sepertinya memang wanita yang ceplas-ceplos dan cepat akrab dengan orang lain, mengutarakan pendapatnya setelah mencicipi masakan Lily.
"Pengen banget sih!" Lily menjawab jujur. "Tapi mesti bayar denda 100 juta. Lo mau bayarin?"
Begitu mendengar hal itu raut wajah Rere yang tadi ceria langsung melongo. "Mahal amat!"
"Iya dan gue dikontrak 2 tahun. Libur juga cuma minggu doang."
Entah kenapa Lily merasa nyaman berbicara dengan mereka. Padahal sebelumnya gadis itu tak pernah mengatakan apapun tentang dirinya pada orang lain, apalagi untuk orang yang baru dikenalnya.
"Dua tahun, itu tinggal berapa bulan lagi?" Tanya Revan kepo.
"Baru juga jalan 1 bulan, masih 1 tahun 11 bulan lagi."
"Oke, kalau gitu masih sempat dong gue ngerombak cafetaria gue. Jinhyuk pintar bikin masakan Korea dan elo bisa bikin masakan Indonesia. Gue rencananya, mau ngerombak cafetaria ini jadi restoran. Kalian berdua bisa jadi koki utamanya. Gimana mau nggak?"
Jinhyuk dan Lily saling pandang. "Aku nggak mungkin tinggal disini sendirian, kalau Mocca nggak mau ikut pindah. Aku akan tetap kerja dan tinggal di Bali." Ucap pria itu.
Mocca yang tadi asyik menyuapi Revo makan udang, menatap pacarnya itu datar. "Idup loe, itu elo yang atur, kenapa bawa-bawa gue."
Jinhyuk tersenyum dan membersikan sisa makanan disudut bibir Mocca. "Aku nggak mungkin ninggalin tunangan ku yang manis ini sendirian, terlalu banyak predator disana."
"....."
Hellooo.... Masih ada yang jomblo disini..T-T..
Lily menusuk udang didepannya dengan sedikit perasaan iri. "Aku juga kayaknya nggak bisa. Rencananya selesai kontrak kerja ini, aku pengen bikin cafetaria sendiri di Palembang, kecuali...kalau kalian mau berinvestasi, aku nggak keberatan menjalin kerja sama, hahaha~"
"Ide yang bagus juga. Kita juga punya rencana buka cafetaria di Palembang, tapi belum ketemu lokasi yang cocok."
Lily tersenyum senang. Ini pertama kalinya ia membicarakan rencana masa depannya, dan ditanggapi dengan antusias oleh orang-orang yang memiliki kesamaan hobby dengannya.
"Kalau begitu kita tinggal membuat perjanjian kerja sama. Nanti aku kirimkan proposalnya padamu."
Setelah mendengarkan perkataan serius Revan, mereka kembali makan. Dan Lily baru pulang kerumahnya diantar Jinhyuk pukul 9 malam.
Lagi-lagi sebuah mobil mewah sudah terparkir didepan gerbang kontrakannya. Dan pria itu menatapnya dengan pandangan dingin.
"Kim Ming Kyu?"
"....."
"Ah, mungkin kau lupa. Kita berada di universitas yang sama, dan kita satu angkatan, hanya beda jurusan saja. Kita juga berada dalam satu kelompok yang sama ketika ada acara liburan bersama di kampus. Aku...cukup tau tentangmu."
"Oh."
"....."
Lily merasa sangat canggung. Jinhyuk sangat friendly sementara pria itu bersikap sangat dingin. Dan Lily juga mengerutkan dahi bingung karena mendengar Jinhyuk bicara dalam bahasa Korea.
"Kenapa kalian bisa bersama?"
"Kami...baru saja makan bersama..."Jinhyuk menoleh ke arah Lily yang tampak kebingungan lalu ia tersenyum. "Kamu nggak ngerti bahasa Korea?" Tanya pria itu dan Lily menggeleng.
"Tadi dia tanya....
Varo, "Istriku ayo pulang!"
Lily, "Ha??"
Jinhyuk, "...."
Varo membuka pintu mobil dan suara kecil ceria terdengar dari sana. "Mama~mama~"
"...."
🌸🌸🌸
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Cupid (End)
RomancePesan sebelum membaca atau mengkritik karya orang lain : tolong ya, berikan krisan yang bermanfaat, terutama kalau yang baca adalah sesama penulis. Judul maupun isi cerita, adalah 100% dari pemikiran sendiri, nggak copas, nggak nyontek. Author sela...
